Misi Pertama : SunMor Yogyakarta – Tentang Venus vs Mars

Sebagai perempuan, hal yang menyenangkan tentu saja belanja. Dalam hal ini, kurasa aku sangat perempuan. 😀 Jadilah setelah berkali-kali gagal ke pasar pagi UGM yang terkenal itu, pagi hari tanggal 12 Februari, aku memaksakan diri, harus dan wajib ke SunMor. Yep, ini kujadikan sebagai misi pertama dalam Tantangan 21 Hari melakukan hal baru. Sepertinya belum afdol jadi orang Jogja kalau belum ke SunMor. #alesan 😀

Aku dan sebut saja mamas Cancer, pergi ke SunMor agak siang. Sekitar pukul 10an. Kami ke sana dalam kondisi kelaparan, jadilah tujuan utama yang dicari adalah makanan untuk sarapan. Sarapan yang kesiangan. Kami memutuskan masuk ke warung bertenda merah, di antara deretan warung yang menghias SunMor saat itu. Aku memesan nasi kuning, dan mamas cancer memesan opor ayam. Kami makan lahap diselingi pengamen berbagai jenis, mulai dari banci hingga mahasiswa kuliahan.

Kami melewati penjual roti maryam yang antriannya panjang, saat aku bertanya kepada mamas cancer, “Apa yang kau pikirkan saat melihat ini semua?” Aku menunjuk SunMor dan keramaiannya.

“Biasa aja. Ribet.” Ia menjawab dengan cepat tanpa berpikir.

“Oh begitukah sunmor dalam benak lelaki?” batinku seraya tertawa. Hell yeah, mungkin wanita disebut makhluk venus, dan lelaki adalah mars, sebagai penanda perbedaan, benar adanya. Kami sangat berbeda.

Aku, pertama kali melihat SunMor, menyaksikan hamparan baju, tas, jilbab, aneka makeup, jajan, pernak-pernik, dan lainnya, langsung dibanjiri semangat. Rasa-rasanya ingin membeli semua yang ada kalau saja duit di dompet unlimited. Haha…

Namun pada akhirnya, kami tak mengelilingi setiap bagian SunMor. Hanya separuh yang kami jelajahi. Usai melihat jaket dan sepatu, aku iseng bertanya kepada mamas cancer. “Habis ini mau ke mana?” Kutanya.

“Terserah, aku nggak ada acara.” Ia membalas santai.

“Um, mau lanjut ke sana?” aku menunjuk bagian SunMor yang belum kami jelajahi. Dari belokan usai jembatan.

“Nggak.” Ia membalas dengan cepat lagi. Rupanya kata terserah yang tak berarti benar-benar terserah, tak hanya dimiliki makhluk dari venus. Kami pun segera menuju parkiran motor yang mencarinya butuh perjuangan sendiri, penuh di mana-mana.

Dalam perjalanan, kami memutuskan berbelok ke Togamas di daerah Kotabaru. Alasannya, di samping Togamas ada kedai minum, tepat di saat sedang kehausan. Walau pada akhirnya, kami justru menghabiskan lebih banyak waktu di dalam toko buku.

Aku asik di rak penuh novel, sedang mamas cancer sibuk di wilayah non fiksi. Aku sedang bingung hendak membeli seri kedua buku milik Eric Weiner atau Matahari milik Tere Liye yang sudah kubaca seri satu dan duanya, kala aku menyadari sudah memakan waktu yang cukup lama di sana.

Kuputuskan menghampiri mamas cancer yang masih di depan rak buku-buku komputer.

“Aku agak bingung nih,” kubilang. “Lama ya?”

“Nggak apa-apa kok lama kalau di sini. Aku lebih betah di sini dari pada SunMor.” ujarnya ringan, lalu kembali sibuk memilih bukunya.

Jadilah, hari itu kami berakhir dengan dua buah novel dan dua buah buku komputer. Begitulah, selera baca kami pun berbeda.

Advertisements

Misi nomer 0 : Pasar Njati dan tenggang rasa yang mulai hilang

“Hal baru apa yang sudah kau lakukan hari ini?”

