Angel In The Rain [Review Novel London by Windry Ramadhina]

Cover LondonJudul Buku: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2013, Cetakan Ketiga
Jumlah Halaman: 330
ISBN: 978-979-70-653-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature

“Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.” 

Kalimat di atas adalah pembuka blurp yang cukup menarik. Kalimat provokatif yang seakan meyakinkan pembaca kalau mereka akan diajak jalan-jalan sama si penulis. Dan, lumayan. Novel bersampul merah ini memang nyata-nyata tidak menipu pembacanya (seperti beberapa blurp buku yang kutemui). Saat membaca London, aku merasa benar-benar ikut perjalanan Gilang ke sana.

Yap! Novel ini menceritakan tentang seorang cowok bernama Gilang yang mengejar cintanya ke London. Oh yeah, mengejar terdengar terlalu melankolis karena kenyataannya si editor itu pergi ke London atas desakan empat sahabatnya, Hyde, Dum, Dee, dan Brutus. Aku suka bagian ini, karena si tokoh tidak memiliki alasan berlebihan untuk pergi ke London (Seperti alasan klise demi cinta yang teramat mendalam di beberapa novel). Dan aku juga suka persahabatan kelimanya, termasuk nama-nama julukan yang diberikan Gilang pada sahabat-sahabatnya.

Awal membaca novel ini, aku sedikit bosan. Ceritanya terasa sangat datar. Tidak ada konflik besar yang tampak akan muncul. Konyolnya, karena bosan membaca novel ini, aku jadi ingat sama hidupku yang juga membosankan akhir-akhir ini. Bosan dalam banyak hal. Benar, aku sedang bosan menulis, membaca, bergerak, bahkan bosan menonton drama Korea. Ini agak di luar nalar. Lebay.

Well, sebelum melanjutkan review novel ini, sepertinya mendadak aku ingin curhat. Seperti yang kukatakan, aku dilanda virus bosan belakangan. Hampir saja bosan hidup. Ya walau tidak separah itu, aku benar-benar merasa tidak bergairah dalam melakukan apa pun. Semangatku sedang berada di area zero point. Membaca, menulis, menonton. Yang kukerjakan sehari-hari hanya makan, tidur, dan kerja seadanya. Ini mengerikan!

Nah, saat membaca karya kelima dari Mbak Windry ini, tiba-tiba saja aku jadi ingat setumpuk buku yang sudah kubaca. Ah, kenapa akhir-akhir ini minat bacaku menurun drastis?

Melirik tumpukkan buku, senyumku rasanya makin masam. Ada beberapa buku—banyak buku yang belum sempat kubaca. Bahkan, ada yang sudah kujanjikan pada penulisnya untuk dibikin review namun tak terlaksana hingga detik ini. Parah sekali aku!

Ooh, God! Aku pikir, aku harus mengakhiri semua ini. London melejitkan semangat baru dalam dunia tulis menulisku lagi. Membaca juga tentu saja. Jadi, aku memutuskan untuk membuat review buku minimal dua buah dalam satu bulan. Jika ini dimulai pada Januari tahun ini, maka aku setidaknya ‘harus’ membuat tiga review lagi dalam bulan ini. (Oh, harus cepat-cepat membaca buku lain)

Oke cukup sekilas info tidak penting itu, kulanjut saja review buku ini sebelum aku kembali curcol tidak jelas juntrungannya. *Toyor kepala sendiri.

Di novel London ini, aku memang tidak menyukai satu tokoh pun, seperti biasanya aku membaca novel. Tidak ada tokoh yang mampu membuatku jatuh cinta di sana. *Eaaa…. Seperti yang kubilang sebelumya, awalnya aku sedikit bosan dengan gaya bercerita POV 1 versi Gilang yang cenderung monoton. Untungnya terbantu detail setting yang bagus—sangat bagus dari Mbak Windry dalam menggambarkan setting London.

Red_umbrella

Untungnya lagi , di (hampir) akhir cerita, aku mulai menemukan ketertarikan soal payung merah yang diberi Goldilocks. Seorang gadis yang Gilang temui tanpa sengaja, dan hanya muncul saat hujan. Terutama saat payung itu dipinjam V untuk berbaikan dengan istrinya. Juga dipakai oleh Madam Ellis. Untung bukan Elisa, karena ku tidak suka karakternya, upst!

Dan saat payung itu kemudian dipakai oleh Ning—sahabat sejak kecil sekaligus gadis yang Gilang cintai, aku mulai makin suka sama ceritanya. Setidaknya, kesabaranku membaca di tengah kebosanan rasanya terbayar. Cerita selengkapnya kenapa Gilang memberikan payung itu, baca sendiri deh. Aku nggak mau spoiler…^^

Sambil melanjutkan baca, aku mulai menebak-nebak arah cerita menuju muara, juga soal Goldilocks. Tebakanku hampir benar, tapi tidak seratus persen. Tidak salah juga, walau memang tidak tepat. Singkatnya, hampir! *Nggak jelas banget kata-kataku.

Di akhir, Mbak Windry membuat ending yang bikin aku berujar dalam hati. “Oh… gitu…” Yang itu artinya, novel ini menarik. Hoho… Twist yang manis semacam ini selalu sukses membuatku jatuh cinta pada buku. Maka dari lima bintang, aku memberi tiga bintang untuk novel ini.

Oh ya, aku jadi ingat sama dua kata yang kugarisbawahi di novel ini. Berengsek—Windry selalu menggunakan kata ini—dan bukan brengsek! Karena selama ini aku memakai kata brengsek, iseng kubuka KBBI. Ternyata berengsek juga benar, hihi… *Catat. Satu kata lagi, yaitu hibuk. Ada dua kata hibuk di halaman 47. Awalnya kupikir hibuk adalah typo dari kata sibuk. Iseng lagi, KBBI kembali berfungsi. Ternyata hibuk memang bukanlah sibuk. Hibuk adalah kata yang memiliki arti tersendiri, meski maknanya hampir sama dengan kata sibuk. Sip, ini catatan kedua.

Over all, London layak kurekomendasikan untuk dibaca. London memang bukan cerita berat, bahkan tidak terlalu banyak masalah yang dihadapi tokoh seperti saat aku membaca novel pertama Windry: Metropolis. (Semoga lain waktu, aku sempat membuat review-nya). Tapi novel ini cukup membuat kita mampu tersenyum di pagi yang gelap dengan langit tertutup abu seperti sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s