Misi Pertama : SunMor Yogyakarta – Tentang Venus vs Mars

Sebagai perempuan, hal yang menyenangkan tentu saja belanja. Dalam hal ini, kurasa aku sangat perempuan. 😀 Jadilah setelah berkali-kali gagal ke pasar pagi UGM yang terkenal itu, pagi hari tanggal 12 Februari, aku memaksakan diri, harus dan wajib ke SunMor. Yep, ini kujadikan sebagai misi pertama dalam Tantangan 21 Hari melakukan hal baru. Sepertinya belum afdol jadi orang Jogja kalau belum ke SunMor. #alesan 😀

Aku dan sebut saja mamas Cancer, pergi ke SunMor agak siang. Sekitar pukul 10an. Kami ke sana dalam kondisi kelaparan, jadilah tujuan utama yang dicari adalah makanan untuk sarapan. Sarapan yang kesiangan. Kami memutuskan masuk ke warung bertenda merah, di antara deretan warung yang menghias SunMor saat itu. Aku memesan nasi kuning, dan mamas cancer memesan opor ayam. Kami makan lahap diselingi pengamen berbagai jenis, mulai dari banci hingga mahasiswa kuliahan.

Kami melewati penjual roti maryam yang antriannya panjang, saat aku bertanya kepada mamas cancer, “Apa yang kau pikirkan saat melihat ini semua?” Aku menunjuk SunMor dan keramaiannya.

“Biasa aja. Ribet.” Ia menjawab dengan cepat tanpa berpikir.

“Oh begitukah sunmor dalam benak lelaki?” batinku seraya tertawa. Hell yeah, mungkin wanita disebut makhluk venus, dan lelaki adalah mars, sebagai penanda perbedaan, benar adanya. Kami sangat berbeda.

Aku, pertama kali melihat SunMor, menyaksikan hamparan baju, tas, jilbab, aneka makeup, jajan, pernak-pernik, dan lainnya, langsung dibanjiri semangat. Rasa-rasanya ingin membeli semua yang ada kalau saja duit di dompet unlimited. Haha…

Namun pada akhirnya, kami tak mengelilingi setiap bagian SunMor. Hanya separuh yang kami jelajahi. Usai melihat jaket dan sepatu, aku iseng bertanya kepada mamas cancer. “Habis ini mau ke mana?” Kutanya.

“Terserah, aku nggak ada acara.” Ia membalas santai.

“Um, mau lanjut ke sana?” aku menunjuk bagian SunMor yang belum kami jelajahi. Dari belokan usai jembatan.

“Nggak.” Ia membalas dengan cepat lagi. Rupanya kata terserah yang tak berarti benar-benar terserah, tak hanya dimiliki makhluk dari venus. Kami pun segera menuju parkiran motor yang mencarinya butuh perjuangan sendiri, penuh di mana-mana.

Dalam perjalanan, kami memutuskan berbelok ke Togamas di daerah Kotabaru. Alasannya, di samping Togamas ada kedai minum, tepat di saat sedang kehausan. Walau pada akhirnya, kami justru menghabiskan lebih banyak waktu di dalam toko buku.

Aku asik di rak penuh novel, sedang mamas cancer sibuk di wilayah non fiksi. Aku sedang bingung hendak membeli seri kedua buku milik Eric Weiner atau Matahari milik Tere Liye yang sudah kubaca seri satu dan duanya, kala aku menyadari sudah memakan waktu yang cukup lama di sana.

Kuputuskan menghampiri mamas cancer yang masih di depan rak buku-buku komputer.

“Aku agak bingung nih,” kubilang. “Lama ya?”

“Nggak apa-apa kok lama kalau di sini. Aku lebih betah di sini dari pada SunMor.” ujarnya ringan, lalu kembali sibuk memilih bukunya.

Jadilah, hari itu kami berakhir dengan dua buah novel dan dua buah buku komputer. Begitulah, selera baca kami pun berbeda.

Advertisements

Misi nomer 0 : Pasar Njati dan tenggang rasa yang mulai hilang

“Hal baru apa yang sudah kau lakukan hari ini?”