Pertanyaan di atas nyaris selalu dilontarkan oleh suami saban pulang kerja. Ia bahkan masih mengenakan seragam kantor dan menenteng tas di pundaknya. Barangkali ia jengah mendapati istrinya masih asik di depan televisi, atau hanya ‘jualan semangka’ seharian. Jualan semangka adalah istilah yang berarti gelundungan atau bermalas-malasan di tempat tidur dalam jangka waktu lama. Ya, istilah yang dibuatnya untuk mengolokku.

Yogyakarta, kota yang penuh dengan seniman ini menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun lalu. Sudah dua bulan lebih sedikit, kalau dihitung. Kukira, waktu berjalan terlalu cepat. Dalam dua bulan lebih yang kuanggap singkat ini, aku ternyata belum melakukan apa pun. Aku masih betah mengurung diri di rumah, menonton drama, anime, dan musik video (MV), atau main game dimulai dari matahari terbit hingga tergelincir dan menghilang di ujung barat.

Ah ya, aku sangat produktif!!!

Setelah kupikir lagi, hari-hariku benar-benar menyedihkan! Aku bahkan tidak berbaur dengan baik, dengan tetangga. Aku terlalu asik menikmati dunia baru bernama : pengangguran ibu rumah tangga. Astaga!

Tapi tolong jangan salah paham, ini bukan berarti aku antisosial ya. Setidaknya walau satu dua orang, aku tahu siapa tetanggaku dan sesekali menyapa saat hendak keluar rumah untuk membeli makan. Oh okey, aku memang belum masak sendiri. Tetapi beberapa hari lagi aku berencana memasak sendiri layaknya ibu rumah tangga yang lain kok. Um, soal masak memasak ini out of topic deh kayaknya, bahas kapan-kapan aja ya. 🙂

Omong-omong soal tetangga, aku punya tetangga yang kukira cukuplah kalau kami disebut akrab. Orangnya periang. Ramah, dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Usianya kutaksir empat puluhan ke atas. Wanita berambut pendek ini kita sebut saja, Bu Lesita. Hobinya masak, dan beliau juga sering dapat pesanan makan dari tetangga lain di perumahan yang juga malas masak sepertiku.

Dari seringnya pesan makan kepada bu Lesita inilah yang membuat kami lebih akrab. Terlebih beliau sepertiku, 24 jam di rumah. Dari obrolan kami tentang hal hal remeh temeh, gosip tak jelas, hingga sinetron yang tak kumengerti, akhirnya sampailah pada titik di mana Bu Lesita bercerita tentang hidupnya. Kisahnya.

Untuk orang yang kadar kepo-nya hanya 20% sepertiku, aku tidak pernah tahu kalau Bu Lesita hanya tinggal dengan kedua anaknya. Kupikir keluarganya normal, dan suaminya berangkat kerja pagi pulang malam, hingga aku tak bernah bersua. Sesimple itu kehidupan Bu Lesita dalam benakku. Seorang ibu rumah tangga yang suka memasak dengan anak-anak yang sudah besar, dan mereka bahagia.

Sayangnya aku salah. Bu Lesita, di suatu sore yang basah bercerita dengan gurat sedih di wajah. Suaminya udah pergi, kawin lagi. Suami bu Lesita yang tak kutanya namanya itu, dari awal memang suka main serong. Berkali-kali, ditemani kesabaran Bu Lesita akan tingkahnya. Hingga klimaks, suami bu Lesita pilih meninggalkannya, menikahi janda beranak tiga.

Tetapi jangan salah, beliau wanita strong! Kalau kau bertemu dengannya, kau hanya akan menemukan keceriaan, tawa, dan suaranya yang lumayan keras. Ya, beliau berbeda jauh dengan remaja alay yang ditinggal pacarnya lalu gagal move on sih. (Heh?!)

Nah, pagi kemarin untuk pertama kalinya, sejak aku menginjakkan kaki di bumi jogja, aku pergi ke pasar tradisional. Bu Lesita mengajakku ke pasar Njati. Letaknya di pinggir Jalan Magelang, sebelum Jombor. Aku tidak tahu persis di mana, karena kucari di google maps, pasar Njati tak ada. Google maps ternyata kalau gaul sama Bu Lesita. Hahaha… Terlebih, aku diajakknya lewat jalan ‘dalam’ saat menuju ke sana.

