Dinding-dinding

558021d024a9d5005c8b4567 sumber gambar

Kau tahu kawan, manusia modern itu adalah sekumpulan orang yang terkurung dalam bilik berukur satu kali satu meter. Semakin modern manusia, ia akan terjerumus dalam bilik dengan dinding yang makin sempit. Sumpek, mepet, dan ketat!

Sialnya, aku adalah salah satu jenis manusia yang mengaku modern itu! Manusia yang terjebak dalam dinding-dinding tanpa pintu dan jendela.

Dulu—duluuuu sekali kala hidupku masih jauh dari peradaban, duniaku justru tak berbatas. Kala belum ada barang-barang berlabel ‘pintar’ beredar. Bahkan untuk menonton televisi dengan tayangan yang itu-itu saja, aku harus menunggu aki yang diisi ulang di ‘negara’ tetangga selama dua hari. Ah ya, kalian kan manusia modern. Mana tahu benda yang dulu kusebut aki. Aki bukan kakek-kakek. Aki itu accu, sumber listrik untuk televisi jadul yang gagal diet. *plak!*

Dulu itu duniaku masih indah sekali. Sungguh. Sekalipun aku tidak pernah melakukan perjalanan ala ‘My Trip My Adventure’ dan kawan-kawannya. Aku tidak pernah merasa frustrasi, meski aku tak memegang hape pintar dan meributkan jaringan serta batere lowbat. Aku lebih sering merasa bahagia, meski tak punya dompet, bahkan dengan saku yang selalu kosong.

Sungguh, kebahagiaan DULU terasa begitu sederhana.

Hei, kau pasti berpikir aku tipikal orang yang sulit move on. Atau bahkan berpikir kalau otakku mulai terjepit dan aku mulai stress dengan mengocehkan hal-hal tak penting. Cukup! Kalian benar kok.

Kenyataannnya, otakku belakangan terasa sempit sekali. Seiring bertambahnya usia, seiring berubahnya zaman, dinding-dinding besar mulai bertambah tinggi. Persis seperti Jakarta abad ini. Penuh gedung pencakar langit, gerah, panas, dan macet. Ya, otakku seakan mandeg. Tidak bisa lagi membuat hormon pembuat kebahagiaan dengan kilat.

Padahal dulu, aku bisa mendapat kebahagiaan dengan begitu mudah. Kebahagiaan primitif, namun kenangannya tak bisa sirna hingga kini.

Usiaku baru enam tahun kala aku menemukannya. Sebuah harta karun yang sangat berharga. Tolong jangan berpikir itu adalah setumpuk emas, rumah megah, arca purba dan sebangsannya. Dulu aku belum mengenal batasan semacam itu untuk kata “berharga”.

Yang kutemukan itu, hanya sebuah tempat—ah bukan, lebih tepatnya sebuah genangan air yang hanya muncul sesusai hujan. Dari sekumpulan air di atap yang jatuh bersamaan dalam jumlah besar. Genangan itu berbentuk elips tidak sempurna berdinding tanah yang dipenuhi lumut dan kerikil serta batu seukuran kepalan tangan.

Setelah hujan reda, aku pasti bergegas keluar rumah menuju genangan itu. Bahkan jika gerimis masih turun, dan kabut tebal menyelimuti, aku merasa lebih senang. Aku segera menyibukan diri di bibir genangan air yang airnya sangat jernih itu dengan beragam perlengkapan: kayu, batu, tanah, pasir, dan bunga. Lalu kubangun sebuah istana dan keluarga bahagia. Bibir genangan yang bagi orang terlihat seperti sampah, saat itu berubah lebih indah dari pantai di pulau Bali, Lombok, atau bahkan Hawaii.

Air jernih di genangan yang menampilkan pantulan pasir sisa bangunan rumah dan kerikil serta lumut, berubah menjadi lebih menakjubkan dari Bunaken, Raja Ampat, bahkan Barracuda. Dan liburanku aku terus berlanjut hingga ibu datang, menyeretku pulang dalam kondisi yang sudah basah kuyup. Aku tidak marah, tentu. Aku sangat bahagia, seakan baru pulang liburan ke tempat yang sangat indah.

Sayang sekali, kini aku tidak pernah lagi menemukan genangan itu. Mataku terfokus pada dinding-dinding yang telah kubangun tanpa sadar dalam waktu enam tahun, ditambah tiga tahun, ditambah tiga tahun lagi, lalu makin sempurna dengan tambahan tahun berikutnya.

Ah, aku rindu kebahagian sesegar udara selepas hujan itu. Kapan aku menemukannya kembali?

Serenade Senja [Review Novel After Rain by Anggun Prameswari]

“Menyerah memang kelihatan paling mudah. Persis pertanyaanmu kenapa aku tetap bertahan di sana. Tapi kita perlu melakukan hal sulit, agar hidup ke depannya lebih gampang.”

(Elang)

Halooo…

Reviewer is back! Lama gak bikin review lagi, jadi kangen. 🙂

Kali ini, saya mau me-review novel After Rain-nya Mbak Anggun yang bergenre dewasa. Uwooohhh… Bukan genre gue banget kayaknya. Kekeke… *Sok berjiwa muda*

BQ97FWGCQAAQVjr

Caver-nya bagus^^

Awal baca, sesungguhnya saya bosan. Pasalnya saya kesal banget sama si tokoh utamanya yang punya nama bagus, Serenade Senja, tapi kelakuan nyebelin. Nih orang udah jadi selingkuhan pria beristri, terus nggak bisa move on lagi dari si pria tersebut. Bahkan saat si pria memilih istrinya. Errrr!!! Kesel!

