Montase—by Windry Ramadhina [Review Novel]

Gambar

Namanya Rayyi, biasa dipanggil Bao alias Bao Bao. Cowok ini kuliah di Institut Kesenian Jakarta fakultas film dan televisi dengan peminatan produksi. Yup, dengan ayah seorang produser kelas kakap, Irianto Karnaya, Rayyi seakan sudah ditakdirkan sebagai produser pula dalam hidupnya. Meski Rayyi sangat menyukai dunia film dokumenter, sepertinya itu akan menjadi mimpi belaka.

Dan mimpi yang Rayyi pendam kembali muncul tatkala di kelas Dokumenter IV yang diajari oleh Samuel Hardi, ia kembali bertemu dengan gadis jepang bernama Haru Enomoto. Seorang mahasiswa Tokyo Zokei University yang sedang studi banding di IKJ selama dua semester, sekaligus si pemenang Festifal Film Dokumenter yang digelar Greenpeace mengalahkan Rayyi.

Kedekatan mereka tercipta saat Samuel Hardi memberikan tugas pertama mereka, dan atas saran sahabatnya, Rayyi iseng memakai Haru sebagai obyek film dokumenternya.

“Dia bangkit berdiri secara tiba-tiba, lalu mendekati lili raksasa itu. Buku sketsa dan alat gambar kepunyaanya itu, sebatang konte, digeletakan begitu saja di lantai. Aku memperhatikan buku sketsa Haru Enomoto. Rupanya, Haru Enomoto melukis lili raksasa tersebut dan dia melakukannya dengan terampil.

Kini, gadis itu berada di antara kelopak-kelopak lili, meraba-raba permukaan sculpture licin. Dia kelihatan semain mungil dan—

Demi Tuhan, moment ini—“ (Hal 73)

Itu bagian yang saya suka di Montase ini. Saat di mana Rayyi melihat sisi lain dari Haru. Dan cara Mbak Windry menggambarkan moment yang terjadi di sana, sungguh berhasil membuat saya jatuh cinta…

Dan sejak kejadian di patung lili itu, Rayyi seakan terus kecanduan untuk merekam Haru, merekam, dan merekamnya lagi. Dari sanalah kisah cinta mulai muncul satu per satu. Mulai dari Rayyi dan Haru, bahkan hingga Bev dan dosen mereka, Samuel Hardi.

Selain itu, masalah terbesar pun kembali melanda Rayyi. Terutama sejak ia mendapatkan nilai D di ujian perencanaan produksi-nya. Ia pun tidak diperbolehkan lagi nge-kost, tidak boleh lagi berhenti magang dari perusahaan ayahnya, tidak bisa ikut International Documentary Film Festifal Amsterdam (IDFA), dan yang paling buruk, tidak bisa lagi mengikuti kelas Samuel Hardi.

Ya, Rayyi menyerah. Ia merasa tidak mungkin menggapai impiannya menjadi pembuat film dokumenter. Dirinya sudah ditakdirkan menjadi produser, tanpa ia bisa menolak.

Hingga akhirnya, kepergian Haru menyadarkannya. Membuat Rayyi memilki keberanian untuk menjemput mimpinya, setelah tahu sebuah kenyataan pahit dibalik kepergian Haru. Dan kembalilah terjadi perang dunia keempat antara Rayyi dan ayahnya yang membuat Rayyi terpaksa kabur, dan memulai segalanya dari nol.

Apakah Rayyi berhasil menggapai cita-citanya? Membaca sendiri novel ini rasanya lebih nikmat yak! ^^

Ceritanya bagus kok. Tidak mengecewakan menurut saya. Saya suka bagaimana cara Mbak Windry mengisahkan kehidupan Rayyi yang lagi-lagi memakai POV satu. Saya suka Rayyi! Hoho…

Cuma, mungkin karena saya baru saja membaca Memory, jadinya kisah di montase cenderung terasa monoton. Lagi-lagi masalah dengan sang ayah, walau ceritanya jauh berbeda sih… hehehe…

Yup, empat bintang rasanya pantas kok buat Montase^^..

Keyyyeeen!

Identitas Buku

Judul Buku: Montase

Tagline : Kau di antara beribu sakura
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media

Terbit: 2013, Cetakan ketiga
Jumlah Halaman: 357
ISBN: 978-979-780-605-7
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance Inspiratif

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s