Kenapa tiba-tiba aku ke pasar? Tentu saja ada alasannya. Sore hari kemarin, akan ada pertemuan warga perumahan di tempatku. Tak mungkin kan kubiarkan mereka begitu saja? Jadilah aku minta tolong Bu Lesita utuk menyiapkan aneka hidangan yang sekiranya pantas disajikan. Kukira itu hari yang sempurna. Hari di mana aku tak hanya malas-malasan. Aku bisa mematahkan ejekan menyebalkan suamiku. Kukira.

Namun, semuanya berubah saat negara apa menyerang. Okey itu mainstream. Hari itu berubah menjadi hari yang tak sempurna, kala pertemuan warga yang ditunggu-tunggu, yang membuat sibuk sejak pagi hari, berubah menjadi pertemuan yang buruk.

Di tempat kalian tinggal pasti ada kan, orang yang berbeda? Termasuk berbeda dari segi ekonomi? Nah, aku tak mengerti dengan jalan pikiran warga di sini. Mereka seakan tak paham soal Bhineka Tunggal Ika, eh, perbedaan maksudnya.

Hal menyebalkan pertama, kenapa yang dibahas dipertemuan ternyata hanya berputar soal duit? Dari iuran sampah, iuran kas, arisan iuran aspal. Tak ada obrolan lain, semacam bikin pengajian, bikin kegiatan apa gitu, ronda atau apa pun. Blasss. Nihil.

Dan masalah soal duit emang sensitif. Lebih sensitif dari emak-emak PMS lho, serius! Bahasan ‘dana jalan aspal’ pun mengambil alih 70% isi obrolan pertemuan. Singkat cerita, di antara warga perumahan, yang belum bayar cukup banyak adalah Bu Lesita. Dan beberapa, ah bukan, cukup banyak warga yang keberatan dengan hal itu. Katanya mereka keberatan karena karena mereka yang iuran sedang ada yang nggak iuran, pas ngomong ini kelihatan banget lho nyindir Bu Lesita.

Warga khawatir kelak kalau mau bikin jalan aspal, dan Bu Lesita baru bayar sedikit, beliau akan kurang banyak dari jumlah total iuran. Dan mereka takut Bu Lesita nggak bisa bayar kekurangnnya kalau nggak dicicil RP. 50.000, perbulan seperti yang lain.

“Saya akan bayar kalau pas punya rejeki. Tapi dulu kan saya pernah bilang 50.000 buat iuran aspal saja saya keberatan, tapi saya kalah suara. Kalau pas jalan aspalnya rusak dan mau buat lagi, saya pasti bayar. Saya ya nggak akan kabur, rumah saya di situ. Saya nggak mungkin toh, nggak bayar dan ngebiarin jalan depan rumah saya bolong. Nggak diaspal sendiri. Saya ya malu. Tapi sekarang saya belum punya rejeki.” Itu jawaban Bu Lesita kala orang-orang mendesak, dan mulai menyindir dengan cukup kasar.

Hening sejenak usai Bu Lesita berkata demikian. Kupikir usai. Warga sadar, kalau mereka keterlaluan. Tetapi aku salah ternyata. Setelah membahas dana aspal, di penghujung pertemuan mereka membahas tempat untuk pertemuan berikutnya. Dan mereka mendesak Bu Lesita untuk harus mau menjadi ‘tempat penerima’. Sampai-sampai Bu Lesita harus mengulang kembali kalimat yang memilukan. “Kalau saya ada rejeki, iya di tempat saya.” Yang dengan sangat buruknya dibalas. “Harus lho bu, kalau bisa jangan ditunda lagi, biar urut.”

Oh Tuhan, biarkan aku pingsan sejenak.

Single Parent, kedua anaknya masih kuliah, mantan suami hanya bantu biaya kuliah anaknya dua juta sebulan, itu pun kalau tak lupa, Bu Lesita tak kerja pula, dapat uang dari mana? Kok kejam?