Pertanyaan di atas nyaris selalu dilontarkan oleh suami saban pulang kerja. Ia bahkan masih mengenakan seragam kantor dan menenteng tas di pundaknya. Barangkali ia jengah mendapati istrinya masih asik di depan televisi, atau hanya ‘jualan semangka’ seharian. Jualan semangka adalah istilah yang berarti gelundungan atau bermalas-malasan di tempat tidur dalam jangka waktu lama. Ya, istilah yang dibuatnya untuk mengolokku.

Yogyakarta, kota yang penuh dengan seniman ini menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun lalu. Sudah dua bulan lebih sedikit, kalau dihitung. Kukira, waktu berjalan terlalu cepat. Dalam dua bulan lebih yang kuanggap singkat ini, aku ternyata belum melakukan apa pun. Aku masih betah mengurung diri di rumah, menonton drama, anime, dan musik video (MV), atau main game dimulai dari matahari terbit hingga tergelincir dan menghilang di ujung barat.

Ah ya, aku sangat produktif!!!

Setelah kupikir lagi, hari-hariku benar-benar menyedihkan! Aku bahkan tidak berbaur dengan baik, dengan tetangga. Aku terlalu asik menikmati dunia baru bernama : pengangguran ibu rumah tangga. Astaga!

Tapi tolong jangan salah paham, ini bukan berarti aku antisosial ya. Setidaknya walau satu dua orang, aku tahu siapa tetanggaku dan sesekali menyapa saat hendak keluar rumah untuk membeli makan. Oh okey, aku memang belum masak sendiri. Tetapi beberapa hari lagi aku berencana memasak sendiri layaknya ibu rumah tangga yang lain kok. Um, soal masak memasak ini out of topic deh kayaknya, bahas kapan-kapan aja ya. 🙂

Omong-omong soal tetangga, aku punya tetangga yang kukira cukuplah kalau kami disebut akrab. Orangnya periang. Ramah, dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Usianya kutaksir empat puluhan ke atas. Wanita berambut pendek ini kita sebut saja, Bu Lesita. Hobinya masak, dan beliau juga sering dapat pesanan makan dari tetangga lain di perumahan yang juga malas masak sepertiku.

Dari seringnya pesan makan kepada bu Lesita inilah yang membuat kami lebih akrab. Terlebih beliau sepertiku, 24 jam di rumah. Dari obrolan kami tentang hal hal remeh temeh, gosip tak jelas, hingga sinetron yang tak kumengerti, akhirnya sampailah pada titik di mana Bu Lesita bercerita tentang hidupnya. Kisahnya.

Untuk orang yang kadar kepo-nya hanya 20% sepertiku, aku tidak pernah tahu kalau Bu Lesita hanya tinggal dengan kedua anaknya. Kupikir keluarganya normal, dan suaminya berangkat kerja pagi pulang malam, hingga aku tak bernah bersua. Sesimple itu kehidupan Bu Lesita dalam benakku. Seorang ibu rumah tangga yang suka memasak dengan anak-anak yang sudah besar, dan mereka bahagia.

Sayangnya aku salah. Bu Lesita, di suatu sore yang basah bercerita dengan gurat sedih di wajah. Suaminya udah pergi, kawin lagi. Suami bu Lesita yang tak kutanya namanya itu, dari awal memang suka main serong. Berkali-kali, ditemani kesabaran Bu Lesita akan tingkahnya. Hingga klimaks, suami bu Lesita pilih meninggalkannya, menikahi janda beranak tiga.

Tetapi jangan salah, beliau wanita strong! Kalau kau bertemu dengannya, kau hanya akan menemukan keceriaan, tawa, dan suaranya yang lumayan keras. Ya, beliau berbeda jauh dengan remaja alay yang ditinggal pacarnya lalu gagal move on sih. (Heh?!)

Nah, pagi kemarin untuk pertama kalinya, sejak aku menginjakkan kaki di bumi jogja, aku pergi ke pasar tradisional. Bu Lesita mengajakku ke pasar Njati. Letaknya di pinggir Jalan Magelang, sebelum Jombor. Aku tidak tahu persis di mana, karena kucari di google maps, pasar Njati tak ada. Google maps ternyata kalau gaul sama Bu Lesita. Hahaha… Terlebih, aku diajakknya lewat jalan ‘dalam’ saat menuju ke sana.

