Misi nomer 0 : Pasar Njati dan tenggang rasa yang mulai hilang

“Hal baru apa yang sudah kau lakukan hari ini?”

Pertanyaan di atas nyaris selalu dilontarkan oleh suami saban pulang kerja. Ia bahkan masih mengenakan seragam kantor dan menenteng tas di pundaknya. Barangkali ia jengah mendapati istrinya masih asik di depan televisi, atau hanya ‘jualan semangka’ seharian. Jualan semangka adalah istilah yang berarti gelundungan atau bermalas-malasan di tempat tidur dalam jangka waktu lama. Ya, istilah yang dibuatnya untuk mengolokku.

Yogyakarta, kota yang penuh dengan seniman ini menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun lalu. Sudah dua bulan lebih sedikit, kalau dihitung. Kukira, waktu berjalan terlalu cepat. Dalam dua bulan lebih yang kuanggap singkat ini, aku ternyata belum melakukan apa pun. Aku masih betah mengurung diri di rumah, menonton drama, anime, dan musik video (MV), atau main game dimulai dari matahari terbit hingga tergelincir dan menghilang di ujung barat.

Ah ya, aku sangat produktif!!!

Setelah kupikir lagi, hari-hariku benar-benar menyedihkan! Aku bahkan tidak berbaur dengan baik, dengan tetangga. Aku terlalu asik menikmati dunia baru bernama : pengangguran ibu rumah tangga. Astaga!

Tapi tolong jangan salah paham, ini bukan berarti aku antisosial ya. Setidaknya walau satu dua orang, aku tahu siapa tetanggaku dan sesekali menyapa saat hendak keluar rumah untuk membeli makan. Oh okey, aku memang belum masak sendiri. Tetapi beberapa hari lagi aku berencana memasak sendiri layaknya ibu rumah tangga yang lain kok. Um, soal masak memasak ini out of topic deh kayaknya, bahas kapan-kapan aja ya. 🙂

Omong-omong soal tetangga, aku punya tetangga yang kukira cukuplah kalau kami disebut akrab. Orangnya periang. Ramah, dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Usianya kutaksir empat puluhan ke atas. Wanita berambut pendek ini kita sebut saja, Bu Lesita. Hobinya masak, dan beliau juga sering dapat pesanan makan dari tetangga lain di perumahan yang juga malas masak sepertiku.

Dari seringnya pesan makan kepada bu Lesita inilah yang membuat kami lebih akrab. Terlebih beliau sepertiku, 24 jam di rumah. Dari obrolan kami tentang hal hal remeh temeh, gosip tak jelas, hingga sinetron yang tak kumengerti, akhirnya sampailah pada titik di mana Bu Lesita bercerita tentang hidupnya. Kisahnya.

Untuk orang yang kadar kepo-nya hanya 20% sepertiku, aku tidak pernah tahu kalau Bu Lesita hanya tinggal dengan kedua anaknya. Kupikir keluarganya normal, dan suaminya berangkat kerja pagi pulang malam, hingga aku tak bernah bersua. Sesimple itu kehidupan Bu Lesita dalam benakku. Seorang ibu rumah tangga yang suka memasak dengan anak-anak yang sudah besar, dan mereka bahagia.

Sayangnya aku salah. Bu Lesita, di suatu sore yang basah bercerita dengan gurat sedih di wajah. Suaminya udah pergi, kawin lagi. Suami bu Lesita yang tak kutanya namanya itu, dari awal memang suka main serong. Berkali-kali, ditemani kesabaran Bu Lesita akan tingkahnya. Hingga klimaks, suami bu Lesita pilih meninggalkannya, menikahi janda beranak tiga.

Tetapi jangan salah, beliau wanita strong! Kalau kau bertemu dengannya, kau hanya akan menemukan keceriaan, tawa, dan suaranya yang lumayan keras. Ya, beliau berbeda jauh dengan remaja alay yang ditinggal pacarnya lalu gagal move on sih. (Heh?!)

Nah, pagi kemarin untuk pertama kalinya, sejak aku menginjakkan kaki di bumi jogja, aku pergi ke pasar tradisional. Bu Lesita mengajakku ke pasar Njati. Letaknya di pinggir Jalan Magelang, sebelum Jombor. Aku tidak tahu persis di mana, karena kucari di google maps, pasar Njati tak ada. Google maps ternyata kalau gaul sama Bu Lesita. Hahaha… Terlebih, aku diajakknya lewat jalan ‘dalam’ saat menuju ke sana.