Tapi setelah baca lebih lanjut, terutama saat si Seren ini resign dan memutuskan menjadi seorang guru di sebuah SMA, cerita jadi menarik. Apalagi ada pak guru Elang yang entah kenapa kebayang keren banget! Mbak Anggun piawai menggambarkan sosok Elang ini menjadi guru gaul yang oke!

Dengan memakai sudut pandang orang pertama versi Seren alias Serenade Senja, cerita mengalir romantis. Pembaca diajak jungkir balik bareng perasaan Seren yang naik turun kayak roller coaster.

Saya paling suka dengan analogi cinta dengan hukum kekekalan energi. “Cinta itu energi, Seren. Lo nggak bisa menciptakan cinta dalam hati lo, sama seperti lo nggak bisa menghancurkannya. By default, hati setiap orang itu berisi cinta.” (hal 194)

Akkkhhhh analogi ini tepat banget. Whehehe…

Secara keseluruhan, buku ini lumayan bagus. Walau sampai 300an halaman, nggak terasa bacanya karena bahasanya ringan. Nggak terlalu bertele-tele juga.

Tetapi kalau bisa, yang dibawah umur jangan baca. Apa lagi anak sekolah. *halah* Masalahnya, banyak adegan dewasa, yang walau penceritaanya nggak vulgar, tapi bukan contoh yang baik. 😀

Identitas buku:

Judul : After Rain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2013
Jumlah Halaman :  323 halaman
Harga :  Rp. 46.000
ISBN :  978-979-780-659-0

Review Last Minute In Mahattan by Yoana Dianika

Matahari tenggelam sempurna di Manhattan, menghujani gedung-gedung dengan warna senja cakrawala. 

Gambar

Di kota ini, kau akan bertemu Callysta.
Ia menemukan langit yang menaungi senja—membuatnya merasa nyaman, seperti mendapat perlindungan. Membuatnya jatuh cinta.
Namun, jatuh cinta memang tidak semudah yang dibayangkan. Saat cinta mulai menyergap, yang bisa dilakukan hanyalah mempertahankannya, agar tak memburam dan menghilang ketika ragu dan masa silam ikut mengendap.
Di kota ini, gadis itu jatuh cinta, tetapi segera ia surukkan di lorong-lorong gedung-gedung meninggi, dan ia benamkan bersama senja yang tenggelam sempurna.
“Hatiku masih terlalu rapuh,” begitu katanya.
Maukah kau menemaninya di Manhattan?

Manis ya kalimat-kalimat di atas…^^ Yup, itu adalah blurp dari novel Last Minute in Manhattan ini. Keren sekali bukan? Secara kasat mata, cover dan blurp dari novel ini memang sangat menarik! Sangat sangat sangat, setidaknya menurut saya.

Oleh sebab itu, saya menaruh ekspektasi yang lumayan tinggi saat mulai membacanya. Sayang, awalan menarik ini tidak mememiliki ending yang sempurna. Sungguh, saya merasa sangat kecewa usai menamatkan novel setebal 399 halaman ini.

Kenapa? Yang pertama, saya merasa novel ini memiliki jalan cerita yang aneh dan maksa! Cara Yoana membawa Callysta ke Manhattan cenderung terkesan dipaksakan agar tercipta setting di sana. Belum lagi, ia bertemu makhluk-makhluk sempurna luar biasa dengan karakter maksa yang ‘enggak’ banget.

Saya harus berjuang sangat keras untuk membaca hingga akhir novel ini hingga kelar. Benar-benar terasa penuh perjuangan dan tersiksa. Bahkan saat saya bertanya pada beberapa teman yang punya novel ini, mereka berkata tidak bisa menyelesaikannya. Hm, tampaknya saya cukup sabar… hihihi…

Saya membaca novel ini, sekitar lima bulan lalu sebenarnya. Kemarin saat saya buka-buka folder catatan di handphone, saya menemukan keluhan soal novel ini kepada teman saya tertanggal lima bulan lalu. Jadi saya berpikir untuk menuliskannya hari ini… *Ini yang saya katakan pada teman saya juga lima bulan lalu—membuat review-nya^^*

Keanehan lain yang saya temukan di Last Minute In Manhattan ini adalah pergantian POV. Sejak awal, Yoana memakai POV satu. Aku dari versi Callysta. Dan sebenarnya Yoana cukup piawai dengan POV satu ini, terlepas dari keanehan jalan ceritanya. Namun secara mendadak, dipertengahan Yoana mengubahnya dengan POV 3. Dan saya tidak mengerti kenapa ia melakukannya.

Menurut saya, tanpa perlu berganti POV pun tidak ada pengaruhnya ke dalam cerita. Toh, meski ganti POV, yang dieksplor tetaplah hanya cerita dari versi si Callysta. Bahkan hingga saya kelar baca novel ini, saya tetap tidak menemukan alasan bagi Yoana untuk berganti POV. Jadi sungguh, hingga detik ini saya tidak memiliki pencerahan untuk mengerti.

Dan sejujurnya pergantian POV ini terasa sangat mengganggu kenikmatan saya dalam membaca novel ini. Belum lagi, di satu bab terakhir Yoana kembali memakai POV 1. Oh, God! Sungguh saya tidak mengerti kenapa harus begitu.