Kenapa tiba-tiba aku ke pasar? Tentu saja ada alasannya. Sore hari kemarin, akan ada pertemuan warga perumahan di tempatku. Tak mungkin kan kubiarkan mereka begitu saja? Jadilah aku minta tolong Bu Lesita utuk menyiapkan aneka hidangan yang sekiranya pantas disajikan. Kukira itu hari yang sempurna. Hari di mana aku tak hanya malas-malasan. Aku bisa mematahkan ejekan menyebalkan suamiku. Kukira.

Namun, semuanya berubah saat negara apa menyerang. Okey itu mainstream. Hari itu berubah menjadi hari yang tak sempurna, kala pertemuan warga yang ditunggu-tunggu, yang membuat sibuk sejak pagi hari, berubah menjadi pertemuan yang buruk.

Di tempat kalian tinggal pasti ada kan, orang yang berbeda? Termasuk berbeda dari segi ekonomi? Nah, aku tak mengerti dengan jalan pikiran warga di sini. Mereka seakan tak paham soal Bhineka Tunggal Ika, eh, perbedaan maksudnya.

Hal menyebalkan pertama, kenapa yang dibahas dipertemuan ternyata hanya berputar soal duit? Dari iuran sampah, iuran kas, arisan iuran aspal. Tak ada obrolan lain, semacam bikin pengajian, bikin kegiatan apa gitu, ronda atau apa pun. Blasss. Nihil.

Dan masalah soal duit emang sensitif. Lebih sensitif dari emak-emak PMS lho, serius! Bahasan ‘dana jalan aspal’ pun mengambil alih 70% isi obrolan pertemuan. Singkat cerita, di antara warga perumahan, yang belum bayar cukup banyak adalah Bu Lesita. Dan beberapa, ah bukan, cukup banyak warga yang keberatan dengan hal itu. Katanya mereka keberatan karena karena mereka yang iuran sedang ada yang nggak iuran, pas ngomong ini kelihatan banget lho nyindir Bu Lesita.

Warga khawatir kelak kalau mau bikin jalan aspal, dan Bu Lesita baru bayar sedikit, beliau akan kurang banyak dari jumlah total iuran. Dan mereka takut Bu Lesita nggak bisa bayar kekurangnnya kalau nggak dicicil RP. 50.000, perbulan seperti yang lain.

“Saya akan bayar kalau pas punya rejeki. Tapi dulu kan saya pernah bilang 50.000 buat iuran aspal saja saya keberatan, tapi saya kalah suara. Kalau pas jalan aspalnya rusak dan mau buat lagi, saya pasti bayar. Saya ya nggak akan kabur, rumah saya di situ. Saya nggak mungkin toh, nggak bayar dan ngebiarin jalan depan rumah saya bolong. Nggak diaspal sendiri. Saya ya malu. Tapi sekarang saya belum punya rejeki.” Itu jawaban Bu Lesita kala orang-orang mendesak, dan mulai menyindir dengan cukup kasar.

Hening sejenak usai Bu Lesita berkata demikian. Kupikir usai. Warga sadar, kalau mereka keterlaluan. Tetapi aku salah ternyata. Setelah membahas dana aspal, di penghujung pertemuan mereka membahas tempat untuk pertemuan berikutnya. Dan mereka mendesak Bu Lesita untuk harus mau menjadi ‘tempat penerima’. Sampai-sampai Bu Lesita harus mengulang kembali kalimat yang memilukan. “Kalau saya ada rejeki, iya di tempat saya.” Yang dengan sangat buruknya dibalas. “Harus lho bu, kalau bisa jangan ditunda lagi, biar urut.”

Oh Tuhan, biarkan aku pingsan sejenak.

Single Parent, kedua anaknya masih kuliah, mantan suami hanya bantu biaya kuliah anaknya dua juta sebulan, itu pun kalau tak lupa, Bu Lesita tak kerja pula, dapat uang dari mana? Kok kejam?

