Gadis Di Malam 101

Orang menjulukinya sebagai penunggu sejati. Walau sejatinya, ia hanyalah pria biasa berumur dua puluh tujuh tahun. Bedanya, ia kini terjebak dalam ruang dan waktu yang mengikatnya pada sebuah tragedi. Sebuah petaka yang memaksanya terus menunggu seorang gadis. Sekalipun setelah seratus malam berlalu, bayang gadis itu saja, bahkan tidak pernah nampak.

Menunggu bukannya tidak membuatnya lelah. Matanya yang sayu dan tubuhnya yang semakin kurus dari waktu ke waktu adalah bukti kalau dirinya terkurung gundah. Ia hampir frustrasi, ingin marah. Sayangnya, tidak ada sasaran melampiaskan masalah. Maka, walau waktu kepergian Cinderella telah lama berlalu, ia tetap tidak peduli. Pria itu berdiri di lorong yang sepi, seorang diri. Baginya, tempat ini menjadi satu-satunya harapan.

Kenzhie, adiknya, pernah berkata kalau ia bertemu dengan gadis itu di tempat ini untuk pertama dan terakhir kali.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Sebuah pertanyaan bernada halus menyapanya.

Pria itu menengok dengan cepat. Berharap itu menjadi suara orang yang sangat ia rindukan. Sayangnya, harapannya belum di dengar oleh langit. Di hadapannya, seraut wajah pucat dengan rambut ikal berwarna pirang memasang senyum cerah. Gadis asing. Bukan gadis yang ditunggunya itu.

Pria itu pilih membalas senyum—yang sedikit dipaksakan, tanpa memberikan jawaban. Gadis di hadapannya hanyalah orang asing yang tidak tahu masalahnya. Tidak penting baginya untuk sekedar menjawab pertanyaan.

“Kupikir setiap manusia memiliki alasan melakukan sesuatu, pun demikian denganmu.” Gadis itu membuka suara kembali setelah jeda semenit. Tangannya bergerak memilin rambut bergelombang pirangnya tanpa alasan. “Tapi, menunggu dalam diam adalah hal yang konyol.”

Pria itu menoleh kembali dan memberikan tatapan tidak suka pada gadis itu. Ia baru sadar, kalau gadis itu memiliki mata hazel yang terlihat magis. Manis, namun seolah menyimpan banyak misteri. Sayangnya, walau gadis itu benar-benar menarik dengan wajah uniknya yang berbentuk bulat telur, pria itu tetap tidak ingin membagi kisah apa pun dengannya. Terlebih setelah gadis itu mengatai kalau dirinya konyol.

“Aku sering melihatmu muncul di tempat ini. Di waktu yang—seharusnya janggal untuk beraktivitas.” Gadis itu kembali berkomentar, tanpa mempedulikan tatapan pria itu. Tangannya masih asyik memilin rambut. Sepertinya tanganya memiliki kebiasaan untuk terus bergerak saat berkata-kata.

“Lalu, apa yang dilakukan seorang gadis muda pada jam segini—di tempat ini?” Pria itu menyindir. Ia sungguh malas membagi kisah yang terlalu berat ini. Kisah ini menyimpan lipatan dosa yang tidak terhitung jumlahnya. Dosanya. Dan orang yang mendengarnya pasti akan langsung angkat kaki.

Gadis itu masih diam dengan senyum, seolah apa yang dikatakan pria itu dengan nada sinis tidak mengganggunya.

“Apa kau bekerja di sini?” Pria itu bertanya lagi pada akhirnya. Sejujurnya sudah beberapa kali berurusan dengan petugas dan pekerja di tempat ini. Itu hal menyebalkan yang paling ia hindari.

“Apa aku terlihat seperti pekerja di sini?” Gadis itu justru balik bertanya.

Pria itu memandang gadis bermata hazel yang kini sedang memutar-mutar hiasan pita pinggang gaun selututnya, dengan penuh pertimbangan. Gadis itu hanya mengenakan terusan sederhana berwarna putih. Kakinya yang kurus terbungkus flatshoes mungil berwarna gading. “Kau tidak bekerja di sini.” Pria itu menyatakan kesimpulannya. “Jadi, kau pasien yang di rawat di sini?”

Gadis itu tertawa pelan. “Apa aku terlihat sedang sakit sekarang?”

Pria itu mendengus sinis. “Kalaupun kau tak sakit, ini bukan waktu terbaik untuk keluyuran. Seharusnya kau sedang terlelap.”

“Aku akan menghargai saran itu, kalau orang yang mengatakannya padaku sedang tidur nyenyak.” Gadis itu membalas telak. “Kau tidak seharusnya mengkritik orang lain saat kau melakukan hal sama, bukan?”

“Aku sedang menunggu seseorang. Bukan keluyuran.”

“Di tempat ini?” Gadis itu bertanya—yang lagi-lagi sambil memilin rambut. Kepalanya berputar melihat kanan kiri yang terasa sunyi. Lorong-lorong panjang bercat putih yang disinari cahaya remang menjadi pemandangan utama. “Menunggu siapa?”

Pria itu menghembuskan napas berat. Tatapannya jatuh pada pepohonan yang kini terlihat seperti bayangan raksasa di tengah taman. Seram. Bayangan itu mengingatkannya pada bayangan gelap yang memisahkan jarak antara dirinya dan gadis yang ia tunggu. Bayang kenyataan sekelam black hole.

“Menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang lagi, malam ini,” pria itu berkata dengan nada sedih. “Ia sudah pergi terlalu jauh.”

“Tapi kau memutuskan tetap menunggunya?”

“Aku harus minta maaf. Aku yang membuatnya pergi. Aku ingin menebusnya.” Pria itu menghentikan kalimatnya saat ia menyadari sudah bercerita terlalu banyak pada orang asing. “Sudahlah. Kau tak akan mengerti.”

