Institusi Kesehatan Yang Tidak Sehat (Review Novel “Livor Mortis” by Deasylawati P)

Kembali, ada lagi kasus malpraktik terjadi di Indonesia. Semalam persis sebelum tidur, sayup-sayup saya melihat berita ini di televisi. Kasus orang miskin yang anaknya meninggal karena tidak mendapat pertolongan langsung dari rumah sakit. Sayangnya saya keburu tertidur di depan televisi sebelum mendengar lengkap berita ini.

Nah, karena hal inilah, tetiba saya jadi ingat dengan salah satu novel yang kayaknya pernah saya review. Novel inilah yang saya maksud. Livor Mortis.

Saya berkenalan dengan novel ini, persis saat baru lulus kuliah keperawatan, jadi berasa dekat sekali dengan kisah yang digulirkan oleh Mbak Deasylawaty di sini.

Seingat saya juga, kayaknya review ini saya ikutkan lomba. Walau nggak menang sih… hehe…

Yah, memang masih abal-abal sih dalam pembuatan review or resensi. Dan “Institusi Kesehatan yang Tidak Sehat” ini adalah review pertama saya, jadi maklum kalau bahasanya masih agak aneh, labil, dan ya begitulah… 😀

Chekitout mariii……^^ livor mortis

Judul              : Livor Mortis
Penulis           : Deasylawati P.
Cetakan          : I, Juni 2008
Penerbit        : Indiva Media Kreasi
Tebal              : 240 halaman
Ukuran          : 13 x 20,5 cm
ISBN               : 979-1397-41-4

Bagaimana jadinya jika rumah sakit milik pemerintah berorientasi kepada bisnis? Hanya berkutat demi mendapatkan materi semata. Padahal ini menyangkut nyawa manusia! Bukankah setiap warga negara berhak mendapat pelayanan kesehatan yang layak? Bukankah pemerintah telah membebaskan dana kesehatan bagi rakyat miskin? Tapi benarkah demikian? Benarkah keadilan dibidang kesehatan telah dapat dirasakan setiap insan?

Dengan mengusung tema itulah, Deasylawati P. membawa para pembacanya menjelajah ke dalam dunia yang bersinggungan langsung dengan nyawa manusia. Novel ini menjadi tolak ukur fakta yang memang terjadi di lapangan. Di rumah sakit maupun di institusi kesehatan lain. Deasylawati menggunakan pengalamannya yang pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah jurusan keperawatan secara baik dalam novel ini. Sehingga membuat kisah yang terjadi terasa begitu nyata. Begitu dekat dengan kita.

Novel Livor mortis ini bercerita tentang Fatiya, gadis berjilbab yang baru saja lulus dari bangku kuliahnya di fakultas keperawatan. Sebagai mahasiwa yang berasal dari kalangan ”biasa” ia mengetahui secara pasti bagaimana susahnya berjuang menamatkan pendidikannya. Ternyata pendidikan itu mahal.

Setelah merasakan betul yang namanya perjuangan, mulai dari kuliah ia harus berjuang agar bisa lulus dan mendapat nilai yang bagus, setelah lulus, ia berjuang mencari pekerjaan. Maka sekarang, ketika ia mendapatkan pekerjaan, yang harus ia lakukan adalah, berjuang untuk bisa bertahan. Fatiya bekerja di RS dr Sarkadi. Rumah sakit milik pemerintah yang memiliki nama ”besar” di kotanya.

Perjuangan awal Fatiya di RS dr. Sarkadi dimulai sejak dirinya menjalani masa orientasinya yakni selama tiga bulan pertama. Dalam masa orientasi ini biasanya seorang perawat berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Hingga akhirnya tiba saatnya Fatiya orientasi di ruang IBS (Instalasi Bedah Sentral) atau ruang operasi. Di ruang tersebut, ia bertemu dengan Haris, perawat yang murah senyum, Lukman si perawat yang riang dan usil serta dr. Pras, coas yang sedang menjalani praktik di tempat itu sebelum menjadi dokter spesialis bedah.

Livor mortis menjadi novel yang mengomentari fenomena diskriminasi sosial yang sering terjadi di institusi-institusi dalam negeri. Novel ini menghadirkan kisah-kisah klasik pasien kelas tiga yang terjadi secara real di sekitar kita. Kisah tentang Robi dan istrinya yang menjadi korban human eror. Kisah Sukarto dan Ponirah yang bernasib sial hingga perlakuan-perlakuan ‘khusus’ terhadap pasien-pasien kelas tiga. Di tengah himpitan yang mendera orang-orang sakit, mereka harus menerima perlakuan berbeda dari pemberi fasilitas lantaran mereka adalah orang tidak punya. Mendapat perlakuan tidak manusiawi hanya karena tidak mampu membayar lebih untuk mendapat pelayannan yang baik.

