Memori by Windry Ramadhina [Review Novel]

-Tentang cinta yang tak lagi sama-

image

Adalah Mahoni, ya, nama pohon yang menjelma menjadi gadis cantik di novel ini. Sang tokoh central dalam Memori. Ini adalah novel ketiga Mbak Windry yang saya baca, setelah Metropolis dan London.

Sama seperti sebelumnya, di awal saya baca novel ini, saya merasa bosan. Mbak Windry selalu menyuguhkan narasi detail yang terkadang memunculkan kesan bertele-tele. Tetapi untunglah, kebosanan itu tidak berlangsung lama.

Kisah Mahoni, gadis arsitek yang tinggal di Virginia ini langsung menarik tatkala kenangan masa lalu dengan sang ayah muncul. Novel ini semakin menyenangkan saat mahoni kembali pulang ke Indonesia karena satu musibah.
Sungguh, kisah yang disuguhkan berbeda dari buku kebanyakan yang menjadikan CINTA sebagai masalah utama. Baiklah, Memori memang tetap saja menampilkan cinta. Tetapi percayalah Memori unik—setidaknya menurutku, karena Mbak Windry mewujudkan cinta dalam bentuk yang berbeda.

Bagaimana perjuangan Mahoni untuk mencintai adik—walau sebelumnya ia sama sekali tidak mau mengakui Sigi—nama adiknya itu, sebagai adik? Bagaimana gadis itu berupaya mempertahankan impian yang ia bangun? Dan bagaimana Mahoni harus memilih antara idealisme serta kenyataan? Sungguh, Mbak Windry menceritakan emosi seorang Mahoni dalam balutan kata yang terangkai apik.

Tiga cowok yang muncul di novel ini, kesemuanya membuat saya jatuh cinta. Oke, barangkali saya rakus, tapi saya tidak peduli. Ketiga cowok ini memiliki karakter yang bagus. Dan, pantas untuk dicintai siapa saja… xD

Cowok yang pertama adalah si bule Ron. Si playboy usil yang selalu memanggil Mahoni dengan nama Honey. Walau saya teramat kecewa karena Mbak Windry sepertinya mengabaikan keberadaan Ron di novelnya. Setelah cowok itu naik pangkat di bab awal, Ron menghilang begitu saja dari peradaban. Terlebih setelah Mahoni pulang ke Indonesia. Bahkan signyal-signyal beraura pink yang ditunjukan saat Mahoni berada di Virginia pun seakan tidak ada kelanjutannya. Ron hanya muncul dalam sms atau telpon yang keberadaanya sama sekali tidak penting. Sedih… T.T

Second, it is Simon. Bos MOSS, sebuah agensi arsitek di Jakarta. Cowok itu adalah teman Mahoni saat masih kuliah di UI. Yeah, sebenarnya bisa dikatakan lebih dari teman. Dulunya Mahoni dan Simon menjalin kisah, walau pada akhirnya kandas karena Mahoni memilih tidak melangkah lebih lanjut karena takut. Ya, takut pada bayang memori masa lampau yang terus menghantui gadis itu.
Pertemuan mereka setelah berpisah beberapa tahun, menjadi warna tersendiri dalam novel ini. paling saya sukai dari sosok Simon adalah kaus gratisan plus jeans belel yang ia kenakan. Penampilan yang justru tidak Mahoni sukai.

Cowok ketiga adalah Sigi, adik tiri Mahoni yang pernah hampir mati karena kelaparan. Saya menyukai karakter cowok yang jarang bicara ini. Tanpa perlu banyak kata, dari apa yang dilakukan oleh Sigi, saya membayangkan sosok cowok dengan sifat tulus dan spontan. Sosok yang menyayangi Mahoni dengan caranya sendiri.

Saya awalnya sangat kesal saat Mahoni mengabaikan Sigi hingga sebegitu parahnya. Namun, ketika kebersamaan mereka semakin erat terjalin. Komunikasi dan hubungan keduanya juga perlahan mencair, saya justru mulai simpati pada kedua tokoh naif ini. Dan saya merasa, bahwa hal yang dilakukan Mahoni wajar. Dan barangkali, saya juga akan melakukan hal yang sama, yang Mahoni lakukan pada Sigi, jika mengalami situasi yang sama.

Ending Memori sebenarnya sudah bisa saya terka sejak awal. Setidaknya sejak Mahoni pulang ke Indonesia dan mulai bertemu kenangan-kenangan masa lalunya. Jadi ketika saya selesai membaca novel ini, saya tidak terlalu terkesan. Jujur, saya lebih suka ending Metropolis dan London yang membuat alis saya mengernyit gemas.

Selama membaca, saya hanya menemukan satu typo, yakni “jug,a” (Kelebihan koma, karena seharusya cukuplah : juga)

Tapi overall, Memori memiliki cerita yang cukup bagus. Kisah yang sederhana, tapi mengena. Masih tentang cinta, tetapi dalam arti cinta sebenarnya. Cerita yang mengajarkan tentang kehilangan dan penerimaan kisah di masa lalu.

Sebuah kisah yang tidak akan bisa terulang dan hanya bisa dikenang. Ya, memori…

Identitas Buku
Judul Buku: Memori
Penulis:
Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2012, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 301
ISBN: 978-979-780-562-3 / 979-780-562-X
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Family, Work

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s