Review Last Minute In Mahattan by Yoana Dianika

Matahari tenggelam sempurna di Manhattan, menghujani gedung-gedung dengan warna senja cakrawala. 

Gambar

Di kota ini, kau akan bertemu Callysta.
Ia menemukan langit yang menaungi senja—membuatnya merasa nyaman, seperti mendapat perlindungan. Membuatnya jatuh cinta.
Namun, jatuh cinta memang tidak semudah yang dibayangkan. Saat cinta mulai menyergap, yang bisa dilakukan hanyalah mempertahankannya, agar tak memburam dan menghilang ketika ragu dan masa silam ikut mengendap.
Di kota ini, gadis itu jatuh cinta, tetapi segera ia surukkan di lorong-lorong gedung-gedung meninggi, dan ia benamkan bersama senja yang tenggelam sempurna.
“Hatiku masih terlalu rapuh,” begitu katanya.
Maukah kau menemaninya di Manhattan?

Manis ya kalimat-kalimat di atas…^^ Yup, itu adalah blurp dari novel Last Minute in Manhattan ini. Keren sekali bukan? Secara kasat mata, cover dan blurp dari novel ini memang sangat menarik! Sangat sangat sangat, setidaknya menurut saya.

Oleh sebab itu, saya menaruh ekspektasi yang lumayan tinggi saat mulai membacanya. Sayang, awalan menarik ini tidak mememiliki ending yang sempurna. Sungguh, saya merasa sangat kecewa usai menamatkan novel setebal 399 halaman ini.

Kenapa? Yang pertama, saya merasa novel ini memiliki jalan cerita yang aneh dan maksa! Cara Yoana membawa Callysta ke Manhattan cenderung terkesan dipaksakan agar tercipta setting di sana. Belum lagi, ia bertemu makhluk-makhluk sempurna luar biasa dengan karakter maksa yang ‘enggak’ banget.

Saya harus berjuang sangat keras untuk membaca hingga akhir novel ini hingga kelar. Benar-benar terasa penuh perjuangan dan tersiksa. Bahkan saat saya bertanya pada beberapa teman yang punya novel ini, mereka berkata tidak bisa menyelesaikannya. Hm, tampaknya saya cukup sabar… hihihi…

Saya membaca novel ini, sekitar lima bulan lalu sebenarnya. Kemarin saat saya buka-buka folder catatan di handphone, saya menemukan keluhan soal novel ini kepada teman saya tertanggal lima bulan lalu. Jadi saya berpikir untuk menuliskannya hari ini… *Ini yang saya katakan pada teman saya juga lima bulan lalu—membuat review-nya^^*

Keanehan lain yang saya temukan di Last Minute In Manhattan ini adalah pergantian POV. Sejak awal, Yoana memakai POV satu. Aku dari versi Callysta. Dan sebenarnya Yoana cukup piawai dengan POV satu ini, terlepas dari keanehan jalan ceritanya. Namun secara mendadak, dipertengahan Yoana mengubahnya dengan POV 3. Dan saya tidak mengerti kenapa ia melakukannya.

Menurut saya, tanpa perlu berganti POV pun tidak ada pengaruhnya ke dalam cerita. Toh, meski ganti POV, yang dieksplor tetaplah hanya cerita dari versi si Callysta. Bahkan hingga saya kelar baca novel ini, saya tetap tidak menemukan alasan bagi Yoana untuk berganti POV. Jadi sungguh, hingga detik ini saya tidak memiliki pencerahan untuk mengerti.

Dan sejujurnya pergantian POV ini terasa sangat mengganggu kenikmatan saya dalam membaca novel ini. Belum lagi, di satu bab terakhir Yoana kembali memakai POV 1. Oh, God! Sungguh saya tidak mengerti kenapa harus begitu.

Pergantian POV kalau memang diperlukan sih mungkin tidak masalah. Tapi ini? Ah, entahlah…

Dan yang bikin geregetan lagi—ini yang bikin saya tambah kecewa—adalah, Yoana membawa tokoh Vesper Skyler yang too perfect!!!

Awas, yang belum baca bukunya mending berhenti di sini karena ke bawah akan ada sedikit spoiler!!!

Oke, mungkin tidak semua orang berpikiran cowok sempurna itu berlebihan. Tapi apa ada yang bisa membayangkan, seorang cowok kaya raya—anggaplah dia anaknya pemilik google atau setidaknya pemegang saham terbesar, lalu jatuh cinta pada gadis Indonesia yang sedang galau tidak jelas usai diselingkuhi pacar bernama Callysta?

Masih rasional?

Oke lanjut… Di sisinya selalu ada gadis jahat—versi Callysta, berparas cantik yang menyukai Vesper, namun Vesper terlalu setia sehingga mengabaikannya. Masih rasional juga kan?

Okeee…

Sekarang bagaimana kalau si cowok kaya raya, keren minta ampun, ganteng, hidup dengan budaya CA, dan SETIA ini merasa bersalah karena merusak topi rajut Callysta, dan ia pun menghabiskan hidupnya dengan belajar merajut dari gadis lain?! Wooow amazing banget kan? Terlalu amazing mendekati khayal bagi saya.

Bahkan Vesper bela-belain belajar merajut, dari gadis yang mencintainya itu—yang tidak ia cintai, hingga menimbulkan salah paham antara dirinya dan Callysta. Bahkan hingga memunculkan dugaan kalau dirinya Junkie, dan hal-hal semacam itu… Dan dari segala keanehan Vesper, ia berakhir berhasil membuat RAJUTAN untuk Callysta! Astaga!

Ini kejadian yang sangat tidak diperlukan sebenarnya. Lagi-lagi, kejadian yang terlalu dipaksakan. Sungguh, rahasia lebay yang disimpan tokoh cowok selama berbab-bab dan membuatku melongo lebar saat mengetahui rahasia konyolnya. Ini cowok cita-cita jadi pejahit apa gimana yak…? *LOL*

At least, yah i’m so disappointed…T.T… Penulis sekaliber Yoana Dianika sebenarnya cukup piawai menggambarkan setting dan menuliskan cerita. Hanya saja sayang, ide ceritanya agak… yah…. begitulah… hihi…

Berikut, identitas bukunya :

Judul Buku: Last Minute In Manhattan

Tagline : Beri cinta waktu
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: Bukune
Terbit: 2013, Cetakan ketiga
Jumlah Halaman: 399
ISBN: 602-220-083-0
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s