Serenade Senja [Review Novel After Rain by Anggun Prameswari]

“Menyerah memang kelihatan paling mudah. Persis pertanyaanmu kenapa aku tetap bertahan di sana. Tapi kita perlu melakukan hal sulit, agar hidup ke depannya lebih gampang.”

(Elang)

Halooo…

Reviewer is back! Lama gak bikin review lagi, jadi kangen. 🙂

Kali ini, saya mau me-review novel After Rain-nya Mbak Anggun yang bergenre dewasa. Uwooohhh… Bukan genre gue banget kayaknya. Kekeke… *Sok berjiwa muda*

BQ97FWGCQAAQVjr

Caver-nya bagus^^

Awal baca, sesungguhnya saya bosan. Pasalnya saya kesal banget sama si tokoh utamanya yang punya nama bagus, Serenade Senja, tapi kelakuan nyebelin. Nih orang udah jadi selingkuhan pria beristri, terus nggak bisa move on lagi dari si pria tersebut. Bahkan saat si pria memilih istrinya. Errrr!!! Kesel!

Tapi setelah baca lebih lanjut, terutama saat si Seren ini resign dan memutuskan menjadi seorang guru di sebuah SMA, cerita jadi menarik. Apalagi ada pak guru Elang yang entah kenapa kebayang keren banget! Mbak Anggun piawai menggambarkan sosok Elang ini menjadi guru gaul yang oke!

Dengan memakai sudut pandang orang pertama versi Seren alias Serenade Senja, cerita mengalir romantis. Pembaca diajak jungkir balik bareng perasaan Seren yang naik turun kayak roller coaster.

Saya paling suka dengan analogi cinta dengan hukum kekekalan energi. “Cinta itu energi, Seren. Lo nggak bisa menciptakan cinta dalam hati lo, sama seperti lo nggak bisa menghancurkannya. By default, hati setiap orang itu berisi cinta.” (hal 194)

Akkkhhhh analogi ini tepat banget. Whehehe…

Secara keseluruhan, buku ini lumayan bagus. Walau sampai 300an halaman, nggak terasa bacanya karena bahasanya ringan. Nggak terlalu bertele-tele juga.

Tetapi kalau bisa, yang dibawah umur jangan baca. Apa lagi anak sekolah. *halah* Masalahnya, banyak adegan dewasa, yang walau penceritaanya nggak vulgar, tapi bukan contoh yang baik. 😀

Identitas buku:

Judul : After Rain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2013
Jumlah Halaman :  323 halaman
Harga :  Rp. 46.000
ISBN :  978-979-780-659-0

Rahasia Gua Honeycomb—The Hardy Boys #7 by Franklin W. Dixon [Review novel]

The Hardy boys! Serial novel detective yang kayaknya bakal saya suka deeehhh…. 😀

Hardy1

Well, sebenarnya saat hendak membeli novel ini, saya sempat disusupi ragu. Karena saat itu, saya pikir The Hardy Boys yah semacam tiruan Lima Sekawan—model-model detective semacam itu. Bahkan sebelum membaca nama pengarangnya, saya berpikir ini adalah novel Indonesia mengingat namanya Hardy… hihi…

Tapi setelah membeli plus membacanya tentu saja, keraguan saya berangsur mencair. Yeah, novel ini memang tetap se-tipe dengan Lima Sekawan—novel paling saya sukai sepanjang hidup, tapi dengan sasaran pembaca lebih tua. Ohohoho…

Yup! Lima sekawan itu pertama saya baca saat masih di bangku SD, dan saya merasa sangat cocok! Novel itu mengajak pembaca berpetualang, murni bersama teman tanpa embel-embel cinta. Dan itu sangat cocok bagi jiwa muda yang masih lugu seperti saya saat itu…. XD

Nah, seandainya saya menemukan The Hardy Boys saat di bangku SMP atau SMA, saya pikir saya juga akan sangat suka! Novel ini masih tentang petualangan, detective, dan penjahat. Nah, di sini mulai ada cinta-cintanya, secara tokohnya kan remaja… walau itu sebagian kecil. Sangat kecil malah^^. Cocok untuk bacaan remaja, dari pada novel penuh cinta menye’-menye’… *LOL…

Perbedaan lainnya dengan lima sekawan, The Hardy Boys memiliki tokoh yang memang sudah berkecimpung di dunia detective. Berbeda dengan George dan kawan-kawannya yang hanya seringkali terlibat kasus tanpa sengaja.