Kenapa tiba-tiba aku ke pasar? Tentu saja ada alasannya. Sore hari kemarin, akan ada pertemuan warga perumahan di tempatku. Tak mungkin kan kubiarkan mereka begitu saja? Jadilah aku minta tolong Bu Lesita utuk menyiapkan aneka hidangan yang sekiranya pantas disajikan. Kukira itu hari yang sempurna. Hari di mana aku tak hanya malas-malasan. Aku bisa mematahkan ejekan menyebalkan suamiku. Kukira.

Namun, semuanya berubah saat negara apa menyerang. Okey itu mainstream. Hari itu berubah menjadi hari yang tak sempurna, kala pertemuan warga yang ditunggu-tunggu, yang membuat sibuk sejak pagi hari, berubah menjadi pertemuan yang buruk.

Di tempat kalian tinggal pasti ada kan, orang yang berbeda? Termasuk berbeda dari segi ekonomi? Nah, aku tak mengerti dengan jalan pikiran warga di sini. Mereka seakan tak paham soal Bhineka Tunggal Ika, eh, perbedaan maksudnya.

Hal menyebalkan pertama, kenapa yang dibahas dipertemuan ternyata hanya berputar soal duit? Dari iuran sampah, iuran kas, arisan iuran aspal. Tak ada obrolan lain, semacam bikin pengajian, bikin kegiatan apa gitu, ronda atau apa pun. Blasss. Nihil.

Dan masalah soal duit emang sensitif. Lebih sensitif dari emak-emak PMS lho, serius! Bahasan ‘dana jalan aspal’ pun mengambil alih 70% isi obrolan pertemuan. Singkat cerita, di antara warga perumahan, yang belum bayar cukup banyak adalah Bu Lesita. Dan beberapa, ah bukan, cukup banyak warga yang keberatan dengan hal itu. Katanya mereka keberatan karena karena mereka yang iuran sedang ada yang nggak iuran, pas ngomong ini kelihatan banget lho nyindir Bu Lesita.

Warga khawatir kelak kalau mau bikin jalan aspal, dan Bu Lesita baru bayar sedikit, beliau akan kurang banyak dari jumlah total iuran. Dan mereka takut Bu Lesita nggak bisa bayar kekurangnnya kalau nggak dicicil RP. 50.000, perbulan seperti yang lain.

“Saya akan bayar kalau pas punya rejeki. Tapi dulu kan saya pernah bilang 50.000 buat iuran aspal saja saya keberatan, tapi saya kalah suara. Kalau pas jalan aspalnya rusak dan mau buat lagi, saya pasti bayar. Saya ya nggak akan kabur, rumah saya di situ. Saya nggak mungkin toh, nggak bayar dan ngebiarin jalan depan rumah saya bolong. Nggak diaspal sendiri. Saya ya malu. Tapi sekarang saya belum punya rejeki.” Itu jawaban Bu Lesita kala orang-orang mendesak, dan mulai menyindir dengan cukup kasar.

Hening sejenak usai Bu Lesita berkata demikian. Kupikir usai. Warga sadar, kalau mereka keterlaluan. Tetapi aku salah ternyata. Setelah membahas dana aspal, di penghujung pertemuan mereka membahas tempat untuk pertemuan berikutnya. Dan mereka mendesak Bu Lesita untuk harus mau menjadi ‘tempat penerima’. Sampai-sampai Bu Lesita harus mengulang kembali kalimat yang memilukan. “Kalau saya ada rejeki, iya di tempat saya.” Yang dengan sangat buruknya dibalas. “Harus lho bu, kalau bisa jangan ditunda lagi, biar urut.”

Oh Tuhan, biarkan aku pingsan sejenak.

Single Parent, kedua anaknya masih kuliah, mantan suami hanya bantu biaya kuliah anaknya dua juta sebulan, itu pun kalau tak lupa, Bu Lesita tak kerja pula, dapat uang dari mana? Kok kejam?

Well ya, awalnya kegiatan ke Pasar Njati bersama Bu Lesita ini mau kujadikan misi pertama dari “tantangan 21 hari melakukan hal baru”. Yap, malam sebelumnya, Anggi, bloger rajin yang punya anak ganteng bernama Zahir mengajak anak-anak di grup ikut tantangan 21 Hari melakukan hal baru atau apalah judulnya, aku lupa. Yang jelas, dalam 21 hari itu, kita melakukan hal-hal baru, terserah kita. Aku merasa, ini sangat cocok untuk makhluk pemalas yang jarang keluar rumah sepertiku, makanya i’m join!

Tapi karena kejadian hari ini berubah menjadi curhatan, maka aku putuskan ini adalah misi ke 0, tak terhitung. Besok, baru kita mulai hal baru sesuangguhnya!

Eh, besok mau ngapain ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s