Rupanya pembagian kasta berdasarkan kelas masih melekat erat di setiap segi kehidupan tanpa kita sadari. Fatiya, Haris, Lukman dan dr Pras menjadi saksi langsung di tempatnya bekerja. Bahwa perbedaan perlakuan terhadap mereka yang berduit dan yang tidak amatlah mencolok. Tanpa mereka sadari, mereka terlibat dan memiliki andil besar dalam tragedi kemanusian paling mengenaskan.

Selain membahas masalah kesehatan, jalan cerita juga dibumbui dengan cerita cinta yang dirangkai secara apik. Rasa “suka” Fatiya kepada Haris, pemuda yang murah senyum menjadi sebuah dilema ketika tiba-tiba dr Pras melamarnya. Bagi Fatiya, bagai keajaiban seorang perawat honorer dilamar dokter yang tinggal menunggu detik-detik menjelang gelar spesialis. Kebingungan Fatiya, antara melihat kondisi keluarga yang “kurang” dengan perasaan cintanya. Siapa sih yang ingin menolak lamaran calon dokter spesialis yang muda dan tampan? Apalagi Haris juga tidak berkata sepatah kata pun pada Fatiya. Fatiya bingung, apakah Haris juga menyukai Fatiya?

Kisah cinta lain juga diurai oleh pasangan Ponirah dan Pak Karto. Keduanya adalah pasangan yang setia dan saling mencintai. Meski harus berjuang ekstra keras, Ponirah selalu setia menunggui suaminya yang sakit Diabetes Melitus tipe satu. Sebuah penyakit degeneratif yang merupakan kesialan bagi orang kecil seperti mereka. Ponirah yang sabar bahkan tidak protes ketika suaminya ditemukan sudah meninggal hampir lebih dari delapan jam dan tidak ada perawat yang mengetahuinya. Entah bagaimana dan kapan pasien itu mati, tidak ada yang tahu. Padahal kematian terjadi di rumah sakit yang mempekerjakan banyak agen kesehatan. Pasien ditemukan dengan lebam mayat ditubuhnya atau disebut livor mortis. Bagi Ponirah, kematian suaminya sudah takdir dan tidak boleh disesali agar suaminya dapat tenang dialamnya kini.

Lalu bagaimana perasaan Fatiya yang bertugas sebagai perawat yang dinas malam pada hari itu? Bagaimana perasaannya ketika melihat Ponirah tetap sabar dan mengucapkan terimakasih padanya karena mau merawat suaminya. Padahal jelas-jelas perawat telah lalai dan tidak memeriksa Pak Karto. Salahkah Fatiya ketika beban tugas seorang perawat tidak sesuai dengan jumlah pasien yang membludak?

“Tidak ada yang pernah menyangka, kejadian naas yang menimpa salah satu pasien tersebut membuka rentetan kejadian-kejadian lain yang mencengangkan. Ini mengenai kedigdayaan, keegoisan, arogansi, bahkan dapat dikatakan sebagai penindasan.” Demikian tulis Deasylawati P. pada halaman 11 dalam bukunya.

Sementara itu, Robi berniat menuntut Rumas Sakit dr. Sarkadi atas peristiwa yang dialami istrinya. Istrinya harus menderita sakit berkepanjangan karena pelayanan yang bertele-tele. Apalagi anaknya juga meninggal karena kadar bilirubinnya diatas batas normal. Menurut adik kelas Robi semasa SMA yang kebetulan bekerja sebagai perawat RS. Dr. Sarkadi, istrinya menjalani bedah ulang karena perbaikan kondisi. Tetapi Robi merasa ada yang tidak beres. Perbaikan kondisi dari apa? Kenapa tidak pernah dijelaskan padanya? Lalu kenapa foto ronsen perut istrinya tiba-tiba menghilang? Bahkan biaya pembedahan digratiskan begitu saja.

Dalam kasus ini, batin Fatiya kembali diuji. Antara mengatakan yang sesungguhnya terjadi pada Robi atau menjaga nama baik instutusi tempatnya bernaung. Karena bagaimanapun ia telah menjadi anggota keluarga besar RS. Dr Sarkadi. Fatiya bimbang, ingin rasanya ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Robi yang tentu saja akan mencemarkan nama baik rumah sakit, atau tetap diam.