Pergantian POV kalau memang diperlukan sih mungkin tidak masalah. Tapi ini? Ah, entahlah…

Dan yang bikin geregetan lagi—ini yang bikin saya tambah kecewa—adalah, Yoana membawa tokoh Vesper Skyler yang too perfect!!!

Awas, yang belum baca bukunya mending berhenti di sini karena ke bawah akan ada sedikit spoiler!!!

Oke, mungkin tidak semua orang berpikiran cowok sempurna itu berlebihan. Tapi apa ada yang bisa membayangkan, seorang cowok kaya raya—anggaplah dia anaknya pemilik google atau setidaknya pemegang saham terbesar, lalu jatuh cinta pada gadis Indonesia yang sedang galau tidak jelas usai diselingkuhi pacar bernama Callysta?

Masih rasional?

Oke lanjut… Di sisinya selalu ada gadis jahat—versi Callysta, berparas cantik yang menyukai Vesper, namun Vesper terlalu setia sehingga mengabaikannya. Masih rasional juga kan?

Okeee…

Sekarang bagaimana kalau si cowok kaya raya, keren minta ampun, ganteng, hidup dengan budaya CA, dan SETIA ini merasa bersalah karena merusak topi rajut Callysta, dan ia pun menghabiskan hidupnya dengan belajar merajut dari gadis lain?! Wooow amazing banget kan? Terlalu amazing mendekati khayal bagi saya.

Bahkan Vesper bela-belain belajar merajut, dari gadis yang mencintainya itu—yang tidak ia cintai, hingga menimbulkan salah paham antara dirinya dan Callysta. Bahkan hingga memunculkan dugaan kalau dirinya Junkie, dan hal-hal semacam itu… Dan dari segala keanehan Vesper, ia berakhir berhasil membuat RAJUTAN untuk Callysta! Astaga!

Ini kejadian yang sangat tidak diperlukan sebenarnya. Lagi-lagi, kejadian yang terlalu dipaksakan. Sungguh, rahasia lebay yang disimpan tokoh cowok selama berbab-bab dan membuatku melongo lebar saat mengetahui rahasia konyolnya. Ini cowok cita-cita jadi pejahit apa gimana yak…? *LOL*

At least, yah i’m so disappointed…T.T… Penulis sekaliber Yoana Dianika sebenarnya cukup piawai menggambarkan setting dan menuliskan cerita. Hanya saja sayang, ide ceritanya agak… yah…. begitulah… hihi…

Berikut, identitas bukunya :

Judul Buku: Last Minute In Manhattan

Tagline : Beri cinta waktu
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: Bukune
Terbit: 2013, Cetakan ketiga
Jumlah Halaman: 399
ISBN: 602-220-083-0
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance

Random Word – Tips Nulis Di Saat Blank dan “Nggak Mood”

Sebel itu, saat mau menulis, tapi punya sejuta alasan untuk nggak nulis. Waktu otak terasa blank alias nggak ada ide. Atau terkadang, beralasan nggak mood–yang kalau kata Pak Edi CEO-nya Diva Press, itu semua nggak ada. Yang ada hanya kemalasan.

That’s it!

Itu dia yang lebih benar. Alasan kebanyakan penulis termasuk aku… T.T … Aku terjangkit malas sesekali, eh sering kali. 😀

webjong_cartoon_girl_1141837_top-kotakfatamorgana

Sumber gambar di mari…^^

Iseng-iseng, kemarin saat aku nggak tau mau nulis apa, ini yang kulakukan… Aku menulis lima buah kata random.

1. Kipas angin

2. Strowberry

3. Ramuan

4. Rumput

5. Tas

Aku nulis lima kata di atas, tanpa mikir. Pokoknya asal tulis dengan tujuan harus kumasukan dalam tulisan entah bagaimana caranya.

Setelah mengamati lima kata itu, aku lalu nulis apa saja yang ada di otakku. Kuncinya satu, lima kata di atas bisa masuk dalam tulisan yang kubuat.

Dan tidak butuh waktu lama, Taraaaaaaaa!!!!!!! *Drumroll

Jadilah sepotong paragraf acak…

Kipas angin itu berputar dengan kecepatan seratus kilo meter perjam. Baiklah, aku mungkin berlebihan, tapi aku sungguh merasa kedinginan sekarang.

Aku tidak mengerti jalan pikir penghuni apartemen, tempat di mana aku berada sekarang ini. Ac menyala, kipas angin berputar dengan cepatnya, serta tergeletak segelas jus strowberry yang tersisa setengah gelas di atas kulkas.

Oh, come on! Ini musim dingin, dan aku tidak mengerti kenapa ia melakukan banyak hal aneh semacam ini?

Aku pilih bergerak cepat menghampiri meja, dan mengambil remote ac. Setelah mematikan pendingin ruangan, aku bergerak mendekati kipas angin dan menekan tombol off. Aku yakin, orang yang tinggal di sini benar-benar sedang dalam kondisi ingin bunuh diri.

Sekarang saja, badanku sudah kedinginan hanya selang beberapa detik aku menginjakkan kaki di tempat ini.