Gadis itu tertawa lagi. Mata hazel-nya tertutup dan membuat pipinya merekah sempurna. “Bukankah setiap orang yang datang memang harus pergi suatu hari? Kupikir itu hal biasa. Kau datang, lalu kau pergi. Ada yang lahir, lalu ada yang mati. Hidup sesederhana itu kan?”

“Tapi bagimana kalau kepergiannya adalah kesalahan? Bagaimana kalau kepergian orang itu tidak seharusnya terjadi?” Pria itu berkata sedikit emosi. “Gadis itu tidak akan mati—kalau bukan karena ulahku. Ini semua salahku.”

Tangan gadis bermata hazel yang sibuk memilin aneka benda berhenti di udara. Ia menengok ke arah pria itu, membiarkan padangan mereka bertumbukan.

“Ya, gadis yang kutunggu sudah tak ada lagi di dunia ini.” Sang pria menjawab pertanyaan yang keluar tanpa kata dari mata hazel itu dengan singkat.

Ada jeda sebentar usai pria itu memaparkan kebenarannya. Fakta bahwa ia menunggu seseorang dari alam baka. Pria itu membiarkan si gadis pemilin terjebak dalam bingung. Seperti yang sudah-sudah, jika ia mengatakan kebenaran ini pada orang asing—yang kebetulan menyapanya, hanya ada dua jawaban yang ia dapati: orang itu akan segera meninggalkannya, atau memanggil petugas keamanan.

Tebakannya salah. Gadis berambut pirang itu malah kembali mengeluarkan gerakan andalannya, lalu berujar ringan. “Kupikir seseorang yang kau tunggu itu adalah orang yang sangat berarti.”

Pria itu mengangguk pelan. “Dia adalah gadis yang sangat baik hati. Kelembutannya mejadi kekuatan yang mengurung monster dalam kepalaku.” Ia berkata dengan nada berat. “Tapi, dia memilih orang lain—bukan aku, dan itu membuatku marah. Aku lepas kontrol dan membiarkan monster itu lepas lagi. Dan itu membuatnya pergi untuk selamanya…”

“Jika dia orang baik, kupikir kau tidak perlu khawatir.” Gadis itu menyela. “Orang yang baik bisa mati. Tapi kebaikannya tidak akan pernah mati—dan ada selalu bersamamu.”

Pria itu tersenyum tulus untuk pertama kalinya pada gadis pemilin itu. “Kau pandai berkata-kata,” pujinya jujur. “Andai aku sepertimu. Aku ingin meminta maaf padanya…”

“Pada orang yang kau tunggu?”

Pria itu mengangguk.

“Kalau begitu, aku datang mewakilinya memaafkanmu.” Kali ini, gadis itu menyodorkan tangannya pada pria itu.

Pria itu tidak membalas uluran tangannya dan justru menatap gadis itu tidak mengerti.

Gadis itu menarik tangan tidak terbalas, lalu kembali memasang senyum ceria. “Aku harus pergi sekarang,” ujarnya.

“Apa?” Pria itu kaget. “Kenapa tiba-tiba?”

“Setiap ada pertemuan selalu ada perpisahan bukan?” Gadis itu berkata di sela tawa. Senyumnya terlihat semakin lebar.

“Lalu, apa kita akan bertemu lagi?”

“Mungkin—,” ujarnya ringan seraya berbalik dengan gerakan cepat. Ia terlalu sembrono dengan berlari begitu saja, hingga menjatuhkan sesuatu.

Saat tubuh mungil itu hampir mencapai ujung lorong, tiba-tiba ia berbalik dan melambaikan tangan. “Sampai jumpa, Radhit!” teriaknya pada pria yang sedang memungut barang yang gadis itu jatuhkan.

Pria itu terkejut mendapati gadis berwajah asing itu mengetahui namanya. Seingatnya, sepanjang obrolan mereka, tidak ada satupun yang sempat memperkenalkan diri. Baik dirinya maupun gadis bermata hazel itu—oh tunggu! Pria itu baru menyadari kalau gadis pemilin itu menjatuhkan sebuah kartu identitas.

Ia balik kartu di tangan, dan matanya melotot lebar mendapati nama yang tercetak di sana: RENATA. Nama gadis yang ia tunggu. Bedanya, Renata-nya tidak seperti foto itu. Renatanya tidak memiliki mata hazel ataupun rambut ikal dan pirang. Berbeda dengan foto gadis yang menemuinya di malam keseratus satu ini.

“Siapa sebenarnya gadis itu?” Ia hanya bisa bertanya pada diri sendiri.

Fajar hampir menyingsing kala pria itu berjalan pelan menyusuri ubin putih sambil menata hati dan pikirannya. Ia tidak fokus, gundah gulana mengambil alih kendali tubuhnya. Pemuda itu bahkan tidak sadar,saat ia berpapasan dengan segerombolan perawat berseragam putih yang sedang membawa brankard.

Di sana, di atas brankard, terbujur seraut wajah cantik yang tidak lagi bernapas. Gadis bermata hazel dengan rambut pirang.

***

Advertisements

A Star For My New Year

“Icha! Happy new year!” Pemuda itu berteriak keras dihadapanku, tepat saat kembang api menghiasi langit Kota Pekalongan.

Cahaya beragam warna, menari-nari di atas kepalaku. Bersaing dengan bintang, menghiasi gelapnya malam.

“Seru, ya. Aku harap, tahun depan kita bisa merayakannya sama-sama lagi.” Pemuda itu kembali berkata sambil melemparkan senyum yang membuatku susah bernapas.

Malam tahun baru ini, merupakan saat yang baru juga untukku. Saat pertama aku mengenalnya, Cakra—pemuda bertubuh kurus dengan kulit sawo matang.