Well ya, awalnya kegiatan ke Pasar Njati bersama Bu Lesita ini mau kujadikan misi pertama dari “tantangan 21 hari melakukan hal baru”. Yap, malam sebelumnya, Anggi, bloger rajin yang punya anak ganteng bernama Zahir mengajak anak-anak di grup ikut tantangan 21 Hari melakukan hal baru atau apalah judulnya, aku lupa. Yang jelas, dalam 21 hari itu, kita melakukan hal-hal baru, terserah kita. Aku merasa, ini sangat cocok untuk makhluk pemalas yang jarang keluar rumah sepertiku, makanya i’m join!

Tapi karena kejadian hari ini berubah menjadi curhatan, maka aku putuskan ini adalah misi ke 0, tak terhitung. Besok, baru kita mulai hal baru sesuangguhnya!

Eh, besok mau ngapain ya?

Weirdooo Day

Hari yang aneh untuk liburan!

Hari sabtu, weekend, malam minggu, malam galau untuk para jomblo, atau hari apa pun kau ingin menyebutnya, aku tak peduli.

Aku hanya merasa, hari ini aneh. Itu saja.

Pagi ini, aku terbagun dengan sangat buruk. Malas beranjak dari tempat tidur, loyo, dan berakhir dengan memanjakan diri di depan kipas angin. Melarikan diri dari hawa kamar yang pengap.
Mungkin aku akan tergeletak tidak berdaya di kamar hingga saat ini, kalau saja aku tidak ingat harus meluncur ke samsat sebelum tutup.

Aku pun akhirnya terjebak antrean panjang bersama para penyumbang karbondioksida terbesar.

Dalam kesendirian yang terasing itulah, pikiranku malah kembali ingat sesuatu yang melintas di antara tidur dan sadarku, pagi tadi. Tentang sedikit kegelisahan tentang menulis dan akibatnya.

Aku lupa sejak kapan aku tercebur dalam dunia tulis menulis. Dan aku juga lupa, apa tujuanku menulis…

Semalam, aku membaca novel seorang senior yang memang kukoleksi lengkap novel-novelnya. Dia penulis yang hebat! Piawai membawa pembaca menyelami emosi tokoh. Membawaku pula, turut serta dalam situasi para tokoh, yang endingnya membuatku membutuhkan waktu move on dari cerita yang dibuatnya.

Itu sebuah prestasi yang hebat, kupikir. Saat penulis membawa pembaca larut dan menyatu dalam karyanya. Aku pun memimpikan itu.

Tapi masalahnya, berbeda dari novel dia sebelumnya, aku tidak merasa baik setelah membaca novelnya yang ini. Aku merasa….. seperti… novel itu hanya memberikan hal buruk.

Ha-ha… aku hanya bisa menertawakan diriku. Padahal pada dasarnya bagian dari diriku tidak semuanya baik.

Tapi novel itu cukup membuatku berpikir. Jadi, aku harus berterima kasih. Aku jadi merenungkan kira-kira efek semacam apa yang didapat pembaca dari tulisanku?
Membuatnya lebih baik, menghiburnya, atau justru…. menghancurkannya?

Oh God, aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang kuocehkan saat ini…

Tapi yasudahlah… kupikir, penulis berhak menulis apa pun yang diinginkan, disukai, atau apa pun itu… dengan resiko yang pasti ditanggung sendiri.

Dan rasanya aku harus berhenti nulis sekarang, nomor 92 dipanggil.

Terima kasih telah mengantri…

#OcehanSabtuPagiDiSaatKurangKerjaan 😀

View on Path

RENUNGAN SEPEREMPAT ABAD: SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!

Gyaaa…. nggak nyangka ya aku masih muda… *Heeehhhh*

Huhuhu… Nggak nyangka ih, tau-tau udah tanggal 28 Oktober lagi, udah sumpah pemuda lagi, dan yah… gue ultah lagi.