Well ya, awalnya kegiatan ke Pasar Njati bersama Bu Lesita ini mau kujadikan misi pertama dari “tantangan 21 hari melakukan hal baru”. Yap, malam sebelumnya, Anggi, bloger rajin yang punya anak ganteng bernama Zahir mengajak anak-anak di grup ikut tantangan 21 Hari melakukan hal baru atau apalah judulnya, aku lupa. Yang jelas, dalam 21 hari itu, kita melakukan hal-hal baru, terserah kita. Aku merasa, ini sangat cocok untuk makhluk pemalas yang jarang keluar rumah sepertiku, makanya i’m join!

Tapi karena kejadian hari ini berubah menjadi curhatan, maka aku putuskan ini adalah misi ke 0, tak terhitung. Besok, baru kita mulai hal baru sesuangguhnya!

Eh, besok mau ngapain ya?

Dinding-dinding

558021d024a9d5005c8b4567 sumber gambar

Kau tahu kawan, manusia modern itu adalah sekumpulan orang yang terkurung dalam bilik berukur satu kali satu meter. Semakin modern manusia, ia akan terjerumus dalam bilik dengan dinding yang makin sempit. Sumpek, mepet, dan ketat!

Sialnya, aku adalah salah satu jenis manusia yang mengaku modern itu! Manusia yang terjebak dalam dinding-dinding tanpa pintu dan jendela.

Dulu—duluuuu sekali kala hidupku masih jauh dari peradaban, duniaku justru tak berbatas. Kala belum ada barang-barang berlabel ‘pintar’ beredar. Bahkan untuk menonton televisi dengan tayangan yang itu-itu saja, aku harus menunggu aki yang diisi ulang di ‘negara’ tetangga selama dua hari. Ah ya, kalian kan manusia modern. Mana tahu benda yang dulu kusebut aki. Aki bukan kakek-kakek. Aki itu accu, sumber listrik untuk televisi jadul yang gagal diet. *plak!*

Dulu itu duniaku masih indah sekali. Sungguh. Sekalipun aku tidak pernah melakukan perjalanan ala ‘My Trip My Adventure’ dan kawan-kawannya. Aku tidak pernah merasa frustrasi, meski aku tak memegang hape pintar dan meributkan jaringan serta batere lowbat. Aku lebih sering merasa bahagia, meski tak punya dompet, bahkan dengan saku yang selalu kosong.

Sungguh, kebahagiaan DULU terasa begitu sederhana.

Hei, kau pasti berpikir aku tipikal orang yang sulit move on. Atau bahkan berpikir kalau otakku mulai terjepit dan aku mulai stress dengan mengocehkan hal-hal tak penting. Cukup! Kalian benar kok.

Kenyataannnya, otakku belakangan terasa sempit sekali. Seiring bertambahnya usia, seiring berubahnya zaman, dinding-dinding besar mulai bertambah tinggi. Persis seperti Jakarta abad ini. Penuh gedung pencakar langit, gerah, panas, dan macet. Ya, otakku seakan mandeg. Tidak bisa lagi membuat hormon pembuat kebahagiaan dengan kilat.

Padahal dulu, aku bisa mendapat kebahagiaan dengan begitu mudah. Kebahagiaan primitif, namun kenangannya tak bisa sirna hingga kini.

Usiaku baru enam tahun kala aku menemukannya. Sebuah harta karun yang sangat berharga. Tolong jangan berpikir itu adalah setumpuk emas, rumah megah, arca purba dan sebangsannya. Dulu aku belum mengenal batasan semacam itu untuk kata “berharga”.

Yang kutemukan itu, hanya sebuah tempat—ah bukan, lebih tepatnya sebuah genangan air yang hanya muncul sesusai hujan. Dari sekumpulan air di atap yang jatuh bersamaan dalam jumlah besar. Genangan itu berbentuk elips tidak sempurna berdinding tanah yang dipenuhi lumut dan kerikil serta batu seukuran kepalan tangan.

Setelah hujan reda, aku pasti bergegas keluar rumah menuju genangan itu. Bahkan jika gerimis masih turun, dan kabut tebal menyelimuti, aku merasa lebih senang. Aku segera menyibukan diri di bibir genangan air yang airnya sangat jernih itu dengan beragam perlengkapan: kayu, batu, tanah, pasir, dan bunga. Lalu kubangun sebuah istana dan keluarga bahagia. Bibir genangan yang bagi orang terlihat seperti sampah, saat itu berubah lebih indah dari pantai di pulau Bali, Lombok, atau bahkan Hawaii.