Kenapa jika orang itu ingin bunuh diri, harus mengundangku sekarang? Kenapa ia tidak lebih baik ia meminum ramuan beracun atau apa pun itu? Kenapa ia tidak melompat saja dari balkon? Bukankah itu lebih mudah? Kenapa ia harus membuat ruangan tempatnya tinggal menjadi kulkas seperti ini? Why?

Ah, benar-benar orang aneh.

Sambil menunggu si penghuni apartemen yang tidak kunjung muncul, aku pilih mengedarkan mata. Kusapu seluruh lekuk dan sudut ruangan dengan tatapan ingin tahu. Pandanganku tertumbuk pada satu pot berwarna hitam di jendela apartemen yang menghadap ke luar.

Tanpa bisa dicegah, kakiku bergerak otomatis. Mendekat.

Pot itu berisi tanaman kecil, berwarna hijau yang mirip rumput. Bahkan, aku sempat berpikir tanaman itu memang rumput kalau tidak melihat ada garis tepi bergerigi berwarna hijau kebiruan di sekeliling daun-daun dengan lebar tiga senti meter itu.

Tanganku baru akan menyentuh daun unik itu, saat tiba-tiba suara pintu mengusik. Aku menengok dan mendapati pria berjas hitam panjang dengan tas jinjing berwarna senada di tangan kiri, memasuki apartemen.

“Siapa kamu?” tanyanya. “Kenapa kamu berada di sini?”

-Bersambung!-

Yohooo… Nggak tau deh, menurut pembaca itu paragraf jelek atau bagus.

Tapi yang penting, aku menemukan satu benang merah.

Ternyata nggak ada kata nggak ada ide atau nggak mood dalam kamus penulis! Setidaknya, seharusnya.

Sepanjang bikin tulisan di atas yang kupancing dengan lima kata itu, aku justru mendapat ide untuk dijadikan seperti apa tulisan itu nanti. Bagaimana tokoh-tokohnya. Masalah apa yang akan terjadi. De el el.

Sungguh, padahal ide itu sama sekali belum ada sebelum aku mulai menuliskan ini!

Cara ini, bukan murni ideku kok. Aku pernah membaca tips nulis semacam ini, entah di mana. Aku lupa.

Tapi… sepertinya bisa dijadikan percikan saat aku “nggak mood en nggak ada ide….”

Kekekeke…..

^^Happy Writing^^

Memori by Windry Ramadhina [Review Novel]

-Tentang cinta yang tak lagi sama-

image

Adalah Mahoni, ya, nama pohon yang menjelma menjadi gadis cantik di novel ini. Sang tokoh central dalam Memori. Ini adalah novel ketiga Mbak Windry yang saya baca, setelah Metropolis dan London.

Sama seperti sebelumnya, di awal saya baca novel ini, saya merasa bosan. Mbak Windry selalu menyuguhkan narasi detail yang terkadang memunculkan kesan bertele-tele. Tetapi untunglah, kebosanan itu tidak berlangsung lama.

Kisah Mahoni, gadis arsitek yang tinggal di Virginia ini langsung menarik tatkala kenangan masa lalu dengan sang ayah muncul. Novel ini semakin menyenangkan saat mahoni kembali pulang ke Indonesia karena satu musibah.
Sungguh, kisah yang disuguhkan berbeda dari buku kebanyakan yang menjadikan CINTA sebagai masalah utama. Baiklah, Memori memang tetap saja menampilkan cinta. Tetapi percayalah Memori unik—setidaknya menurutku, karena Mbak Windry mewujudkan cinta dalam bentuk yang berbeda.

Bagaimana perjuangan Mahoni untuk mencintai adik—walau sebelumnya ia sama sekali tidak mau mengakui Sigi—nama adiknya itu, sebagai adik? Bagaimana gadis itu berupaya mempertahankan impian yang ia bangun? Dan bagaimana Mahoni harus memilih antara idealisme serta kenyataan? Sungguh, Mbak Windry menceritakan emosi seorang Mahoni dalam balutan kata yang terangkai apik.

Tiga cowok yang muncul di novel ini, kesemuanya membuat saya jatuh cinta. Oke, barangkali saya rakus, tapi saya tidak peduli. Ketiga cowok ini memiliki karakter yang bagus. Dan, pantas untuk dicintai siapa saja… xD

Cowok yang pertama adalah si bule Ron. Si playboy usil yang selalu memanggil Mahoni dengan nama Honey. Walau saya teramat kecewa karena Mbak Windry sepertinya mengabaikan keberadaan Ron di novelnya. Setelah cowok itu naik pangkat di bab awal, Ron menghilang begitu saja dari peradaban. Terlebih setelah Mahoni pulang ke Indonesia. Bahkan signyal-signyal beraura pink yang ditunjukan saat Mahoni berada di Virginia pun seakan tidak ada kelanjutannya. Ron hanya muncul dalam sms atau telpon yang keberadaanya sama sekali tidak penting. Sedih… T.T

Second, it is Simon. Bos MOSS, sebuah agensi arsitek di Jakarta. Cowok itu adalah teman Mahoni saat masih kuliah di UI. Yeah, sebenarnya bisa dikatakan lebih dari teman. Dulunya Mahoni dan Simon menjalin kisah, walau pada akhirnya kandas karena Mahoni memilih tidak melangkah lebih lanjut karena takut. Ya, takut pada bayang memori masa lampau yang terus menghantui gadis itu.
Pertemuan mereka setelah berpisah beberapa tahun, menjadi warna tersendiri dalam novel ini. paling saya sukai dari sosok Simon adalah kaus gratisan plus jeans belel yang ia kenakan. Penampilan yang justru tidak Mahoni sukai.

