Mi amor – Di Titik Nol Kota Madrid [Review Novel By Sayfullan]

Identitas Buku

Judul Buku: Mi Amor

Tagline : Di titik nol kota Madrid203077700_xl-500x500
Penulis: Sayfullan
Penerbit: Senja (Lini Diva Press) #KampusFiksi
Terbit: 2013, Cetakan pertama
Jumlah Halaman: 314
ISBN: 978-602-255-403-5
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance

Haloo semua… Saatnya review buku lagi^^

Kali ini, aku mau kupas salah satu novel dengan sampul berwarna kopi yang terlihat enak dimakan. (Pas nulis, pas lapar)

Novel ini aku dapat lagsung dari penulisnya, my bestfriend si Upil, eh Ipul. *Dikeplak.

Ceritanya kita lagi tuker-tukeran buku gitu. Aku dikasih “Mi Amor”, si Ipul aku kasih “Pale Face In The Darkness” karyaku. Tetapi sampai detik ini belum sempat kukirim ke Ipul. Ternyata stok novel #PFITD di aku habis. Pas tanya ke penerbitnya, di gudang juga habis. Padahal drama ‘The Heirs’ (Yang diminta Ipul) plus dua novel yang nggak selesai kubaca—karena nggak suka sama ceritanya, tapi kayaknya Ipul bakal suka—itu sudah siap. Maafkan aku, dear… T.T… GomenMian

Oke cukup, aku mau bikin review. Bukan curhatan lagi. hehe…

Sebenarnya sudah agak lama sih dapat ini novel. Tapi, pas aku coba baca awal-awal, aku terkena demam Maba. Alias malas baca… *Garing. Jujur, aku malas baca lebih lanjut karena bosan. Tapi tenang, selalu ada sisi baik kok. Saat aku pilih baca kemarin, tanggal 18 Februari tahun 2014, meski awalnya aku memang bosan, tapi happy ending!^^

Novel ini berhasil kulahap tanpa harus menunggu jeda satu dua hari, yang artinya menurutku bagus! Ini serius. Mau baca kisah lengkap about Mi Amor? Chek it out!

Saat pertama baca dapat novel, pastilah ya, baca blurb dulu. Ini dia blurb-nya :  “Aku tahu perasaanmu, Sayang. Cinta di hatimu itu bukan untukku. Dan ternyata hatiku pun sama. Dan aku tak akan mungkin bisa memaksakannya, lagi. Pria yang menunggumu di titik nol itulah cinta sejatimu, yang rela setiap hari menyempatkan diri untuk berlama-lama berdiri di situ. Ya, untuk satu hal yang ia percaya, kamu akan datang untuknya. Bukankah, kalian pertama bertemu di titik itu, tempat yang akan membawa kalian kembali ke sana, bersama….” (Ini sebagian aja sih)

No coment soal blurb. Udah bagus dengan mengambil salah satu dialog yang bikin aku pingin salto di udara. Hehehe… Walau dari segi design, huruf-hurufnya agak kebesaran, dengan tulisan—entah jenis apa—yang jelas bold hitam, dengan background cokelat tua hingga membuat tulisan-tulisan ini tidak eye catching. Setidaknya menurutku.

Novel ini bercerita tentang dua gadis kembar yang mempunyai kisah cinta masing-masing. Kiana dan Serilda, si kembar dengan watak bertolak belakang 180 derajad celcius. #EmangSuhu?

Awal novel dibuka dengan kejadian pertemuan dua insan—tepatnya dua anak kecil beda jenis kelamin. Mereka bertemu disaat si gadis sedang menangis dan berbicara dengan ranting. Curhat lebih tepatnya. Si cowok yang melihatnya, pilih menegur hingga akhirnya mereka jadi akrab. Sayang, beberapa waktu kemudian, si cowok harus pergi dan membuat gadis itu sedih karena ditinggalkan begitu saja.

Jujur awal baca novel ini, kupikir cowok yuang mucul itu adalah ‘om-om’. Masalahnya, si penulis memakai kata ganti ‘lelaki’ dan gadis kecil. Aku pikir akan ada kisah gadis kecil plus om-om yang mengerikan. Tapi aku salah setelah baca lanjut. Sekedar saran sotoy yah, seharusnya jangan pakai kata ganti lelaki tampan dan sebaginya. Seharusnya pakai saja anak laki-laki atau apa pun asal tidak menunjukan kesan dewasa. Kejadian itu seharusnya menggambarkan jelas kalau keduanya sama-sama masih kecil. Bukankah tiga belas tahun kemudain, baik si gadis kecil maupun cowok itu masih kuliah? Sigh!

Hanya itu? Nggak! Pikiranku kembali di absurd-kan dengan munculnya bab satu yang menurutku sangat tidak penting. Bahkan bab satu dihilangkan, nggak akan memperngaruhi jalan cerita. Aku akan merasa lebih baik jika meloncat ke bab dua langsung. Seandainya aku tahu sebelumnya.