Kilatan-kilatan cahaya yang ditunggu banyak orang di alun-alun kota, menjadi saksi lahirnya sebuah kisah…

***

Malam ini udara terasa dingin. Padahal beberapa hari belakangan, hujan tidak pernah turun meski ini bulan Desember yang dikenal sebagai bulan hujan. Namun begitu tahun baru tiba, hujan mendadak menyiram bumi dengan teramat dasyat sedari pagi.

Aku melongok Gucci di pergelangan tangan kiriku. Waktu menunjukan pukul 11.15. Tetes hujan terus-menerus turun dari langit yang gelap. Aku menengadah sambil memejamkan mata. Mencoba menikmati sentuhan air yang jatuh di tanganku.

“Suka hujan?”

Aku menengok dan mendapati Cakra—pemuda bertubuh 170 cm yang baru kukenal lima menit lalu, berdiri di belakangku.

“Kamu bikin kaget,” ujarku membalas.

“Lagi ngapain di sini?” tanyanya sambil berdiri menjajariku di ujung teras kost sahabatku, Dilla.

“Nggak ngapa-ngapain kok,” jawabku sambil menggeleng pelan. “Dilla mana ya? Lama…” Aku mulai mengeluh dan melongok bagian dalam kost Dilla yang sudah sepi. Sebagian besar penghuninya sudah keluar untuk menikmati malam tahun baruan bersama pacar, keluarga, atau teman.

Aku sebenarnya paling malas ikut acara semacam ini. Apa enaknya menatap kembang api yang hanya muncul kurang lebih 15 menit, namun harus berjuang di tengah dingin dan hujan, juga macet. Lebih enak tidur di kasur yang hangat bukan?

Setelah delapan belas tahun berlalu, ini adalah kali pertamaku keluar di malam tahun baru. Aku sebenarnya melakukan ini hanya demi Dilla. Sahabatku itu sedang naksir berat sama teman masa kecilnya sekaligus tetangganya, yang bernama Alan.

Entah bagaimana ceritanya, malam ini Dilla berhasil mengajak Alan jalan—walau tentu saja bukan hanya mereka berdua. Alan mengajak temannya, Cakra, jadi akhirnya Dilla terpaksa mengajakku. Aku tidak tega menolak. Jadilah akhirnya aku berdiri di kost Dilla sekarang. Kedinginan, menunggu gadis centil itu keasikan dandan.

“Dilla ada tuh, masih asik ngobrol sama Alan, kayaknya.” Cakra menjawab pertanyaanku sambil ikut memandang ke bagian dalam rumah model kuno yang memang digunakan untuk kost-kostan itu.

Aku menghembuskan napas panjang.

“Udah nggak sabar pingin tahun baruan ya?” tanya Cakra lagi. “Sabar, jam setengah dua belas aja belum, kan?”

“Nggak juga. Aku lebih ingin pulang cepat,” sergahku. “Lagi pula, aku nggak tahu apa asiknya berdesak-desakan hanya untuk melihat kembang api.”

Cakra tertawa ringan. ”Kamu lucu. Sabar ya, Dilla sama Alan lagi reunian tetangga kayaknya…”

Mau tidak mau, aku tertawa mendengar kelakarnya. “Kamu ada-ada aja.”

“Kamu nggak kedinginan di sini?” Cakra kembali bertanya. “Suka hujan ya?”

Aku menggeleng kecil. “Nggak juga. Aku lebih suka cerah.”

“Kenapa?”

Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. “Soalnya aku bisa lihat bintang. Kalau hujan begini, bintangnya pada ngumpet semua, ketutup awan. Aku jadi merasa sepi gitu, sendirian. Kalau ada bintang, aku senang. Rasanya kayak ada yang nemenin.”

Benar, sebagai anak tunggal dengan bapak dan ibu yang sering bekerja hingga malam, membuatku sering menghabiskan waktu sendirian di rumah. Satu-satunya temanku adalah bintang di malam hari yang bisa kulihat kapan saja dari balik jendela.

Detik berikutnya, kami sudah larut dalam obrolan tentang banyak hal. Mulai dari masalah perayaan tahun baru—yang ternyata kita sama-sama tidak terlalu suka, juga tentang beragam trend dan tutupnya megamall Sri ratu.

Semakin kami banyak ngobrol, semakin banyak kesamaan yang bisa kutemukan di antara aku dan Cakra.

***

“Cakra, pernah nggak sih kamu mikir kalau setiap orang pasti punya bintangnya masing-masing?” tanyaku pada Cakra saat kami di atas motor dalam perjalanan menuju ke alun-alun kota.

Cakra sebagi orang baru kukenal—dikenalkan oleh Dilla lebih tepatnya, untungnya adalah orang yang menyenangkan. Cakra cukup pandai membawa suasana hingga walau kami baru kenal, tidak ada rasa canggung untuk ngobrol santai. Walau sejak berangkat, obrolan kami terlalu random untuk diambil benang merahnya.

“Kenapa sih kamu suka banget sama bintang?” Cakra tidak menjawab pertanyaanku, tetapi justru balik bertanya.

“Kan tadi aku udah jelasin. Kalau ada bintang, aku jadi nggak kesepian.” Aku menjawab setengah berteriak.

“Ada atau nggaknya bintang itu nggak ngaruh, Cha. Yang ada, kita hampa dan kesepian kalau belum menemukan bintang hati kita.” Kali ini Cakra terdengar sok puisi, sok dewasa, dan itu justru terdengar konyol.

Aku tidak tahan untuk tidak tertawa.

“Hei, ini serius. Sama seperti lagunya Dewa yang judulnya kosong…” Cakra tampak tidak terima saat aku menertawakannya.

“Di tengah keramaian, aku masih merasa sepi…” potongku menyanyikan lagu Dewa yang dimaksud Cakra. “Sendiri memikirkan kamu…”

“Oh, terima kasih. Kamu tidak perlu memikirkanku sekarang, karena sekarang kita sedang bersama.” Cakra membalas dengan narsis yang membuat tawaku semakin meledak.