Cowok ketiga adalah Sigi, adik tiri Mahoni yang pernah hampir mati karena kelaparan. Saya menyukai karakter cowok yang jarang bicara ini. Tanpa perlu banyak kata, dari apa yang dilakukan oleh Sigi, saya membayangkan sosok cowok dengan sifat tulus dan spontan. Sosok yang menyayangi Mahoni dengan caranya sendiri.

Saya awalnya sangat kesal saat Mahoni mengabaikan Sigi hingga sebegitu parahnya. Namun, ketika kebersamaan mereka semakin erat terjalin. Komunikasi dan hubungan keduanya juga perlahan mencair, saya justru mulai simpati pada kedua tokoh naif ini. Dan saya merasa, bahwa hal yang dilakukan Mahoni wajar. Dan barangkali, saya juga akan melakukan hal yang sama, yang Mahoni lakukan pada Sigi, jika mengalami situasi yang sama.

Ending Memori sebenarnya sudah bisa saya terka sejak awal. Setidaknya sejak Mahoni pulang ke Indonesia dan mulai bertemu kenangan-kenangan masa lalunya. Jadi ketika saya selesai membaca novel ini, saya tidak terlalu terkesan. Jujur, saya lebih suka ending Metropolis dan London yang membuat alis saya mengernyit gemas.

Selama membaca, saya hanya menemukan satu typo, yakni “jug,a” (Kelebihan koma, karena seharusya cukuplah : juga)

Tapi overall, Memori memiliki cerita yang cukup bagus. Kisah yang sederhana, tapi mengena. Masih tentang cinta, tetapi dalam arti cinta sebenarnya. Cerita yang mengajarkan tentang kehilangan dan penerimaan kisah di masa lalu.

Sebuah kisah yang tidak akan bisa terulang dan hanya bisa dikenang. Ya, memori…

Identitas Buku
Judul Buku: Memori
Penulis:
Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2012, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 301
ISBN: 978-979-780-562-3 / 979-780-562-X
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Family, Work

Continue reading

High School Prince-Kisah Pangeran Putih Abu-abu by Zachira [Review Novel]

Judul Buku: High School Prince

17341501Tagline : Kisah Pangeran Putih Abu-abu
Penulis: Zachira
Penerbit: Zettu
Terbit: 2012, Cetakan pertama
Jumlah Halaman: 194
ISBN: 602-18271-9-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, School

 

Yo yo yoi….^^

High Scholl Prince. Novel pertama yang tanpa ragu-ragu ,aku beri nilai sempurna dengan lima bintang. Terlebih, aku bukan tipikal penganut ‘nilai sempurna hanya milik Allah’. Ini beda konteks kali ya… (Mendadak ingat guru semasa SMA yang nggak mau ngasih nilai 100. Beliau berpendapat kalau nilai seratus itu hanya milik Allah) (:O)

Jadi lima bintang di goodreads pun didapat oleh novel yang ditulis oleh Zachira ini. ^^

 

Yup, perfect kan?! Mau tahu kenapa aku pede banget ngasih ratting setinggi itu? Simple aja alasannya. Ini hanya karena begitu selesai baca, aku segera terjangkit penyakit over happy. Terlalu bahagia dengan cerita yang manis, walau ada beberapa sisi dark pastinya. Apa lagi novel ini dibumbui dengan ending yang bikin geregetan. Rasanya, sesuatu^^. Ohoho.

 

Aku baca High School Prince alias HSP ini, mulai dari jam 10an malam karena nggak bisa tidur (Udah agak lama sih, nggak ingat tepatnya kapan). Eh ternyata salah pilih buku pemirsa. Bukannya jatuh terlelap, aku justru terus membaca novel ini hingga dini hari. I can’t stop! Benar-benar nggak bisa berhenti baca, bahkan enggan bergerak sebelum bacaan ini selesai.^^

 

Novel ini, sekilas dilihat dari tampilan cover akan membuat pembaca berpikir kalau cerita di sini tentang cowok basket yang keren dan merupakan pangeran sekolah. Seperti judulnya, High School Prince.

Namun saat mulai baca, aku kecele. Ternyata novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Franda yang diam-diam naksir seorang cowok paling populer di SMA Garda Santika, Dewa. Cowok itu memang dapat merupakan cowok yang ditaksir oleh seluruh gadis di sekolah termasuk Franda, karena si Dewa ceritanya memang sangat sempurna.

 

Galau karena kedua sahabat Franda kini sudah punya pacar, sedang dirinya belum, Franda terjun ke chat room sekolah. Menghabiskan akhir pekannya yang membosankan. Iseng-iseng, gadis itu membuat nickname ‘DEWA-haters’. Siapa sangka dengan provokatif nickname itu, Dewa justru benar-benar menyambangi room chat Franda. Terlanjur mengaku sebagai antifans, memaksa Franda pilih meneruskan kekonyolannya. Ia mulai mencari alasan saat Dewa bertanya tentang kebencian Franda itu. Mencari sisi ‘tidak sempurna’ sang pangeran sekolah. Walau tentu saja, Franda butuh kerja keras.