Aku yakin, aku akan langsung membaca novel ini pas dapat bukunya, kalau saja bukan karena bab satunya yang sudah menginjak-injak minat sejak awal. Bab satu yang disajikan, memang bukannya tidak berhubungan dengan cerita, tapi lebih bagus kalau diletakan di sela-sela kejadian yang menimpa si kembar. Misal dengan kejadian meninggalnya si ibu di bab satu inilah yang menyebabkan perbedaan sifat ayah mereka hingga akhirnya memunculkan dua kepribadian berbeda dari si kembar. Kepribadian yang muncul akibatkan perbedaan koping menghadapi sikap sang ayah yang kehilangan. Juga perbedaan sifat karena perbedaan masalah yang sama yang menimpa hidup keduanya. Itu rasanya jauh lebih manusiawi. Hihi…

Begitu baca bab satu, jujur aku sudah tidak ingin lanjut lagi. Bab satu hanya menceritakan seorang Erick, yakni ayah si kembar, dan perjuangan ibu mereka saat melahirkan hingga meninggal. That’s all. Cerita rasanya berakhir di sana. Sama sekali tidak menimbulkan tanya hingga ingin membuka halaman berikutnya.

Oke, di saat pertama dapat buku, aku pernah memaksakan diri untuk membaca ke bab berikutnya. Tapi aku makin tercengang dengan penggabaran tokoh Kiana di sana. Ya Allah, ini cewek kenapa piktor banget ya? Ahaha… (Ini penulis menggambarkan diri sendiri dalam tokoh Kiana apa gimana seeh? *LOL) Pas baca bab-bab awal ini, aku nggak nemuin jiwa Kiana. Yang aku temuin justru si penulis yang em…. ya… gitu deh… *Kabur sebelum dikeplak Ipul*

Jadi cara pandang Kiana terhadap cowok-cowok madrid rasanya terlalu aneh. Kiana terlalu piktor. Ya walau mungkin ada yang bilang nggak parah, tapi ini kontras banget sama penggambaran Kiana ke belakang.

Maksudku, ya ampun. Cara pandang cewek saat ketemu sama cowok cakep, dengan cara pandang cowok saat lihat cewek cakep itu berbeda! Aku tekanin sekali lagi, BEDA my dear, Ipul. Oke, cewek tertarik melihat cowok cakep tapi tidak sedetail itu hingga menjurus ke arah yang ‘dalam tanda tanya’.

Aku ambil beberapa kalimat deh, setidaknya yang menurut aku lebay. Itu artinya tidak ada dalam cerita pun tidak berpengaruh.

  1. Pasti anget banget bisa nyusruk di pelukan cowok macho itu. Hwaa…. (Halaman 34) Anget? Ini batagor apa bakso? Hihi…
  2. Lihat saja nanti, kalau aku sampai, akan aku pukul dadanya dengan keras. Ya, pukulan mesra. Hahahaha…  (Halaman 53) Kalimat ini ceritanya dari batin si Kiana. Menurutku ini terlalu maksa, Ipul. Kenapa harus pukul dada? Di tempat umum pula? *Ada yang bisa bayangin?* Oke mungkin cuma aku yang lebay.    Tapi kenapa tidak pukul lengan saja? Atau cubit lengan? Yah, hal-hal semacam itu yang lebih wajar dilakukan cewek pada SAHABAT cowoknya. Terlebih, pas baca ke belakang, ternyata Si Kiana memiliki sifat defensif. Dan tidak igin menjalin hubungan yang lebih dengan cowok  yang bernama Reza itu. Lalu kenapa di bab-bab awal aku justru mendapat kesan kalau Kiana sedang menggoda Reza? Oke next, lanjut dulu.
  3. Terus ada lagi, dua tempat malah yang ngegambarin si cowok lagi duduk di depan cewek—Kiana dan Serilda—yang kemudian tidak tanduk si cewek terkesan (sengaja) menggoda. Penulis bahkan dengan gamblang menggambarkan kalau si cowok menatap si cewek dengan jakun naik turun. (Aku coba buka ulang bukunya buat cari kalimatnya, tapi belum nemu) Ini ngapain gitu? Nggak penting ada. Nggak perlu ada. Nggak berpengaruh ke cerita juga, kecuali Ipul berniat bikin novel erotis. *Dikeplak ketiga kalinya.

Kesimpulannya, baca bab 1-4 bikin aku ilfeel setengah mati sama Kiana. Dan pas baca bab lima, aku bengong. Kenapa sifat Kiana labil banget ya? Di empat bab awal, dia terkesan gadis penggoda yang strong. Eh mulai bab lima Kiana berubah menjadi sosok gadis-sok-ceria-tapi-cengeng, yang berusaha menjadi makcomblang. Gadis itu menjadi gadis yang (agak) menjaga jarak dengan Reza karena kenangan masa lalu. Salah satunya, dengan  berusaha menjodohkan Reza dan Serilda, kembarannya.