“PD! Emang ada yang mau mikirin kamu?” Gaya skeptisku kumat.

“Banyak dong. Gini-gini, aku banyak fansnya…” Cakra ikut tertawa sambil terus mengeluarkan jurus narsisnya yang seakan tidak terbatas.

“Mimpi apa aku kenal sama orang kayak kamu.”

“Itu artinya kamu beruntung kenal sama orang kayak aku, Cha.” Cakra menyahut sambil tertawa.

“Um, berarti sudah ketemu bintangmu dong,” balasku tidak mempedulikan ucapannya.

Cakra diam, tanpa menjawab.

Tawaku kembali meledak.  “Katanya banyak fans, masa satu bintang aja nggak punya?”

Sayup-sayup aku mendengar Cakra menggerutu. “Emang kamu sendiri punya bintang?” Cakra membalas dan membuatku mati gaya.

Aku memang belum punya sih…

Sebelum Cakra tertawa, aku segera beralasan. “Aku nggak nyari bintang. Aku cuma mau lihat kembang api, kok malam ini.”

***

“Hoam…” Aku tidak tahu sudah berapa kali aku menguap. Membosankan!

Pemateri yang sedang memberikan kuliah umum itu, sama sekali tidak menarik minatku. Tidak lucu, gaya bicaranya datar, tampangnya juga pas-pasan.

Ditambah lagi, aku kurang tidur gara-gara acara tahun baruan semalam. Lagi pula, yang membuat acara iseng banget sih. Sudah tahu libur tahun baru, malah mengadakan kuliah umum. Bolehlah pemateri dari luar negeri, tapi tetap saja menyebalkan.

Tiba-tiba—Pluk…

Sebuah gulungan kertas menghampiri kepalaku. Sial! Siapa sih yang iseng?

Kubuka gulungan kertas itu.

Kalau menguap ditutup, Neng! Nggak sopan!

Apaan ini? Siapa orang yang Iseng? Suka-suka akulah, mau menguap, mau tidur, atau bahkan mau jungkir balik. Pandanganku segera menjelajah ke sekeliling. Mencari tersangka.

“Cari apa sih, Cha?” tanya Dilla bingung melihat tingkahku.

“Orang iseng,” sahutku masih sibuk mencari.

Dari sepengamatanku, peserta seminar semuanya diam dan serius mendengarkan. Sepertinya tidak ada yang memperhatikan aku. Lalu siapa?

Akhirnya pandanganku tertumbuk pada makhluk menyebalkan yang bersandar pada tiang besar ruang seminar dengan kostum jas almamater yang menutupi tubuh kurusnya. Ia menjulurkan lidah dengan santai.

“Cakra!” bisikku geram.

“Dill, balikin kertasnya. Awas itu anak!” seruku penuh dendam sambil menatap tajam ke arah Cakra yang kini memasang ekspresi geli.

“Ngapain kamu?” Dilla kembali bertanya dengan heran.

“Balas. Aku nggak terima!” ujarku tanpa kehilangan fokus untuk menulis balasan pada makhluk tengil itu.

“Kelakuan kalian kayak anak kecil.”

“Bodo. Dia yang mulai duluan,” jawabku tidak perduli. Aku siap-siap melempar kertas tanpa perduli pada Dilla yang cuma geleng-geleng sambil menatapku.

Dan…
“Oke. Adek cantik yang mengacungkan jari. Silahkan kalau mau bertanya” teriakan menggema sang moderator seminar, mendengingkan telingaku.

Aku merasa menjadi pusat perhatian dadakan. Aku kembali manatap sekeliling. Tidak ada yang mengangkat tangan di sekitarku! Sekilas, aku bisa melihat Dilla yang sedang menahan tawa.

Aku menatap nanar tanganku sendiri teracung ke atas. Aku bersiap melempar, tetapi dikira akan bertanya? Oh, my God! Rasanya aku mau mati saja!

Tanya? Tanya apa? Aku bahkan tidak tahu materi apa yang sedari tadi dibicarakan.

Kulihat di sudut lain, Cakra sedang tersenyum geli sambil menatapku. Ia bergerak mendekat sambil menenteng microphone selaku panitia kegiatan.

Dasar menyebalkan. AWAS KAU CAKRA!!!

***

Aku duduk di dekat lapangan basket, menunggu Dilla. Hari ini, kami berencana untuk mengerjakan tugas di perpustakaan jam 9 pagi. Ini sudah jam sepuluh kurang, tapi gadis itu belum muncul.

Aku bersantai diri di bangku yang terletak di bawah pohon. Selain rindang, aku juga bisa melihat segala penjuru dengan jelas. Termasuk lapangan basket yang sedang ramai sekitar sepuluh meter di depan.

Di sana ada Cakra yang tampaknya ikut bermain. Aku juga melihat beberapa cowok dari fakultasku. Cakra tampak bersemangat sekali. Aku terlena melihat permainan basket di depan sana. Tampak sangat menyenangkan. Tepat saat itu, tiba-tiba Cakra menoleh. Ia menatapku, lalu melambaikan tangan.

Aku manyun, dan membalasnya dengan acungan kepalan tangan ke udara. Aku masih kesal gara-gara kejadian beberapa hari yang lalu, saat seminar.

Cakra tampak tertawa, lalu kembali sibuk dengan bola basketnya.
Aku menyandarkan bahuku di pohon sambil meluruskan kaki. Aku memilih mulai berfokus membuka novel Padang Bulan, yang belum sempat kubaca.

Tiba-tiba… Clap…
Sepasang tangan menutup mataku. Aku diam saja. Kuyakin itu Dilla. Aku pura-pura tak bereaksi. Biarkan saja dia bosan dan melepaskan tangan dengan sendirinya. Daripada kuladeni, bisa-bisa keusilannya semakin menjadi-jadi.