 

Franda juga awalnya tidak menyangka kalau keisengannya ini akan berbuntut panjang. Apalagi, sampai membuat cowok yang dikaguminya menjadi bulan-bulanan masa dan dikucilkan oleh seluruh warga sekolah. Efek domino yang nyaris melumpuhkan kehidupan Dewa, jelas bukan sengaja Franda lakukan.

 

Franda tentu saja sangat menyesal, dan memilih membantu Dewa atas saran Ben, adik kelas Franda yang merupakan ‘anak didiknya’ di tim basket. Sayangnya, Franda tidak menyangka kalau niat awal membantu Dewa itu, justru menempatkan dirinya pada cinta segitiga yang cukup rumit.

 

Yup, sekali lagi Zachira merangkai apik jalinan cerita di HSP ini. Satu demi satu masalah menimpa para tokoh, dibalut bahasa yang ringan dan sangat nyaman saat dibaca.

 

Dan penulis kembali memberikan kejutan dengan membuat ending yang sama sekali tidak kuduga. Novel HSP memang bukan novel Zachira yang pertama kubaca. Aku pernah membaca ‘So Loveable’ yang tingkatnya lebih dewasa dari HSP. Dan di dua novel itu, penulis selalu membuat ending yang oke punya. Walau tentu saja, aku lebih suka ending HSP.^^

 

Omong-omong, novel HSP di tanganku ini juga hasil barter sama sang penulis. Kutukar dengan “Pale Face In The Darkness-ku”. Fyi, pertemuanku dengan Zachira itu juga unik. Serius. Next time akan kuceritakan saat ada kesempatan membuat review So Loveable—yang menjadi saksi pertemuan unik kami. *Eaaa

So, I just want to say, “Thaks for our Mom (Zachira) to make a beautifull story like this, High School Prince. I’m in love with Ben so much!”

Congrats!

Mi amor – Di Titik Nol Kota Madrid [Review Novel By Sayfullan]

Identitas Buku

Judul Buku: Mi Amor

Tagline : Di titik nol kota Madrid203077700_xl-500x500
Penulis: Sayfullan
Penerbit: Senja (Lini Diva Press) #KampusFiksi
Terbit: 2013, Cetakan pertama
Jumlah Halaman: 314
ISBN: 978-602-255-403-5
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance

Haloo semua… Saatnya review buku lagi^^

Kali ini, aku mau kupas salah satu novel dengan sampul berwarna kopi yang terlihat enak dimakan. (Pas nulis, pas lapar)

Novel ini aku dapat lagsung dari penulisnya, my bestfriend si Upil, eh Ipul. *Dikeplak.

Ceritanya kita lagi tuker-tukeran buku gitu. Aku dikasih “Mi Amor”, si Ipul aku kasih “Pale Face In The Darkness” karyaku. Tetapi sampai detik ini belum sempat kukirim ke Ipul. Ternyata stok novel #PFITD di aku habis. Pas tanya ke penerbitnya, di gudang juga habis. Padahal drama ‘The Heirs’ (Yang diminta Ipul) plus dua novel yang nggak selesai kubaca—karena nggak suka sama ceritanya, tapi kayaknya Ipul bakal suka—itu sudah siap. Maafkan aku, dear… T.T… GomenMian

Oke cukup, aku mau bikin review. Bukan curhatan lagi. hehe…

Sebenarnya sudah agak lama sih dapat ini novel. Tapi, pas aku coba baca awal-awal, aku terkena demam Maba. Alias malas baca… *Garing. Jujur, aku malas baca lebih lanjut karena bosan. Tapi tenang, selalu ada sisi baik kok. Saat aku pilih baca kemarin, tanggal 18 Februari tahun 2014, meski awalnya aku memang bosan, tapi happy ending!^^

Novel ini berhasil kulahap tanpa harus menunggu jeda satu dua hari, yang artinya menurutku bagus! Ini serius. Mau baca kisah lengkap about Mi Amor? Chek it out!

Saat pertama baca dapat novel, pastilah ya, baca blurb dulu. Ini dia blurb-nya :  “Aku tahu perasaanmu, Sayang. Cinta di hatimu itu bukan untukku. Dan ternyata hatiku pun sama. Dan aku tak akan mungkin bisa memaksakannya, lagi. Pria yang menunggumu di titik nol itulah cinta sejatimu, yang rela setiap hari menyempatkan diri untuk berlama-lama berdiri di situ. Ya, untuk satu hal yang ia percaya, kamu akan datang untuknya. Bukankah, kalian pertama bertemu di titik itu, tempat yang akan membawa kalian kembali ke sana, bersama….” (Ini sebagian aja sih)

No coment soal blurb. Udah bagus dengan mengambil salah satu dialog yang bikin aku pingin salto di udara. Hehehe… Walau dari segi design, huruf-hurufnya agak kebesaran, dengan tulisan—entah jenis apa—yang jelas bold hitam, dengan background cokelat tua hingga membuat tulisan-tulisan ini tidak eye catching. Setidaknya menurutku.

Novel ini bercerita tentang dua gadis kembar yang mempunyai kisah cinta masing-masing. Kiana dan Serilda, si kembar dengan watak bertolak belakang 180 derajad celcius. #EmangSuhu?

Awal novel dibuka dengan kejadian pertemuan dua insan—tepatnya dua anak kecil beda jenis kelamin. Mereka bertemu disaat si gadis sedang menangis dan berbicara dengan ranting. Curhat lebih tepatnya. Si cowok yang melihatnya, pilih menegur hingga akhirnya mereka jadi akrab. Sayang, beberapa waktu kemudian, si cowok harus pergi dan membuat gadis itu sedih karena ditinggalkan begitu saja.