Air jernih di genangan yang menampilkan pantulan pasir sisa bangunan rumah dan kerikil serta lumut, berubah menjadi lebih menakjubkan dari Bunaken, Raja Ampat, bahkan Barracuda. Dan liburanku aku terus berlanjut hingga ibu datang, menyeretku pulang dalam kondisi yang sudah basah kuyup. Aku tidak marah, tentu. Aku sangat bahagia, seakan baru pulang liburan ke tempat yang sangat indah.

Sayang sekali, kini aku tidak pernah lagi menemukan genangan itu. Mataku terfokus pada dinding-dinding yang telah kubangun tanpa sadar dalam waktu enam tahun, ditambah tiga tahun, ditambah tiga tahun lagi, lalu makin sempurna dengan tambahan tahun berikutnya.

Ah, aku rindu kebahagian sesegar udara selepas hujan itu. Kapan aku menemukannya kembali?

Jika lidah setajam pedang. Maka, tulisan mungkin lebih tajam dari parang.

Kau gores sekali, luka kawan. Perih. Ah, tapi mungkin kau tak sengaja.

Kau gores lagi. Ah, berdarah. Kucoba diam. Kutahan, atas nama persahabatan. Penghormatan.

Tapi saat kau gores untuk kesekian kalinya, luka itu telah bernanah. Sakit, kawan!

#LagiMalasDiam #BukanPelajaranKMB

View on Path

Gadis Di Malam 101

Orang menjulukinya sebagai penunggu sejati. Walau sejatinya, ia hanyalah pria biasa berumur dua puluh tujuh tahun. Bedanya, ia kini terjebak dalam ruang dan waktu yang mengikatnya pada sebuah tragedi. Sebuah petaka yang memaksanya terus menunggu seorang gadis. Sekalipun setelah seratus malam berlalu, bayang gadis itu saja, bahkan tidak pernah nampak.

Menunggu bukannya tidak membuatnya lelah. Matanya yang sayu dan tubuhnya yang semakin kurus dari waktu ke waktu adalah bukti kalau dirinya terkurung gundah. Ia hampir frustrasi, ingin marah. Sayangnya, tidak ada sasaran melampiaskan masalah. Maka, walau waktu kepergian Cinderella telah lama berlalu, ia tetap tidak peduli. Pria itu berdiri di lorong yang sepi, seorang diri. Baginya, tempat ini menjadi satu-satunya harapan.

Kenzhie, adiknya, pernah berkata kalau ia bertemu dengan gadis itu di tempat ini untuk pertama dan terakhir kali.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Sebuah pertanyaan bernada halus menyapanya.

Pria itu menengok dengan cepat. Berharap itu menjadi suara orang yang sangat ia rindukan. Sayangnya, harapannya belum di dengar oleh langit. Di hadapannya, seraut wajah pucat dengan rambut ikal berwarna pirang memasang senyum cerah. Gadis asing. Bukan gadis yang ditunggunya itu.

Pria itu pilih membalas senyum—yang sedikit dipaksakan, tanpa memberikan jawaban. Gadis di hadapannya hanyalah orang asing yang tidak tahu masalahnya. Tidak penting baginya untuk sekedar menjawab pertanyaan.

“Kupikir setiap manusia memiliki alasan melakukan sesuatu, pun demikian denganmu.” Gadis itu membuka suara kembali setelah jeda semenit. Tangannya bergerak memilin rambut bergelombang pirangnya tanpa alasan. “Tapi, menunggu dalam diam adalah hal yang konyol.”

Pria itu menoleh kembali dan memberikan tatapan tidak suka pada gadis itu. Ia baru sadar, kalau gadis itu memiliki mata hazel yang terlihat magis. Manis, namun seolah menyimpan banyak misteri. Sayangnya, walau gadis itu benar-benar menarik dengan wajah uniknya yang berbentuk bulat telur, pria itu tetap tidak ingin membagi kisah apa pun dengannya. Terlebih setelah gadis itu mengatai kalau dirinya konyol.