Beberapa waktu berlalu, kenapa tidak juga ia lepas? Aku jadi jengah sendiri. “Dilla! Lepasin tanganmu!”

Dilla diam, tanpa respon.

“Dill, nggak usah bercanda deh!” Aku mulai kesal.

Masih tidak ada jawaban, Aku pilih meronta dan menarik tangan yang menutupi mataku.

Aku baru saja akan meneriakan nama Dilla, kalau aku tidak menyadari bahwa ini bukan tangan Dila! Tangan gadis itu tidak sekasar ini. Aku makin syok saat menyadari, ini kan tangan cowok!

Dengan reflek, segera kulepas tangan itu lalu menengok cepat. Mulutku ternganga lebar saat melihat Cakra berdiri di sana sambil tersenyum sok manis. Kesal, aku pilih mengabaikannya dan kembali menatap novel di tanganku.

“Duh, masih ngambek nih…” kata Cakra sembari duduk disampingku.

Aku meliriknya sebal.

“Jadi cewek jangan sinis gitu dong… Ntar nggak ada cowok yang berani dekat-dekat loh,” tambahnya membuatku semakin kesal.

“Bodo!”

“Icha…” panggilnya dengan nada sok manis. Aku enggan menoleh hingga Cakra mengulang panggilan beberapa kali.

“Apa?”

Cakra diam sebentar. “Sorry ya, kalau aku bikin kamu kesal terus,” pintanya dengan nada serius.

Aku menoleh.

“Aku cuma bercanda, Cha. Serius!” Tangannya terangkat dan membentuk huruf V di udara. “Kemarin pas pelatihan, juga hari ini,” lanjutnya dengan ekspresi memelas seperti anak kucing yang imut.

Aku menatapnya beberapa waktu hingga tanpa sadar, aku tersenyum. “Dengan syarat dilarang bikin acara di hari libur,” candaku menyindir kegiatan kuliah umum yang digagas anak-anak BEM.

“Iya deh… Tapi sekarang, daripada bengong di sini, makan aja yuk. Aku traktir deh.”

“Dalam rangka apaan tiba-tiba traktir?” tanyaku curiga. Cakra kan sering iseng.

“Curigaan amat sih… Serius! Ini sebagai permintaan maaf. Gimana?”

Aku berpikir sebentar. “Oke”

***

Lagi-lagi, aku harus menunggu Dilla dengan setia. Anak itu lama sekali! Padahal dia bilang, hanya mau bertemu Alan sebentar. Tapi ini sudah hampir dua jam!

Walau satu kampus, aku merasa asing sekali di tempat ini, Fakultas Ekonomi. Aku hanya bisa menyesal kenapa aku mau menemani Dilla sendirian.

“Icha? Kamu ngapain di sini?” tiba-tiba suara mengejutkanku.

“Cakra,” gumanku

“Ngapain?” tanyanya lagi.

“Oh aku?”

“Iya. Siapa lagi.”

“Nganterin Dilla. Katanya, mau ketemu Alan sebentar.”

Cakra menatapku sambil bergumam. “Oh, gitu.”

Beberapa cowok melewati kami sambil kasak kusuk. Kuyakin itu teman-teman Cakra.

“Duh, aku ada acara nih sama anak-anak.” Cakra melirik ke arah teman-temannya, dan kembali memandangku.

“Ya udah sana, siapa juga yang minta ditemenin. Lagian paling juga Dilla sebentar lagi datang,” jawabku sok tenang.

“Yakin?” tanya Cakra sambil menatapku sangsi. Kubalas dengan tatapan mengusir, tapi sepertinya dia tidak perduli. “Nggak ah, kamu kayak anak ayam hilang gitu.”

Lagi-lagi, Cakra mengejekku dengan telak. Aku baru akan membalas saat tiba-tiba Cakra berteriak memanggil temannya.

“Rizky!”

Teman Cakra yang bernama Rizky itu mendekat. Kami pun berkenalan, dikenalkan Cakra tepatnya. Lalu setelah Cakra pergi, ia menemaniku menunggu Dilla.

***

Seiring berjalannya waktu, aku dan Cakra semakin dekat. Bukan dekat karena ada sesuatu, hanya saja kami jadi sering keluar guna menemani Dilla dan Alan.

Aku dan Cakra sama-sama heran. Dilla dan Alan sudah jelas saling menyukai, tetapi kenapa hingga detik ini mereka masih canggung dan selalu mengajakku dan Cakra setiap kali ketemu?

Demi melancarkan hubungan mereka, aku dan Cakra sering berpura-pura ada urusan di tengah acara jalan-jalan kami—lalu aku dan Cakra pergi, memberi kesempatan Dilla dan Alan berduaan.

Hingga suatu sore…
“Cha, keluar yuk,” ajak Cakra mendadak saat aku asik membaca novel di rumah.

“Keluar?” tanyaku ragu. Ini adalah kali pertama Cakra mengajakku langsung. Kami memang sering jalan atau pergi berdua, tetapi biasanya itu saat kami usai meninggalkan Alan dan Dilla.

“Iya, main aja…”

Aku menimbang sejenak sebelum memutuskan. Aku tidak ada kegiatan sore ini. Dilla juga sejak siang tidak bisa dihubungi. “Em, boleh deh.”

“Sip, lima menit lagi aku nyampe rumah kamu,” ujar Cakra sebelum mematikan sambungan telepon.

Aku bengong. Lima menita katanya? Aku bahkan belum mandi dan siap-siap.

Satu jam kemudian, aku dan Cakra sudah asik berkeliling kota Pekalongan. Setelah puas berputar dan mampir ke Pasir Kencana sebentar, Cakra mengajaku ke Jong Java—sebuah caffe yang menjadi langganannya.