Nah, seri The Hardy Boys yang saya baca pertama kali, sekaligus yang baru saya miliki ini nomor 7, Franklin W. Dixon kali ini mengajak pembaca menelusuri “Rahasia Gua Honeycomb”

Kisah ini berawal dari munculnya seorang gadis bernama Mary di rumah Hardy bersaudara, Frank dan Joe. Rupanya gadis itu ingin menemui ayah mereka, detective terkenal Fenton Hardy. Mary menjelaskan bahwa dirinya adalah mahasiswa baru di Kenworthy College yang baru saja menyelesaikan semester musim semi. Dia berecana menghabiskan waktu selama musim panas dengan saudaranya di West Coast. Namun, sejak kakaknya menghilang beberapa hari sebelumnya, Mary membatalkan perjalannya dan datang ke Bayport.

Mulai sejak kejadian itu, Joe dan Frank pun membantu meyelidiki kasus hilangnya sang profesor muda briliant itu. Sayangnya, Frank dan Joe justru malah sempat mengalami beberapa kali teror Delta Sigma—yang awalnya saya pikir tidak ada hubungannya dengan kasus.

Setelah lolos dari perploncoan ala Delta Sigma, Frank dan Joe menemukan petunjuk dari kertas ujian yang ditinggalkan Profeser Tood, sebelum menghilang. Peunjuk itu adalah R-O-C-K-A-W-A-Y , nama sebuah kota.

Saat Frank dan Joe hendak mulai sibuk menyelediki gua Honeycomb diantar dua sobat mereka Chet Morton (dengan alat pendeteksi logam terbarunya) dan Biff Hooper, tiba-tiba ada kejadian sabotase di stasiun radar baru dekat kota kediaman keluarga Hardy di Bayport. Kasus sabotase yang sedang diselidiki ayah mereka. Misteri pun menjadi semakin rumit. Terlebih, Delta Sigma—Gua Honeycomb, hingga hilangnya profesor Todd ternyata memiliki satu benang merah yang terjulur kusut. Misteri ini beberapa kali membuat empat remaja itu dalam bahaya. Bahkan hampir celaka.

Menarik! Itu kesimpulan saya usai membaca petualangan Hardy bersaudara dan sobatnya. Penjelasan bagaimana misteri terpecarkan dan lain-lainnya, silahkan baca sendiri aja^^…

Yang jelas, lain kali kalau melihat novel ini, saya berminat mengoleksi seri The Hardy Boys lainnya… Kabar-kabar ya kalau ada melihat novel ini^^

 

Judul Buku: The Hardy Boys

Tagline : Rahasia Gua Honeycomb
Penulis: Franklin W. Dixon

Alih Bahasa : Januarsyah Sutan
Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 168
ISBN: 978-979-27-8000-0
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Detective, Adventure

Montase—by Windry Ramadhina [Review Novel]

Gambar

Namanya Rayyi, biasa dipanggil Bao alias Bao Bao. Cowok ini kuliah di Institut Kesenian Jakarta fakultas film dan televisi dengan peminatan produksi. Yup, dengan ayah seorang produser kelas kakap, Irianto Karnaya, Rayyi seakan sudah ditakdirkan sebagai produser pula dalam hidupnya. Meski Rayyi sangat menyukai dunia film dokumenter, sepertinya itu akan menjadi mimpi belaka.

Dan mimpi yang Rayyi pendam kembali muncul tatkala di kelas Dokumenter IV yang diajari oleh Samuel Hardi, ia kembali bertemu dengan gadis jepang bernama Haru Enomoto. Seorang mahasiswa Tokyo Zokei University yang sedang studi banding di IKJ selama dua semester, sekaligus si pemenang Festifal Film Dokumenter yang digelar Greenpeace mengalahkan Rayyi.

Kedekatan mereka tercipta saat Samuel Hardi memberikan tugas pertama mereka, dan atas saran sahabatnya, Rayyi iseng memakai Haru sebagai obyek film dokumenternya.