“Aku sering melihatmu muncul di tempat ini. Di waktu yang—seharusnya janggal untuk beraktivitas.” Gadis itu kembali berkomentar, tanpa mempedulikan tatapan pria itu. Tangannya masih asyik memilin rambut. Sepertinya tanganya memiliki kebiasaan untuk terus bergerak saat berkata-kata.

“Lalu, apa yang dilakukan seorang gadis muda pada jam segini—di tempat ini?” Pria itu menyindir. Ia sungguh malas membagi kisah yang terlalu berat ini. Kisah ini menyimpan lipatan dosa yang tidak terhitung jumlahnya. Dosanya. Dan orang yang mendengarnya pasti akan langsung angkat kaki.

Gadis itu masih diam dengan senyum, seolah apa yang dikatakan pria itu dengan nada sinis tidak mengganggunya.

“Apa kau bekerja di sini?” Pria itu bertanya lagi pada akhirnya. Sejujurnya sudah beberapa kali berurusan dengan petugas dan pekerja di tempat ini. Itu hal menyebalkan yang paling ia hindari.

“Apa aku terlihat seperti pekerja di sini?” Gadis itu justru balik bertanya.

Pria itu memandang gadis bermata hazel yang kini sedang memutar-mutar hiasan pita pinggang gaun selututnya, dengan penuh pertimbangan. Gadis itu hanya mengenakan terusan sederhana berwarna putih. Kakinya yang kurus terbungkus flatshoes mungil berwarna gading. “Kau tidak bekerja di sini.” Pria itu menyatakan kesimpulannya. “Jadi, kau pasien yang di rawat di sini?”

Gadis itu tertawa pelan. “Apa aku terlihat sedang sakit sekarang?”

Pria itu mendengus sinis. “Kalaupun kau tak sakit, ini bukan waktu terbaik untuk keluyuran. Seharusnya kau sedang terlelap.”

“Aku akan menghargai saran itu, kalau orang yang mengatakannya padaku sedang tidur nyenyak.” Gadis itu membalas telak. “Kau tidak seharusnya mengkritik orang lain saat kau melakukan hal sama, bukan?”

“Aku sedang menunggu seseorang. Bukan keluyuran.”

“Di tempat ini?” Gadis itu bertanya—yang lagi-lagi sambil memilin rambut. Kepalanya berputar melihat kanan kiri yang terasa sunyi. Lorong-lorong panjang bercat putih yang disinari cahaya remang menjadi pemandangan utama. “Menunggu siapa?”

Pria itu menghembuskan napas berat. Tatapannya jatuh pada pepohonan yang kini terlihat seperti bayangan raksasa di tengah taman. Seram. Bayangan itu mengingatkannya pada bayangan gelap yang memisahkan jarak antara dirinya dan gadis yang ia tunggu. Bayang kenyataan sekelam black hole.

“Menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang lagi, malam ini,” pria itu berkata dengan nada sedih. “Ia sudah pergi terlalu jauh.”

“Tapi kau memutuskan tetap menunggunya?”

“Aku harus minta maaf. Aku yang membuatnya pergi. Aku ingin menebusnya.” Pria itu menghentikan kalimatnya saat ia menyadari sudah bercerita terlalu banyak pada orang asing. “Sudahlah. Kau tak akan mengerti.”

Gadis itu tertawa lagi. Mata hazel-nya tertutup dan membuat pipinya merekah sempurna. “Bukankah setiap orang yang datang memang harus pergi suatu hari? Kupikir itu hal biasa. Kau datang, lalu kau pergi. Ada yang lahir, lalu ada yang mati. Hidup sesederhana itu kan?”

“Tapi bagimana kalau kepergiannya adalah kesalahan? Bagaimana kalau kepergian orang itu tidak seharusnya terjadi?” Pria itu berkata sedikit emosi. “Gadis itu tidak akan mati—kalau bukan karena ulahku. Ini semua salahku.”

Tangan gadis bermata hazel yang sibuk memilin aneka benda berhenti di udara. Ia menengok ke arah pria itu, membiarkan padangan mereka bertumbukan.