Kami sedang asik membicarakan tentang kegiatan BEM yang Cakra ikuti, saat tiba-tiba ada seorang cewek melewati kami—dengan berjalan cepat, sambil menangis.

“Laras!” Cakra berseru dengan nada terkejut.

Cewek itu berhenti dan berbalik. Detik berikutnya, tiba-tiba ia berlari ke arah Cakra yang sudah berdiri dari kursinya. Dengan gerakan cepat, cewek itu memeluk Cakra dan menangis hebat.

Deg! Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku hanya bisa bengong tanpa tahu harus bagaimana.

“Kamu kenapa?” Cakra bertanya pada cewek yang dipanggil Laras itu.

Cewek itu melepaskan pelukannya dengan tangis yang belum reda.

“A..aku…” Ia tampak sulit berbicara.

Cakra sendiri tampak menatap gadis itu dengan cemas.

“Kurasa lebih baik dibicarakan sambil duduk.” Aku menyela.

Cewek bernama Laras itu kemudian menoleh ke arahku. Tampaknya dia baru menyadari bahwa ada orang lain di sini, selain Cakra. “Maafkan, aku.” sesalnya. “Aku pulang dulu.”

Cakra menahan tangannya, saat gadis itu hendak beranjak. “Tapi kamu pulang sama siapa? Kondisi kamu kayak gini…” Wajah Cakra pias berhias khawatir.

Cewek itu menggeleng lemah. “Aku nggak apa-apa,” katanya sambil menepis tangan Cakra dan bergegas pergi. Gadis berambut panjang itu tampak menyedihkan. Ia berjalan dengan tertatih sambil sesekali mengusap matanya.

“Apa dia akan baik-baik saja?” gumam Cakra pelan, tapi cukup untukku mendengarnya.

Tampaknya Cakra sangat mengenal gadis itu. Dia juga tampak sangat khawatir. Apa yang harus aku lakukan?

“Antarkan cewek itu pulang.”

Cakra menoleh. “Tapi…”

“Antarkan saja. Kamu khawatir kan?” Aku tersenyum, berusaha meyakinkan.

“Kamu gimana?” tanya Cakra ragu.

“Gampanglah. Sudah sana antarkan saja dulu.” Aku mencoba membujuk. “Jangan khawatir. Aku baik-baik saja kok.”

“Maafin aku ya, Cha…” Sedetik kemudian, Cakra segera berlari mengejar cewek itu.

Aku menghela nafas panjang. Dadaku terasa sesak sekali. Aku ingin segera pulang. Dada kiriku berdetak nyeri…

***

Aku dan Dilla tidak ada kuliah hari ini. Tetapi kami memutuskan pergi ke kampus, mengerjakan tugas.

Sepanjang perjalanan, Dilla menggodaku. Aku tidak tahu kenapa ia menebak—mengolok tepatnya, bahwa aku menyukai Cakra?

Apakah Dilla benar? Apakah aku memang menyukai Cakra? Aku tidak tahu. Pikiranku masih dipenuhi bayangan cewek semalam, Laras.

“Woi, ngalamun!” tiba-tiba satu suara mengagetkanku.

“Cakra!”

“Ngalamunin apaan?” tanyanya lagi.

Aku hanya tersenyum tanpa membalas.

“Pasti ngelamunin jorok.”

“Ye… apaan. Emangnya kamu,” sungutku sebal. “Ngapain ke perpus?”

“Kamu nggak tau ya? Tiap hari kan aku ke perpus. Pinjam bukulah buat dipelajari. Gini-gini kan aku ikut paralel di fakultasku.”

“Hah serius?” tanyaku takjub. Sulit dipercaya, tampangnya tidak meyakinkan begitu.

“Bercanda kali. Biasa, ngecengin cewek-cewek cantik.” Cakra melanjutkan sambil tersenyum puas. “Sayangnya malah ketemu cewek aneh yang lagi bengong.”

Aku manyun.

Detik berikutnya, wajah Cakra tiba-tiba berubah menjadi serius. “Oh iya Cha, soal semalem… Sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu… sayangnya…”

“Cha… sini…” Perkataan Cakra terpotong oleh panggilan Dilla.

“Iya bentar,” sahutku. Kulihat Dilla sedang asik ngobrol dengan Alan dan Rizky. “Kamu mau ngomong apa tadi?” tanyaku pada Cakra.

“Oh, nggak. Aku cuma mau minta maaf aja, udah bikin kamu pulang sendirian.” Jawaban Cakra terdengar tidak meyakinkan.

Tetapi aku pilih menghela nafas tanpa komentar. “Ya udalah, nggak apa-apa.” Aku beranjak menghampiri Dilla dan duduk di sampingnya. Cakra mengikutiku dan duduk di samping Rizky.

“Hai Cha… apa kabar?” tanya Rizky padaku.

Aku tersenyum. “Baik. Lagi pada ngobrolin apa nih?”.

“Biasa bisnis,” ujar Rizky dengan alis terangkat.

“Bisnis apaan?” tanyaku lagi, mencoba mengalihkan pikiran dari Cakra.

“Ntar juga tau.” Rizky menjawab misterius.

Aku pun menyerah. Tidak bertanya lagi. Kami asik mengobrol, hingga tiba-tiba terdengar dering handphone.

“Hallo!”

Oh, rupanya handphone Cakra.

“Nggak. Aku nggak sibuk. Kenapa?” Cakra kembali bersuara. “Oke, aku ke situ sekarang.” Setelah mematikan handphone, Cakra bergegas pergi.

“Mau kemana itu anak?” tanya Dilla kemudian.

“Paling ketemu sama Laras.” Alan berkomentar.

Laras? Bukannya gadis yang kami temui malam itu?

“Laras mantannya Cakra itu?” Pertanyaan yang dilontarkan Rizky menjawab pertanyaan dikepalaku. “Emang mereka balikan lagi?”