Jujur awal baca novel ini, kupikir cowok yuang mucul itu adalah ‘om-om’. Masalahnya, si penulis memakai kata ganti ‘lelaki’ dan gadis kecil. Aku pikir akan ada kisah gadis kecil plus om-om yang mengerikan. Tapi aku salah setelah baca lanjut. Sekedar saran sotoy yah, seharusnya jangan pakai kata ganti lelaki tampan dan sebaginya. Seharusnya pakai saja anak laki-laki atau apa pun asal tidak menunjukan kesan dewasa. Kejadian itu seharusnya menggambarkan jelas kalau keduanya sama-sama masih kecil. Bukankah tiga belas tahun kemudain, baik si gadis kecil maupun cowok itu masih kuliah? Sigh!

Hanya itu? Nggak! Pikiranku kembali di absurd-kan dengan munculnya bab satu yang menurutku sangat tidak penting. Bahkan bab satu dihilangkan, nggak akan memperngaruhi jalan cerita. Aku akan merasa lebih baik jika meloncat ke bab dua langsung. Seandainya aku tahu sebelumnya.

Aku yakin, aku akan langsung membaca novel ini pas dapat bukunya, kalau saja bukan karena bab satunya yang sudah menginjak-injak minat sejak awal. Bab satu yang disajikan, memang bukannya tidak berhubungan dengan cerita, tapi lebih bagus kalau diletakan di sela-sela kejadian yang menimpa si kembar. Misal dengan kejadian meninggalnya si ibu di bab satu inilah yang menyebabkan perbedaan sifat ayah mereka hingga akhirnya memunculkan dua kepribadian berbeda dari si kembar. Kepribadian yang muncul akibatkan perbedaan koping menghadapi sikap sang ayah yang kehilangan. Juga perbedaan sifat karena perbedaan masalah yang sama yang menimpa hidup keduanya. Itu rasanya jauh lebih manusiawi. Hihi…

Begitu baca bab satu, jujur aku sudah tidak ingin lanjut lagi. Bab satu hanya menceritakan seorang Erick, yakni ayah si kembar, dan perjuangan ibu mereka saat melahirkan hingga meninggal. That’s all. Cerita rasanya berakhir di sana. Sama sekali tidak menimbulkan tanya hingga ingin membuka halaman berikutnya.

Oke, di saat pertama dapat buku, aku pernah memaksakan diri untuk membaca ke bab berikutnya. Tapi aku makin tercengang dengan penggabaran tokoh Kiana di sana. Ya Allah, ini cewek kenapa piktor banget ya? Ahaha… (Ini penulis menggambarkan diri sendiri dalam tokoh Kiana apa gimana seeh? *LOL) Pas baca bab-bab awal ini, aku nggak nemuin jiwa Kiana. Yang aku temuin justru si penulis yang em…. ya… gitu deh… *Kabur sebelum dikeplak Ipul*

Jadi cara pandang Kiana terhadap cowok-cowok madrid rasanya terlalu aneh. Kiana terlalu piktor. Ya walau mungkin ada yang bilang nggak parah, tapi ini kontras banget sama penggambaran Kiana ke belakang.

Maksudku, ya ampun. Cara pandang cewek saat ketemu sama cowok cakep, dengan cara pandang cowok saat lihat cewek cakep itu berbeda! Aku tekanin sekali lagi, BEDA my dear, Ipul. Oke, cewek tertarik melihat cowok cakep tapi tidak sedetail itu hingga menjurus ke arah yang ‘dalam tanda tanya’.

Aku ambil beberapa kalimat deh, setidaknya yang menurut aku lebay. Itu artinya tidak ada dalam cerita pun tidak berpengaruh.

  1. Pasti anget banget bisa nyusruk di pelukan cowok macho itu. Hwaa…. (Halaman 34) Anget? Ini batagor apa bakso? Hihi…
  2. Lihat saja nanti, kalau aku sampai, akan aku pukul dadanya dengan keras. Ya, pukulan mesra. Hahahaha…  (Halaman 53) Kalimat ini ceritanya dari batin si Kiana. Menurutku ini terlalu maksa, Ipul. Kenapa harus pukul dada? Di tempat umum pula? *Ada yang bisa bayangin?* Oke mungkin cuma aku yang lebay.    Tapi kenapa tidak pukul lengan saja? Atau cubit lengan? Yah, hal-hal semacam itu yang lebih wajar dilakukan cewek pada SAHABAT cowoknya. Terlebih, pas baca ke belakang, ternyata Si Kiana memiliki sifat defensif. Dan tidak igin menjalin hubungan yang lebih dengan cowok  yang bernama Reza itu. Lalu kenapa di bab-bab awal aku justru mendapat kesan kalau Kiana sedang menggoda Reza? Oke next, lanjut dulu.
  3. Terus ada lagi, dua tempat malah yang ngegambarin si cowok lagi duduk di depan cewek—Kiana dan Serilda—yang kemudian tidak tanduk si cewek terkesan (sengaja) menggoda. Penulis bahkan dengan gamblang menggambarkan kalau si cowok menatap si cewek dengan jakun naik turun. (Aku coba buka ulang bukunya buat cari kalimatnya, tapi belum nemu) Ini ngapain gitu? Nggak penting ada. Nggak perlu ada. Nggak berpengaruh ke cerita juga, kecuali Ipul berniat bikin novel erotis. *Dikeplak ketiga kalinya.