“Ya, gadis yang kutunggu sudah tak ada lagi di dunia ini.” Sang pria menjawab pertanyaan yang keluar tanpa kata dari mata hazel itu dengan singkat.

Ada jeda sebentar usai pria itu memaparkan kebenarannya. Fakta bahwa ia menunggu seseorang dari alam baka. Pria itu membiarkan si gadis pemilin terjebak dalam bingung. Seperti yang sudah-sudah, jika ia mengatakan kebenaran ini pada orang asing—yang kebetulan menyapanya, hanya ada dua jawaban yang ia dapati: orang itu akan segera meninggalkannya, atau memanggil petugas keamanan.

Tebakannya salah. Gadis berambut pirang itu malah kembali mengeluarkan gerakan andalannya, lalu berujar ringan. “Kupikir seseorang yang kau tunggu itu adalah orang yang sangat berarti.”

Pria itu mengangguk pelan. “Dia adalah gadis yang sangat baik hati. Kelembutannya mejadi kekuatan yang mengurung monster dalam kepalaku.” Ia berkata dengan nada berat. “Tapi, dia memilih orang lain—bukan aku, dan itu membuatku marah. Aku lepas kontrol dan membiarkan monster itu lepas lagi. Dan itu membuatnya pergi untuk selamanya…”

“Jika dia orang baik, kupikir kau tidak perlu khawatir.” Gadis itu menyela. “Orang yang baik bisa mati. Tapi kebaikannya tidak akan pernah mati—dan ada selalu bersamamu.”

Pria itu tersenyum tulus untuk pertama kalinya pada gadis pemilin itu. “Kau pandai berkata-kata,” pujinya jujur. “Andai aku sepertimu. Aku ingin meminta maaf padanya…”

“Pada orang yang kau tunggu?”

Pria itu mengangguk.

“Kalau begitu, aku datang mewakilinya memaafkanmu.” Kali ini, gadis itu menyodorkan tangannya pada pria itu.

Pria itu tidak membalas uluran tangannya dan justru menatap gadis itu tidak mengerti.

Gadis itu menarik tangan tidak terbalas, lalu kembali memasang senyum ceria. “Aku harus pergi sekarang,” ujarnya.

“Apa?” Pria itu kaget. “Kenapa tiba-tiba?”

“Setiap ada pertemuan selalu ada perpisahan bukan?” Gadis itu berkata di sela tawa. Senyumnya terlihat semakin lebar.

“Lalu, apa kita akan bertemu lagi?”

“Mungkin—,” ujarnya ringan seraya berbalik dengan gerakan cepat. Ia terlalu sembrono dengan berlari begitu saja, hingga menjatuhkan sesuatu.

Saat tubuh mungil itu hampir mencapai ujung lorong, tiba-tiba ia berbalik dan melambaikan tangan. “Sampai jumpa, Radhit!” teriaknya pada pria yang sedang memungut barang yang gadis itu jatuhkan.

Pria itu terkejut mendapati gadis berwajah asing itu mengetahui namanya. Seingatnya, sepanjang obrolan mereka, tidak ada satupun yang sempat memperkenalkan diri. Baik dirinya maupun gadis bermata hazel itu—oh tunggu! Pria itu baru menyadari kalau gadis pemilin itu menjatuhkan sebuah kartu identitas.

Ia balik kartu di tangan, dan matanya melotot lebar mendapati nama yang tercetak di sana: RENATA. Nama gadis yang ia tunggu. Bedanya, Renata-nya tidak seperti foto itu. Renatanya tidak memiliki mata hazel ataupun rambut ikal dan pirang. Berbeda dengan foto gadis yang menemuinya di malam keseratus satu ini.

“Siapa sebenarnya gadis itu?” Ia hanya bisa bertanya pada diri sendiri.

Fajar hampir menyingsing kala pria itu berjalan pelan menyusuri ubin putih sambil menata hati dan pikirannya. Ia tidak fokus, gundah gulana mengambil alih kendali tubuhnya. Pemuda itu bahkan tidak sadar,saat ia berpapasan dengan segerombolan perawat berseragam putih yang sedang membawa brankard.