“Nggak tau, yang jelas Laras katanya baru diputusin sama pacarnya. Lagi patah hati gitu,” jelas Alan.

“Halah, paling ntar juga balikan lagi sama Cakra. Cakra kan cinta mati ama dia.” Rizky berpendapat.

Dilla menatapku prihatin.

***

Aku dan Dilla baru saja keluar dari bioskop. Setelah kejadian di perpustakaan, Dilla mengajaku jalan-jalan, menghiburku. Aku sungguh berterima kasih padanya.

Aku mulai merasa lebih baik saat kami jalan-jalan ke taman kota, depan musium Batik. Aku dan Dilla menghabiskan waktu berfoto di tulisan BATIK besar, yang menjadi icon kota.

Saat aku dan Dilla hendak istirahat di ujung timur dekat masjid, pandanganku tertumbuk pada satu sosok, Laras. Tiga langkah di belakangnya, aku melihat Cakra berjalan.

“Eh Cha, itu kan Cakra. Dia sama siapa?”

Aku diam saja, mematung melihat mereka. Laras tampak berhenti, lalu berbalik memandang Cakra.

“Cakra, maafin aku ya, aku udah nyakitin kamu. Tapi sekarang aku sadar, cuma kamu yang benar-benar tulus sayang sama aku,” kata-kata Laras terdengar olehku. Jarak kami memang tidak begitu jauh. Meski pelan, aku masih bisa mendengarklan pembicaraan mereka dengan jelas.

“Maksud kamu apa?” tanya Cakra.

“Kamu masih sayang sama aku kan?”

Kulihat Cakra mengangguk pelan.

“Kamu mau nggak jadi pacarku lagi?”

Detik itu juga, mataku panas. Hatiku terasa begitu sakit. Aku segera berlari dan pergi dari tempat itu. Aku tidak kuat.

“Paling mereka balikan lagi. Cakra kan cinta mati sama Laras.” Perkataan Rizky terngiang dibenakku.

Oh, Tuhan… Air mataku terus mengalir, tanpa bisa dihentikan. Dilla benar, aku menyukai Cakra. Aku mencintai cowok itu.

“Cha kamu nggak apa-apa?” tanya Dilla cemas.

“Anterin aku pulang sekarang ya, Dill…”

***

Hampir setengah bulan aku tidak bertemu Cakra setelah kejadian itu. Aku selalu menghindari Cakra, baik secara langsung atau lewat telepon. Apalagi setelah aku tahu dari Rizky kalau Cakra ke Bandung bersama Laras, satu minggu setelah kejadian itu. Laras memang kuliah di sana.

Siang itu, Dilla mengajaku ke Jong Java. Sesampainya di sana, aku kaget dan terharu. Rupanya Dilla memberiku surprise ulang tahun. Kulihat ada Alan dan Rizky juga.

“Terimaksih semua…” Aku sangat terharu. Aku benar-benar lupa kalau hari ini ulang tahunku, gara-gara terlalu sedih memikirkan Cakra dua minggu ini.

Aku melihat sekeliling. Cakra tidak ada. Dia pasti masih di Bandung bersama Laras.

Usai acara tiup lilin dan potong kue, tiba-tiba Dilla berteriak. “Masih ada satu kejutan lagi!”

Lampu ruangan mati, dan tiba-tiba Rizky sudah membawa lilin dan seikat bunga mawar putih.

“Icha, kamu mau nggak jadi pacarku?”

***

Mengejutkan! Satu minggu setelah ulang tahunku berlalu, tiba-tiba Cakra muncul di depan rumah.

Cakra sedang apa di sini?

“Kamu kayak kaget banget, Cha…” Cakra terkekeh. “Apa kabar?”

Masih dengan setengah sadar, aku mengajaknya duduk. Melihat Cakra di sini, menyadarkanku bahwa aku sangat merindukannya.

“Kamu tahu nggak, aku kangen banget sama kamu. Waktu kayak berjalan lambat banget di sana,” lanjut Cakra membuatku tersenyum.

“Kamu kemana aja sih?” tanyaku pada akhirnya.

“Aku ke Bandung,” jawabnya masih dengan senyumnya yang terus mengembang.

“Ke tempat Laras ya?” tanyaku pedih.

Cakra tampak bingung mendengar pertanyaanku, kemudian menggeleng.

“Bukannya kalian balikan lagi?” tanyaku hati-hati.

Cakra melotot mendengar pertanyaanku lagi. Ia tampak lebih terkejut lagi.

Kutebak, mungkin Cakra bingung, dari mana aku tahu?

Tetapi tebakanku salah. Cakra malah tertawa terbahak-bahak sebelum ia tiba-tiba menatapku serius. “Nggaklah. Aku sudah suka sama orang lain kok. Buat aku, dia cuma teman aja sekarang.”

“Tapi…”

“Aku ke Bandung karena nenekku yang ada di sana sakit. Aku jadi lama di sana, karena nenekku meninggal,” katanya memotong perkataanku. Wajahnya sendu.

Aku terdiam.

“Makanya, hape kumatikan. Aku butuh waktu sendiri. Aku sedih banget karena nenek adalah orang yang paling dekat denganku. Tadinya aku mau pamitan sama kamu, tapi kamu menghilang. Nggak bisa dihubungi.”

Aku masih terdiam.

“Maaf ya, aku nggak bisa datang ke ulang tahun kamu. Meski telat, selamat ulang tahun,” katanya sembari menyodorkan bungkusan mungil padaku. “Buka deh.”

Perlahan kotak kecil itu kubuka. Aku takjub, itu cincin. Bentuknya sederhana, tetapi sangat cantik. Aku tersenyum sambil mengamati cincin itu. Aku tersenyum senang.