Ini gimana? Aku bingung.

Oke, aku pun lanjut baca pelan-pelan dari bab lima ke belakang. Hebatnya, intens protesku mulai berkurang.

Cuma kesal sama Ipul aja sepanjang baca. Kenapa Ipul harus menggambarkan empat bab awal yang kontras banget sama cerita di belakang? Sebel. Kalau mau bikin cerita semanis ini, kenapa harus membuat kejadian dengan mengumbar ‘apa-yang-aku-jelaskan-di-atas’ pada awalnya? Terlebih, setelah membaca cara hidup, kejadian, dan terutama sifat Kiana, semua hal yang aku proteskan nggak perlu ada… T.T

Gadis bernama Kiana itu seharusnya defensif—seperti yang digambarkan dalam Mi Amor mulai bab lima ke belakang—tapi di empat bab awal dia terlalu ‘napsu’.

Oh ya, ada satu hal lagi dibelakangan yang sangat nggak penting! Di halaman 187, lagi-lagi Ipul menggambarkan kejadian yang menjungkir-balikan sifat si tokoh secara paksa. Ini yang dari tadi kucari. Akhirnya ketemu salah satu.

“Serilda semakin memperlihatkan keseksiannya, cara menyeruput kuah supnya, menyedot kopi susunya, membuat jakun Adit bergerak naik turun menyaksikan pertunjukan yang sengaja digelar untuknya.”

Kenapa harus ada kejadian ini? Maksudku, tanpa perlu kaliamat di atas pun tidak masalah saat keduanya makan bersama. Bahkan bisa jadi, acara makan mereka jadi lebih manis. Bukan erotis.

Yang bikin aku gondok, ke mana sifat ceplas-ceplos plus galak Serilda menghilang? Kenapa ia berubah menjadi gadis penggoda semacam itu? Oh, God! Gemes sama Ipul. Hihi…

Dan sifat Serilda juga labil sih. Digambarkan ia iri dengan kecantikan kembarannya, tapi ada pula pengambaran di mana Serilda menjadi gadis paling cantik diantara coass hingga menimbulkan kecemburuan. Ini menurutku agak janggal logikanya.

Secara keseluruhan, sebenarnya novel ini bagus. Malah menurutku bagus banget, terutama seperempat novel menjelang akhir.

Di masing-masing bab, Ipul pinter bikin pembaca penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya siapa dua anak kecil yang muncul di prolog—yang Ipul buka kartunya satu demi satu hingga muncul secara keseluruhan. Ini benar-benar Daebak! Gracias! Keren. Cool!

Dan aku juga suka banget sama ending-nya. Walau sedikit bisa meraba-raba, tapi twist Mi Amor ini bikin aku senyum pas nutup buku.

Novel yang bagus, dengan cerita yang manis, simpulku.

Dan sebenarnya, aku juga suka cara Ipul menggambarkan sesuatu. Mi Amor diceritakan dengan gaya yang enak. Tidak terlalu mendayu-dayu lebay. Komposisi dialog dan narasi pas. Bahkan ada satu paragraf yang begitu baca, aku suka banget!

“Meskipun Adit harus menyaksikan ibunya terkulai lemah, namun tidak bisa ia pungkiri, ada sebongkah nikmat yang lamat-lamat terkecap. Mata mereka lama beradu. Dua insan dalam gebuan rindu kini seolah berpacu dengan waktu. Mengikhlaskan kelebatan bayangan masa lalu. menelanjangi benak dan hati mereka. Memperkosa rasa. Seperti mesin waktu yang memutarnya dalam pusara kenangan. Ada bahasa yang mengalir dari tatapan mata mereka. Sabda cinta.” (Halaman 166)

Hihi… Ini bagian yang bagus! Aku suka! Entah karena situasi yang dialami tokoh atau hal lain. Yang jelas, Ipul memiliki diksi yang baik dengan membuat narsai yang macam ini. Sekali lagi, sukaaa…

Kesimpulan akhir nih… recomended!^^, Menurutku novel ini bagus. Aku suka ceritanya. Kalau mengalami kebosanan baca di awal sama seperti yang kualami, paksakan jalan. Karena dari pertengahan novel ke belakangan bagus ceritanya. Ciyuuuussss

miamor

So, siapa pun yang nemu novel Mi Amor dengan backgroup kopi ini, silahkan ambil. Beli dan bacalah. Insyaallah nggak nyesel. Setidaknya jika selera baca kalian sama sepertiku!

Berhubung menatap cover buku yang mirip cokelat bikin lapar, aku mau cari makan dulu ah…

Sampai jumpa di review berikutnya^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s