Di sana, di atas brankard, terbujur seraut wajah cantik yang tidak lagi bernapas. Gadis bermata hazel dengan rambut pirang.

***

Weirdooo Day

Hari yang aneh untuk liburan!

Hari sabtu, weekend, malam minggu, malam galau untuk para jomblo, atau hari apa pun kau ingin menyebutnya, aku tak peduli.

Aku hanya merasa, hari ini aneh. Itu saja.

Pagi ini, aku terbagun dengan sangat buruk. Malas beranjak dari tempat tidur, loyo, dan berakhir dengan memanjakan diri di depan kipas angin. Melarikan diri dari hawa kamar yang pengap.
Mungkin aku akan tergeletak tidak berdaya di kamar hingga saat ini, kalau saja aku tidak ingat harus meluncur ke samsat sebelum tutup.

Aku pun akhirnya terjebak antrean panjang bersama para penyumbang karbondioksida terbesar.

Dalam kesendirian yang terasing itulah, pikiranku malah kembali ingat sesuatu yang melintas di antara tidur dan sadarku, pagi tadi. Tentang sedikit kegelisahan tentang menulis dan akibatnya.

Aku lupa sejak kapan aku tercebur dalam dunia tulis menulis. Dan aku juga lupa, apa tujuanku menulis…

Semalam, aku membaca novel seorang senior yang memang kukoleksi lengkap novel-novelnya. Dia penulis yang hebat! Piawai membawa pembaca menyelami emosi tokoh. Membawaku pula, turut serta dalam situasi para tokoh, yang endingnya membuatku membutuhkan waktu move on dari cerita yang dibuatnya.

Itu sebuah prestasi yang hebat, kupikir. Saat penulis membawa pembaca larut dan menyatu dalam karyanya. Aku pun memimpikan itu.

Tapi masalahnya, berbeda dari novel dia sebelumnya, aku tidak merasa baik setelah membaca novelnya yang ini. Aku merasa….. seperti… novel itu hanya memberikan hal buruk.

Ha-ha… aku hanya bisa menertawakan diriku. Padahal pada dasarnya bagian dari diriku tidak semuanya baik.

Tapi novel itu cukup membuatku berpikir. Jadi, aku harus berterima kasih. Aku jadi merenungkan kira-kira efek semacam apa yang didapat pembaca dari tulisanku?
Membuatnya lebih baik, menghiburnya, atau justru…. menghancurkannya?

Oh God, aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang kuocehkan saat ini…

Tapi yasudahlah… kupikir, penulis berhak menulis apa pun yang diinginkan, disukai, atau apa pun itu… dengan resiko yang pasti ditanggung sendiri.

Dan rasanya aku harus berhenti nulis sekarang, nomor 92 dipanggil.

Terima kasih telah mengantri…

#OcehanSabtuPagiDiSaatKurangKerjaan 😀

View on Path

Antara JIL, Edi Akhiles, dan Era Cepat Saji

Bocah Kampung

Kemarin, pengunjung blog saya naik cukup tinggi, padahal saya tidak memajang tulisan baru. Usut punya usut, dari kata kunci pencarian yang masuk, akhirnya saya tahu bahwa sebagian besar pengunjung itu sedang mencari tahu tentang Edi Akhiles dan hubungannya dengan JIL (Jaringan Islam Liberal). Saya yakin mereka tidak terlalu mendapatkan jawabannya di blog saya. Tulisan saya tentang Edi Akhiles lebih banyak tentang keluarga saya di komunitas #KampusFiksi.

Jujur saja, saya iri pada orang yang bisa mengecek kebenaran sesuatu dengan hanya bermodal Google. Sungguh mudah, cepat, dan murah. Dan sepertinya, mereka tidak terlalu peduli bahwa ada banyak informasi di dunia maya yang nilainya tidak lebih dari sampah (sampah tulen, tidak bisa didaur ulang!). Orang semacam Jonru tidak hanya satu. Peminat informasi cepat saji juga bukan cuma satu. Mereka, biasanya, seperti anak burung yang hanya bisa mangap dan menunggu disuapi. Apa yang dimasukkan ke mulutnya, itulah yang ditelan.

Orang-orang yang berkunjung ke blog…

View original post 507 more words