Sebuah Pertemuan – Kisah Cinta Abu-abu putih [part one]

I’m going to crazy! Yup! That’s right

Beberapa waktu belakangan, banyak banget event lomba menulis, yang bikin aku puyeng. Masalahnya, aku teramat sangat ingin ikut semuanya. hehe…

Tetapi secara rasional, aku bakal mati berdarah-darah, kalau melakukannya. Hmm… walau sebenarnya nggak selebay itu sih… xD

Salah satu lomba yang membuatku tertarik adalah lomba #MyDream dari DivaPress.  Event ini seru! Menuliskan curhatan, Yaiy, I love curhatzz! ohoho…

Tentunya karena ini lomba, curhat yang diminta pun nggak sembarang curhat. Fokusnya adalah yang MENGINSPIRASI! Pastinya….

Otakku langsung sibuk mencari kisah. Flashback ke belakang mencari bagian yang setidaknya memiliki sebuah inspirasi bagi orang lain. Terbersit di otakku dua kejadian di antara kejadian lain yang ingin segera kutulis.

Satu kisah kukirimkan lomba, satunya lagi aku post di sini. Ini kisah pertemuanku dengan someone yang menginpirasiku sejauh ini. (Karena yang boleh diikutkan lomba cuma satu, jadi kubuat polling pemilihan pada beberapa teman – info penting)

Awalnya, aku tidak menyangka aku bertemu orang seperti dia. Sosok dengan senyum menyejukan hati dan tutur selembut  sutra. Aku sungguh tidak berlebihan menilainya. Bagiku, pertemuan ini akan menjadi kenangan yang tidak akan terhapus dari memori otakku selamanya. hehe… lebay!

Baiklah, pertemuan kami memang tidak se-unyu adegan pertemuan ala dongeng, film, atau novel yang memberi kesan mendalam. Atau bahkan klise semacam tabrakan di roman picisan. Dia hanyalah salah satu teman sekelas yang awalnya bahkan tidak kuanggap kehadirannya. Yang bahkan tidak kupilih saat dicalonkan menjadi ketua kelas.

Sungguh, tidak kusangka dia akan menjadi orang paling berarti di masa ahir kulepas seragam abu-abu putih yang dengan bangga kupakai selama kurang lebih sembilan ratus hari.

Aku dikenal sebagai ‘gadis tomboy’ saat SMA. Atau bisa dibaca dengan ‘gadis yang lari dari kenyataan’. Seorang gadis yang berusaha SOK kuat dan menampilkan sisi macho berlebihan. Yang intinya adalah, dia gadis yang sama sekali tidak menerima kenyataan dalam hidupnya.

Di masa-masa krisis inilah, para adam (sahabat-sahabatku) mulai memasukan si pemuda luar biasa—yang lebih baik kupanggil Deshine di sini (Itu nama contact-nya di hapeku—dulu), dalam persahabatan kami. Sebenarnya bukan kali pertama kami bersama atau pun bertemu. Ini hanyalah kali pertama, aku mulai benar-benar melihatnya.

Tepatnya, di suatu siang usai pulang sekolah. Kami, segerombol makhluk berseragam berjalan bersama. Dari tujuh orang di sana, tentu saja aku cewek satu-satunya. Dan menjadi bahan ejekan sekaligus sasaran bullying paling empuk. Tapi no problemo. Aku sudah terbiasa!

Hingga di antara lontaran kata-kata pembullyan semacam: aku bukan cewek atau bahkan cowok jadi-jadian, satu kata dari Deshine membuat terpana. “Buatku, elisa cewek biasa. Kupikir dia cantik, karena dia cewek.”

Dan diantara makian kalau aku tampan, jadi-jadian, dan semacamnya, kata-kata itu bagaikan oase di gersangnya kisah cinta SMA-ku. Aura pink menyebar tanpa diketahui yang lainnya. Kupikir, aku pandai berakting.

Seiring berjalannya waktu, teman-teman yang lain mulai mengendus ada ‘sesuatu’. Dan seperti yang diduga, mereka menjadi heboh karenanya. Kejahilan beredar di mana-mana. Aku dan Deshine jadi korban tentu saja. Mereka seringkali mengupayakan beragam cara agar bisa membuat kami berdua saja. Teman tidak setia! Hm, walau kuakui jauh di lubuk hatiku, aku mengucapkan terima kasih.

Sampai aku dan Deshine berada di titik tertinggi hubungan kami. Dia berhasil membuatku menangis. Bukan! Bukan karena dia adalah orang pertama yang memberiku pernyataan cinta. Aku tidak seTidak laku itu, kan? Tapi cara dia mengungkapkan cintanya membuatku teramat-sangat-sangat tersentuh.

“Aku menyukaimu, Sa. Hanya saja aku merasa ini tidak benar. Aku tahu kalau pacaran adalah haram. Tapi aku tidak bisa untuk tidak mencintaimu.”

Deshine berkata padaku sambil memegangi dadanya. Aku tahu, hatinya sakit. Aku adalah cobaan bagi keimanannya. Aku adalah orang ketiga dalam cintanya pada Tuhan.

Tapi, aku bahagia. Bagiku, itu adalah ucapan tertulus yang pernah kudengar. Cowok yang selalu kulihat sholat dhuha di masjid saat istirahat jam pertama. Sosok yang tidak pernah mau bersentuhan dengan lawan jenis. Sosok yang selalu membuatku merasa nyaman saat bersama. Tapi kupikir, pacaran bukan segalanya kan?

Aku tertawa, sekaligus menangis haru. Kukatakan padanya, bahwa kita tidak perlu pacaran. Kita cukuplah sama seperti sebelumnya. Makan es krim bersama. Belajar bersama. Kurasa itu cukup. Yang penting aku tahu dia mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.

Yah, walau aku tidak membayangkan efek berikutnya sedikit melebihi ekspektasiku. Bagaimana hebohnya anak-anak rohis yang alim dari golongannya memandangku? Seolah sebuah pertanyaan merasuk ke pikiran mereka semua. “Bagaimana bisa sosok seperti Deshine menyukai gadis sepertiku?”

Yah, aku tahu aku barbar, heboh, dan bahkan tidak punya teman cewek. Tapi, apa setidak pantas itu?

Aku mulai berubah. Bukan semacam power rangers. Aku hanya mencoba sedikit lebih cewek! Klise sih, berubah karena seorang cowok. Tapi berubah menjadi lebih baik bukanlah dosa. Aku mulai menyukai diriku. Hidupku. Ya, aku bersukur Tuhan menciptakan aku yang seperti ini.

Walau kisah kami tidak berakhir bahagia, aku tidak menyesal. Kami berpisah selepas SMA. Dia sibuk dengan duniannya, pun denganku. Jarak dan waktu—Tuhan memisahkan kita… Perpisahan bukan jalan yang indah. Menyakitkan memang. Tapi, pertemuan kami bukanlah kesalahan.

Walau kemudian, inspirasi Deshine bagiku hampir saja membuatku tersesat. Kisah ini semoga bisa kulanjutkan di bagian kedua nanti… Tapi… aku tetap tidka menyesal kok!

Dia dan cintanya, mengubah pandanganku pada dunia. Aku mencintai diriku yang sekarang. Jadi meski tidak bersama, aku sungguh bersukur ‘pernah’ mencintainya…

-To Be Continue-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s