“Sebelum nenek pergi, beliau ngasih cincin ini sama aku. Katanya, dia ingin agar aku kasih pada orang yang paling kusayangi.” Perkataan Cakra selanjutnya segera membuatku melambung.

Tapi bukankah dia balikan sama laras? “Bagaimana dengan Laras?”

“Kan aku sudah bilang. Aku suka sama orang lain.”

“Siapa?” tanyaku dengan jantung yang berdebar lebih cepat.

“Cakra!” Sebuah suara membuat perkataan Cakra terpotong. Aku dan Cakra menoleh.

“Rizky?” gumam Cakra bingung. “Kamu ngapain ke sini?”

“Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain? Aku kan pacarnya Icha sekarang.”

Cakra tampak terkejut.

Aku menelan ludah, bingung. Kami bertiga terdiam. Suasana berubah menjadi tidak nyaman.

“Oh, i…iya. Icha tadi sudah cerita kok.” Cakra orang pertama yang mengambil alih keadaan. “Kalau begitu, aku pulang dulu ya…” Dengan gerakan cepat, ia pun menghilang dengan motornya.

Aku merasa pusing. Apakah Cakra menyukaiku? Apa aku tidak salah? Aku merasa mataku mulai berkunang-kunang.

***

Aku duduk termangu di depan rumah, menunggu Dilla. Hari ini, kami berencana menikmati tahun baru lagi di alun-alun kota. Tidak terasa, sudah satu tahun, sejak aku mengenal Cakra.

Setahun berlalu dengan cepat, berhiaskan tawa juga air mata.
Aku putus dengan Rizky dua minggu usai Cakra datang ke rumah. Aku sadar aku salah. Aku hanya menerimanya saat aku berpikir untuk mencari pengganti Cakra yang saat itu kupikir balikan dengan mantannya.

Sejak saat itu—hampir satu bulan ini, aku juga tidak pernah lagi bertemu Cakra. Aku juga tidak menghubunginya. Aku tidak mau dianggap sebagai gadis yang memutuskan satu cowok, demi cowok lain. Gadis yang mudah berpindah ke lain hati.

Walau sesungguhnya aku merindukan Cakra, tapi biarlah waktu yang menjawab. Mungkin, Cakra bukanlah bintangku.

Aku membuka tas dan mengeluarkan cincin yang Cakra berikan padaku. Aku mengamatinya sejenak. Ini cincin yang sangat cantik.

“Nggak suka sama cincinnya?”

Aku menoleh. “Cakra!” seruku kaget. Sejak kapan dia sudah berada di depan teras rumahku?

“Kenapa nggak dipakai cincinnya?”

“Hah? Em… nggak apa-apa,” dengan gerakan cepat, kumasukan lagi kotak kecil itu ke dalam tas.

“Jadi ingat, dulu pertama kita kenalan saat mau perayaan tahun baru gini ya…” Cakra membuka suara.

Aku tersenyum mendengarnya, ternyata dia masih ingat. Aku terdiam tidak tahu harus berkomentar apa. Aku pilih melirik jam di tangan kiriku, dan mendengus sebal. “Dilla lama banget sih.”

“Dilla nggak jadi datang.”

“Hah!”

“Dilla udah duluan ke alun-alun sama Alan.”

“Hah?”

“Iya. Dilla mau duluan, jadi aku yang jemput kamu.”

“Hah…” Aku makin bengong.

Cakra berdecak sebal. “Nggak ada kata-kata lain selain ‘hah’ ya?” Ia bertanya dengan nada kesal.

Aku terdiam lagi.

“Bukannya kamu nggak suka tahun baruan di alun-alun?” Cakra bertanya lagi.

Aku megangguk pelan. Aku tidak suka, hanya saja tempat itu mengingatkanku pada Cakra…

“Kita rayakan dengan cara baru, mau nggak?”

“Gimana?” tanyaku tidak mengerti.

Cakra mengeluarkan setumpuk kembang api dari tas ransel yang dibawanya. “Nggak usah ke alun-alun kan?” kelakarnya sambil mengedipkan mata.

Beberapa menit kemudian, kami sudah asik bermain kembang api di depan rumah. Bapak dan ibuku bahkan ikut bergabung. Mereka memang tidak terlalu mengijinkanku melihat pesta kembang api di alun-alun. Keduanya tampak lebih senang melihatku merayakan tahun baru di depan rumah bersama Cakra dan keluarga.

Jam setengah dua belas, aku duduk di teras bersama Cakra. Kedua orang tuaku sudah masuk ke rumah sejak tadi, kecapekan.

“Berikan tangan kamu,” kata Cakra tiba-tiba. Tanpa ijin, dia meraih tangan kiriku, lalu memasukan cincin pemberiannya ke jari manis.

Kapan dia mengambil cincin itu dari tasku?

“Mulai sekarang, kamu jadi miliku. Jadi nggak boleh punya pikiran aneh-aneh lagi sama aku.” Cakra berkata sambil tersenyum manis.

“Aku hanya sayang sama kamu, Cha. Kamu nggak boleh lepas cincin ini lagi.”

“Kamu belum tanya, apa aku mau apa tidak,” sungutku sambil menutupi rasa bahagia yang muncul.

“Kamu maunya aku pakein cincin di depan orang tuamu ya? Mau kupanggil lagi?” tanya Cakra sambil tersenyum usil.

Aku tertawa kecil menutupi rasa grogi.

“Aku mencintaimu, Cha… Kamu mau kan jadi bintangku?”

Di kejauhan, langit kembali bertabur kembang api. Malam pergantian tahun, usai.

Aku tersenyum. Aku tidak lagi butuh kembang api lagi, karena aku sudah memiliki bintangku sekarang. Satu-satunya bintang yang paling kubutuhkan, Cakra.

***

Cerpen ini diikutkan dalam lomba #NulisKilat oleh penerbit Plot Point dan Bentang Pustaka!