Karena merasa dizhalimi, Robi pun mengontak temannya yang bekerja di konsultan hukum untuk membantunya memecahkan masalah yang dialami olehnya. Robi tidak ingin ketidakadilan yang diterimanya di instansi terkenal itu dialami oleh orang lain. Dengan berbagai upaya, akhirnya Robi berhasil mengumpulkan masa untuk mendemo pihak rumah sakit.

Dalam novel ini diceritakan bagaimana pengalaman batin seorang perawat dan dokter yang merasakan betul apa yang sebenarnya terjadi di institusi kesehatan. Antara hati nurani dan kewajiban kerja yang seringkali harus mengabaikan kata hati. Kelaliman, keegoisan, kebengisan dan penindasan seolah bercampur dengan tindakan-tindakan kepada pasien yang berada di ambang nyawa. Sampai akhirnya salah satu dari mereka memilih keluar dari tempat kerjanya karena tidak kuat mengabaikan sisi kemanuasiannya.

Fatiya memilih jalan dengan kembali berjuang mencari arti hidupnya. Meski bekerja di rumah sakit negeri itu menjanjikan masa depan yang lebih cerah, namun ia enggan mengabaikan nurani. Ia memilih mencari jalan yang membuat batinnya tenang, damai dan bahagia. Meski ia harus kehilangan pendapatan, uang, jabatan, impian dan cintanya.

Seperti apa yang ditulis Deasylawati di halaman 90 “Hidup memang sebuah perjuangan. Entah hidup sudah enak, sudah mapan, sudah tercukupi, tetap saja semua proses dalam hidup adalah sebuah perjuangan. Tinggal bagaimana memaknai perjuangan itu sebagai sesuatu yang berarti atau hanya sekedar suatu proses yang memang harus dilalui. Sebuah perjuangan hanya akan bisa berarti bila manusia melakukannya dengan niatan ibadah kepada Rabb-nya semata.”

Deasylawati juga menghadirkan persoalan yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Di Indonesia yang mayoritas warganya beragama Islam, kita justru seringkali berbenturan dengan peraturan pemerintah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Terkadang keteguhan hampa pada Rabnya perlu diperjuangkan secara khusus meski harus mendapat cemoohan dari manusia. Seperti Fatiya yang memilih mempertahankan memakai rok meskipun harus melanggar aturan rumah sakit. Baginya lebih baik ditegur manusia dari pada ditegur Allah. Namun sayangnya, hidup tidaklah semudah itu. Begitu banyak perjuangan yang harus dihadapi Fatiya dalam menjalankan keyakinannya.

Akhir yang disajikan Deasylawati dalam buku ini juga tidak memaksakan. Semuanya seolah berjalan mengalir bagai sungai. Penulis tidak membuat jalan novelnya harus berending bahagia atau luka. Penulis menyajikan ending yang jauh lebih manusiawi. Jauh lebih nyata. Hal ini memberikan makna tersendiri bagi pembaca. Kesan akhir yang ditulisnya pada halaman 236 seolah memberi gambaran relita kehidupan di era sekarang. Inilah faktanya. Inilah realitanya.

“Hukum rimba berlaku leluasa di negeri ini. Siapa yang kuat dialah sang raja. Siapa berkuasa dialah pemenangnya. Tak perduli di mana pun arenanya. Tak perduli apakah itu menyangkut nyawa manusia. Yang masih punya hati tersingkiri. Yang mempertahankan nurani menjadi orang-orang yang ditertawai. Dunia ini adalah sebuah panggung, dimana arogansi menjadi mutlak demi mendapatkan materi.”

Sayangnya pada awal novel gambaran cerita diceritakan secara langsung bahwa Perawat Fatiya hendak keluar dari rumah sakit. Hal menjadikan cerita tidak lagi membuat pembaca penasaran karena sudah menebak akhir ceritanya. Selain itu, kenyamanan pembaca sedikit terganggu dengan adanya beberapa kesalahan penulisan. Ini menjadi catatan tidak hanya bagi Deasylawati, editor serta penerbit buku ini. Tetapi juga buku-buku lain yang beredar di Indonesia. Masih banyak buku yang banyak salah cetak atau salah ketik. Hal ini tentu saja sangat mengurangi kualitas buku itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s