Kesimpulannya, baca bab 1-4 bikin aku ilfeel setengah mati sama Kiana. Dan pas baca bab lima, aku bengong. Kenapa sifat Kiana labil banget ya? Di empat bab awal, dia terkesan gadis penggoda yang strong. Eh mulai bab lima Kiana berubah menjadi sosok gadis-sok-ceria-tapi-cengeng, yang berusaha menjadi makcomblang. Gadis itu menjadi gadis yang (agak) menjaga jarak dengan Reza karena kenangan masa lalu. Salah satunya, dengan  berusaha menjodohkan Reza dan Serilda, kembarannya.

Ini gimana? Aku bingung.

Oke, aku pun lanjut baca pelan-pelan dari bab lima ke belakang. Hebatnya, intens protesku mulai berkurang.

Cuma kesal sama Ipul aja sepanjang baca. Kenapa Ipul harus menggambarkan empat bab awal yang kontras banget sama cerita di belakang? Sebel. Kalau mau bikin cerita semanis ini, kenapa harus membuat kejadian dengan mengumbar ‘apa-yang-aku-jelaskan-di-atas’ pada awalnya? Terlebih, setelah membaca cara hidup, kejadian, dan terutama sifat Kiana, semua hal yang aku proteskan nggak perlu ada… T.T

Gadis bernama Kiana itu seharusnya defensif—seperti yang digambarkan dalam Mi Amor mulai bab lima ke belakang—tapi di empat bab awal dia terlalu ‘napsu’.

Oh ya, ada satu hal lagi dibelakangan yang sangat nggak penting! Di halaman 187, lagi-lagi Ipul menggambarkan kejadian yang menjungkir-balikan sifat si tokoh secara paksa. Ini yang dari tadi kucari. Akhirnya ketemu salah satu.

“Serilda semakin memperlihatkan keseksiannya, cara menyeruput kuah supnya, menyedot kopi susunya, membuat jakun Adit bergerak naik turun menyaksikan pertunjukan yang sengaja digelar untuknya.”

Kenapa harus ada kejadian ini? Maksudku, tanpa perlu kaliamat di atas pun tidak masalah saat keduanya makan bersama. Bahkan bisa jadi, acara makan mereka jadi lebih manis. Bukan erotis.

Yang bikin aku gondok, ke mana sifat ceplas-ceplos plus galak Serilda menghilang? Kenapa ia berubah menjadi gadis penggoda semacam itu? Oh, God! Gemes sama Ipul. Hihi…

Dan sifat Serilda juga labil sih. Digambarkan ia iri dengan kecantikan kembarannya, tapi ada pula pengambaran di mana Serilda menjadi gadis paling cantik diantara coass hingga menimbulkan kecemburuan. Ini menurutku agak janggal logikanya.

Secara keseluruhan, sebenarnya novel ini bagus. Malah menurutku bagus banget, terutama seperempat novel menjelang akhir.

Di masing-masing bab, Ipul pinter bikin pembaca penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya siapa dua anak kecil yang muncul di prolog—yang Ipul buka kartunya satu demi satu hingga muncul secara keseluruhan. Ini benar-benar Daebak! Gracias! Keren. Cool!

Dan aku juga suka banget sama ending-nya. Walau sedikit bisa meraba-raba, tapi twist Mi Amor ini bikin aku senyum pas nutup buku.

Novel yang bagus, dengan cerita yang manis, simpulku.

Dan sebenarnya, aku juga suka cara Ipul menggambarkan sesuatu. Mi Amor diceritakan dengan gaya yang enak. Tidak terlalu mendayu-dayu lebay. Komposisi dialog dan narasi pas. Bahkan ada satu paragraf yang begitu baca, aku suka banget!

“Meskipun Adit harus menyaksikan ibunya terkulai lemah, namun tidak bisa ia pungkiri, ada sebongkah nikmat yang lamat-lamat terkecap. Mata mereka lama beradu. Dua insan dalam gebuan rindu kini seolah berpacu dengan waktu. Mengikhlaskan kelebatan bayangan masa lalu. menelanjangi benak dan hati mereka. Memperkosa rasa. Seperti mesin waktu yang memutarnya dalam pusara kenangan. Ada bahasa yang mengalir dari tatapan mata mereka. Sabda cinta.” (Halaman 166)

Hihi… Ini bagian yang bagus! Aku suka! Entah karena situasi yang dialami tokoh atau hal lain. Yang jelas, Ipul memiliki diksi yang baik dengan membuat narsai yang macam ini. Sekali lagi, sukaaa…

Kesimpulan akhir nih… recomended!^^, Menurutku novel ini bagus. Aku suka ceritanya. Kalau mengalami kebosanan baca di awal sama seperti yang kualami, paksakan jalan. Karena dari pertengahan novel ke belakangan bagus ceritanya. Ciyuuuussss

miamor

So, siapa pun yang nemu novel Mi Amor dengan backgroup kopi ini, silahkan ambil. Beli dan bacalah. Insyaallah nggak nyesel. Setidaknya jika selera baca kalian sama sepertiku!

Berhubung menatap cover buku yang mirip cokelat bikin lapar, aku mau cari makan dulu ah…

Sampai jumpa di review berikutnya^^