Nggak ngerti deh hari ini mau nulis apaan sebenarnya. Intinya sih, saya cuma ingin meninggalkan jejak di hari yang konon bersejarah ini, sekaligus ngelap debu dan sarang laba-laba di blog yang terbengkalai.

happy-birthday-gsb

Omong-omong, emang esensi ulang tahun apaan sih? Rasa-rasanya saya ingin berada di bakon rumah sambil memandang bintang-bintang malam, serta merenungkan semangat juang para pemuda di tahun 1928. Hari bersejarah yang secara kebetulan bertepatan dengan hari lahir saya. Tapi mohon dicatat, tahunnya berbeda ya, karena saya masih sangat muda. *Klang*

Sebenarnya saya hanya ingin menatap langit penuh bintang saat memikirkan apa yang akan saya lakukan di hari ulang tahun saya ini? Seraya merenungkan apa saja yang telah saya lakukan selama hidup, yang ternyata sudah seperempat abad ini? Dan bagaimana nasib impian-impian yang saya miliki?

Ah, sayangnya itu hanya khayalan. Saya belum punya rumah berbalkon, dan kostan saya pun hanya berlantai satu. Terlebih, ini siang hari dan hanya ada matahari bertengger di singasananya.

Jadilah saya hanya duduk di depan laptop berwarna putih andalan dengan stiker VIP BigBang yang menutupi merek yang terkadang suka diilangin huruf ‘S’ di belakangnya oleh segelintir orang usil. Tangan saya bergerak-gerak mengetikan huruf hingga menimbulkan sura gemerutuk dari tuts, yang menghasilkan tulisan penuh typo di layar berukuran sepuluh inchi.

Sekitar tiga hari lalu, saya iseng membuka-buka facebook saya pada tahun 2010 ke belakang. Saya bengong saat menyadari bahwa saya pernah alay, saudara-saudara! Astagah! Saya hanya bisa bengong membaca status demi status yang ahhh… saya bahkan lupa kenapa menuliskan hal-hal sealay dengan bahasa selebay itu! Perlahan, otak saya flashback, dan saya menyadari kalau saya sudah hidup cukup lama. Banyak hal berputar dalam kepala saya. Masa kecil saya, masa SD, SMP, hingga hampir menjadi pemuda SMA yang akhirnya insyaf dan menjadi gadis seutuhnya saat kuliah. Semua ternyata terlewati dalam dua puluh lima tahun alias seperempat abad, mameeen. Bukan waktu yang sebentar.

Lalu… kira-kira berapa sisa yang saya punya? Apakah masih ada seperempat abad lainnya? Ataukah tinggal beberapa tahun? Atau bahkan beberapa hari? Entahlah, hidup dan mati penuh misteri. Kalau mengingat hal semacam itu, rasa-rasanya jadi ingin sholat dan dzikir sepanjang hari. 😦

Dan kalau mengingat seperempat abad yang sudah saya lewati, rasa-rasanya saya semakin sedih. Saya belum melakukan banyak hal. Saya belum membahagiakan banyak orang. Dan jika saya tiba-tiba harus meninggalkan dunia ini, hal apa yang akan orang kenang dari diri saya? Uu-uh, makin merana.

Hingga detik ini, sebenarnya saya tidak tahu harus melakukan apa untuk merayakan ulang tahun saya—kecuali menuliskan curhatan ini. Selama ini, perasaan saya melewati peringatan hari lahir saya dengan biasa-biasa saja. Hmm… Hal lain yang muncul di pikiran saya, justru adalah fakta bahwa meski usia saya sudah bertambah, saya masih seperti ini adanya. Sholat saya tidak tambah rajin dan in time, bacaan saya tidak beranjak dari komik dan novel, dan sifat saya masih kebanyakan egois dan kekanak-kanakan.

Saya bahkan belum melakukan apa pun untuk orang tua saya. Saya belum jadi anak berbakti. Belum bisa membalas jasa orang tua, yang selama ini salalu melimpahi saya dengan cinta. Ah, durhakakah saya?

Saya pun pernah memutuskan untuk fokus menjadi penulis, tetapi setelah hidup seperempat abad ini, berapa karya yang sudah saya hasilkan? Efek semacam apa yang ditimbulkan dari tulisan saya? Aakkhhh… *Menangis di pojokan*

Dan hari ini, setelah beberapa hari kemarin tepar karena typoid untuk pertama kalinya (dan semoga terakhir kalinya), saya bersyukur masih bisa bernapas dengan normal. Saya bisa menikmati pagi yang cerah dengan merentangkan tangan tanpa rasa sakit ataupun penderitaan.