“Dia bangkit berdiri secara tiba-tiba, lalu mendekati lili raksasa itu. Buku sketsa dan alat gambar kepunyaanya itu, sebatang konte, digeletakan begitu saja di lantai. Aku memperhatikan buku sketsa Haru Enomoto. Rupanya, Haru Enomoto melukis lili raksasa tersebut dan dia melakukannya dengan terampil.

Kini, gadis itu berada di antara kelopak-kelopak lili, meraba-raba permukaan sculpture licin. Dia kelihatan semain mungil dan—

Demi Tuhan, moment ini—“ (Hal 73)

Itu bagian yang saya suka di Montase ini. Saat di mana Rayyi melihat sisi lain dari Haru. Dan cara Mbak Windry menggambarkan moment yang terjadi di sana, sungguh berhasil membuat saya jatuh cinta…

Dan sejak kejadian di patung lili itu, Rayyi seakan terus kecanduan untuk merekam Haru, merekam, dan merekamnya lagi. Dari sanalah kisah cinta mulai muncul satu per satu. Mulai dari Rayyi dan Haru, bahkan hingga Bev dan dosen mereka, Samuel Hardi.

Selain itu, masalah terbesar pun kembali melanda Rayyi. Terutama sejak ia mendapatkan nilai D di ujian perencanaan produksi-nya. Ia pun tidak diperbolehkan lagi nge-kost, tidak boleh lagi berhenti magang dari perusahaan ayahnya, tidak bisa ikut International Documentary Film Festifal Amsterdam (IDFA), dan yang paling buruk, tidak bisa lagi mengikuti kelas Samuel Hardi.

Ya, Rayyi menyerah. Ia merasa tidak mungkin menggapai impiannya menjadi pembuat film dokumenter. Dirinya sudah ditakdirkan menjadi produser, tanpa ia bisa menolak.

Hingga akhirnya, kepergian Haru menyadarkannya. Membuat Rayyi memilki keberanian untuk menjemput mimpinya, setelah tahu sebuah kenyataan pahit dibalik kepergian Haru. Dan kembalilah terjadi perang dunia keempat antara Rayyi dan ayahnya yang membuat Rayyi terpaksa kabur, dan memulai segalanya dari nol.

Apakah Rayyi berhasil menggapai cita-citanya? Membaca sendiri novel ini rasanya lebih nikmat yak! ^^

Ceritanya bagus kok. Tidak mengecewakan menurut saya. Saya suka bagaimana cara Mbak Windry mengisahkan kehidupan Rayyi yang lagi-lagi memakai POV satu. Saya suka Rayyi! Hoho…

Cuma, mungkin karena saya baru saja membaca Memory, jadinya kisah di montase cenderung terasa monoton. Lagi-lagi masalah dengan sang ayah, walau ceritanya jauh berbeda sih… hehehe…

Yup, empat bintang rasanya pantas kok buat Montase^^..

Keyyyeeen!

Identitas Buku

Judul Buku: Montase

Tagline : Kau di antara beribu sakura
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media

Terbit: 2013, Cetakan ketiga
Jumlah Halaman: 357
ISBN: 978-979-780-605-7
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance Inspiratif

Lomba Novel Bukune-Gagas Media [Winner]

Hari Selasa, tanggal 22 Oktober 2013… Aku Syokk!

Pas buka email, ada pesan dari Mbak Widyawati Oktavia-editor fiksi di Bukune, yang memberikan kabar kalau Angel’s Wings-ku masuk sebagai naskah terpilih dalam lomba novel Teen dan Young Adult Romance Bukune 2013.

Wah, so happy pake banget nggak sih?!!!

Secara, Maz Aveus Har-senior nulis Pekalongan yang pernah mengkritik cerpenku gila-gilaan, plus orang yang aku kagumi juga belum nerbitin buku di sana. Yang menurut Maz Ave, Gagas Media ini adalah target utama selain GPU sebagai tanda kemantapan karya di bidang fiksi.

cerita bermula dari aku yang ingin ikut lomba satu ini….  pamflet lombanya unyuu sihhh…hehe… XD

Gambar

Dan beberapa waktu berikutnya, saat penentuan 20 besar! Aku kembali kaget!

Gambar

Masuk 20 besar dari 1000 naskah itu sebuah prestasi besar bagi penulis pemula sepertiku!!!

Itu Ruaaaarrrrr biasa…. hehe…

Dan yah,,, next!