Saya ucapkan terima kasih, Tuhan, atas kesempatan hidup yang Engkau berikan padaku hari ini. Nikmat sehat dan nikmat hidup yang tidak jarang saya abaikan selama ini. Dalam seperempat abad hidup yang telah saya jalani, Engkau pun memberi saya kesempatan untuk bertemu banyak orang. Bahkan banyak hal dan banyak kejadian yang terjadi dalam hidup saya. Memberi kesempatan saya untuk terus belajar.

Kini, di hari sumpah pemuda—hari di mana para pemuda Indonesia berkumpul 86 enam tahun lalu—saya berharap mewarisi sedikit saja semangat mereka. Semangat sumpah pemuda untuk menjadi pemuda Indonesia yang akan terus belajar dan terus berkarya selama Tuhan masih memberi kesempatan bernapas.

sumpah pemuda

Sebagai sebuah kado dan penyemangat untuk diri saya saya sendiri, saya ingin mengucapkan SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA dan SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-17 untuk diri saya sendiri! 😀

Terima kasih atas ucapan dan doa dari teman, rekan, saudara, dan orang-orang terkasih saya. Semoga doa yang kalian berikan, terkabul. Dan semoga kebaikan juga melimpahi kalian semua…

Lomba Novel Bukune-Gagas Media [Winner]

Hari Selasa, tanggal 22 Oktober 2013… Aku Syokk!

Pas buka email, ada pesan dari Mbak Widyawati Oktavia-editor fiksi di Bukune, yang memberikan kabar kalau Angel’s Wings-ku masuk sebagai naskah terpilih dalam lomba novel Teen dan Young Adult Romance Bukune 2013.

Wah, so happy pake banget nggak sih?!!!

Secara, Maz Aveus Har-senior nulis Pekalongan yang pernah mengkritik cerpenku gila-gilaan, plus orang yang aku kagumi juga belum nerbitin buku di sana. Yang menurut Maz Ave, Gagas Media ini adalah target utama selain GPU sebagai tanda kemantapan karya di bidang fiksi.

cerita bermula dari aku yang ingin ikut lomba satu ini….  pamflet lombanya unyuu sihhh…hehe… XD

Gambar

Dan beberapa waktu berikutnya, saat penentuan 20 besar! Aku kembali kaget!

Gambar

Masuk 20 besar dari 1000 naskah itu sebuah prestasi besar bagi penulis pemula sepertiku!!!

Itu Ruaaaarrrrr biasa…. hehe…

Dan yah,,, next!

Email dari Mbak Widya benar-benar seperti cahaya di pagi hari… *lebay

Pokoknya bikin happy! Membayangkan bukuku yang berikutnya terbit di Bukune dengan caver mereka yang biasanya unyu plus keren itu!

Aih, aku udah loncat-loncat duluan pas bayangin…^^

Terlebih lagi, proses penjurian akhir itu dilakukan oleh tiga juri yang merupakan novelis, yaitu Kireina Enno, Orizuka,dan Windry Ramadhina! 

Dan You know what? Aku suka banget sama Orizuka gara-gara baca buku Miss J-nya dan Mbak Windry dengan Metropolisnya. Aku baru kenal Mbak Kireina Eno sih, belum baca bukunya juga, tapi Mbak Enno orangnya ramah banget pas aku sapa di twitter^^

Dan, penentu naskahku masuk sebagai naskah terpilih itu mereka! Itu sangat membanggakan…Setidaknya buatku. hehe…

Dan ini dia, daftar para pemenang :

JUARA I
Hadiah: Rp5.000.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
What Makes Your Heart Sing
IFNUR HIKMAH, DEPOK

JUARA II
Hadiah: Rp3.000.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
[Forget-Me-Not]
ALVITA RACHMA DEVI, SEMARANG

JUARA III
Hadiah: Rp1.500.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
Rakata dan Ranjani
VILDA SINTADELA SUDISMAN, BANDUNG

10 Naskah Terpilih
Hadiah: kontrak penerbitan dan paket buku.

  1. One Time In Austria oleh Alberta Natasia Adji
  2. W.H.I.T.E.Y, Mencintaimu Sebanyak Cahaya oleh Tria Ayu Kusumawardhani
  3. Rhapsody in Britain oleh Alberta Natasia Adji
  4. Just You oleh Yunita Candra Sari
  5. Flying Fix, Ketika Cinta Butuh Keputusan oleh Andhika Citra H
  6. Janji Biru Laut oleh Mita Miranti Windayani
  7. Non Fiksi oleh Adelya Mahgda HMP
  8. Mencintaimu oleh Monica Octavia Anggen
  9. October oleh Resti Siti Nurlaila
  10. Angel’s Wings oleh Elisa Susiyanti

Emang sih, nggak masuk 3 besar! But still, ini adalah langkah awal dari perjalananku di dunia literasi. Yo! Semoga aku menjadi lebih semangat! ^^

Eh eh, ada catatan kecil dari para juri juga. Catatan mereka makin bikin Happy para peserta lomba pokoknya…

CATATAN KECIL JURI TAHAP AKHIR
“Senang sekali, lho, menjadi salah satu juri dalam Lomba Teen & Young Adult Romance yang diselenggarakan Bukune. Terlebih dua juri lainnya, Windry Ramadhina dan Orizuka, adalah penulis-penulis kesukaan saya. Wah!

Apalagi, seluruh naskah yang masuk nominasi dua puluh besar, harus saya akui, adalah naskah-naskah yang bagus dan berpotensi. Beberapa karya finalis bahkan membuat saya iri dan merasa harus belajar lagi.

Setelah satu bulan membaca semua naskah itu, mempertimbangkan berbagai faktor penilaian dengan saksama, akhirnya kami bertiga mendapatkan para pemenang. Masing-masing dari pilihan kami memang ada yang harus terpental dari tiga besar. Namun, setelah berdiskusi, dengan senang hati, kami sepakat untuk menetapkan tiga orang pemenang, dan 10 naskah terpilih.

Secara pribadi, saya merasa sangat puas dengan hasil keputusan kami bertiga. Saya juga bangga menjadi bagian dari lomba ini. Sungguh tidak mengira, bahwa di luar sana, banyak sekali bakat-bakat menulis yang mengagumkan.

Buat para pemenang, saya ucapkan selamat! Dan bagi para peserta yang belum terpilih, jangan berhenti berkarya dan putus asa, ya. Menulis adalah sebuah proses belajar serta mengasah keberanian berbagi ide, pengetahuan dan pemikiran. Menulis adalah bagian dari membangun peradaban. Semangat!” —Kireina Enno

“Selama menjadi juri di Lomba Menulis Novel Teen & Young Adult Romance Bukune ini, saya menemukan banyak naskah dengan tema menarik, berkesan dan potensial. Masing-masing naskah memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi pada akhirnya, naskah yang memenuhi kriteria lomba dengan penulisan paling matanglah yang terpilih. Saya ucapkan selamat bagi para pemenang. Bagi yang belum menang, saya harap perjuangan tidak berhenti di sini. Terus berkarya dan jangan patah semangat, tingkatkan semangat belajar agar bisa menjadi lebih baik lagi.” —Orizuka

“Sebuah lomba—dalam hal ini, lomba menulis novel—tidak semata-mata bertujuan menentukan karya yang paling baik, tetapi juga menemukan karya yang menawarkan hal baru, menginspirasi, dan memberikan warna lain ke dunia fiksi—terutama jika dunia fiksi kita sedang monoton. Saya rasa, itulah yang kami—para juri dan panitia—coba lakukan. Pemenang-pemenang yang kami pilih merupakan penulis-penulis yang–—semoga saja—akan membuat roman remaja dan roman dewasa muda kita lebih kaya. Karya-karya mereka tidak sempurna, tetapi menarik, masing-masing menyiapkan kejutan untuk pembaca dengan cara berbeda.” —Windry Ramadhina