Email dari Mbak Widya benar-benar seperti cahaya di pagi hari… *lebay

Pokoknya bikin happy! Membayangkan bukuku yang berikutnya terbit di Bukune dengan caver mereka yang biasanya unyu plus keren itu!

Aih, aku udah loncat-loncat duluan pas bayangin…^^

Terlebih lagi, proses penjurian akhir itu dilakukan oleh tiga juri yang merupakan novelis, yaitu Kireina Enno, Orizuka,dan Windry Ramadhina! 

Dan You know what? Aku suka banget sama Orizuka gara-gara baca buku Miss J-nya dan Mbak Windry dengan Metropolisnya. Aku baru kenal Mbak Kireina Eno sih, belum baca bukunya juga, tapi Mbak Enno orangnya ramah banget pas aku sapa di twitter^^

Dan, penentu naskahku masuk sebagai naskah terpilih itu mereka! Itu sangat membanggakan…Setidaknya buatku. hehe…

Dan ini dia, daftar para pemenang :

JUARA I
Hadiah: Rp5.000.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
What Makes Your Heart Sing
IFNUR HIKMAH, DEPOK

JUARA II
Hadiah: Rp3.000.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
[Forget-Me-Not]
ALVITA RACHMA DEVI, SEMARANG

JUARA III
Hadiah: Rp1.500.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
Rakata dan Ranjani
VILDA SINTADELA SUDISMAN, BANDUNG

10 Naskah Terpilih
Hadiah: kontrak penerbitan dan paket buku.

  1. One Time In Austria oleh Alberta Natasia Adji
  2. W.H.I.T.E.Y, Mencintaimu Sebanyak Cahaya oleh Tria Ayu Kusumawardhani
  3. Rhapsody in Britain oleh Alberta Natasia Adji
  4. Just You oleh Yunita Candra Sari
  5. Flying Fix, Ketika Cinta Butuh Keputusan oleh Andhika Citra H
  6. Janji Biru Laut oleh Mita Miranti Windayani
  7. Non Fiksi oleh Adelya Mahgda HMP
  8. Mencintaimu oleh Monica Octavia Anggen
  9. October oleh Resti Siti Nurlaila
  10. Angel’s Wings oleh Elisa Susiyanti

Emang sih, nggak masuk 3 besar! But still, ini adalah langkah awal dari perjalananku di dunia literasi. Yo! Semoga aku menjadi lebih semangat! ^^

Eh eh, ada catatan kecil dari para juri juga. Catatan mereka makin bikin Happy para peserta lomba pokoknya…

CATATAN KECIL JURI TAHAP AKHIR
“Senang sekali, lho, menjadi salah satu juri dalam Lomba Teen & Young Adult Romance yang diselenggarakan Bukune. Terlebih dua juri lainnya, Windry Ramadhina dan Orizuka, adalah penulis-penulis kesukaan saya. Wah!

Apalagi, seluruh naskah yang masuk nominasi dua puluh besar, harus saya akui, adalah naskah-naskah yang bagus dan berpotensi. Beberapa karya finalis bahkan membuat saya iri dan merasa harus belajar lagi.

Setelah satu bulan membaca semua naskah itu, mempertimbangkan berbagai faktor penilaian dengan saksama, akhirnya kami bertiga mendapatkan para pemenang. Masing-masing dari pilihan kami memang ada yang harus terpental dari tiga besar. Namun, setelah berdiskusi, dengan senang hati, kami sepakat untuk menetapkan tiga orang pemenang, dan 10 naskah terpilih.

Secara pribadi, saya merasa sangat puas dengan hasil keputusan kami bertiga. Saya juga bangga menjadi bagian dari lomba ini. Sungguh tidak mengira, bahwa di luar sana, banyak sekali bakat-bakat menulis yang mengagumkan.

Buat para pemenang, saya ucapkan selamat! Dan bagi para peserta yang belum terpilih, jangan berhenti berkarya dan putus asa, ya. Menulis adalah sebuah proses belajar serta mengasah keberanian berbagi ide, pengetahuan dan pemikiran. Menulis adalah bagian dari membangun peradaban. Semangat!” —Kireina Enno

“Selama menjadi juri di Lomba Menulis Novel Teen & Young Adult Romance Bukune ini, saya menemukan banyak naskah dengan tema menarik, berkesan dan potensial. Masing-masing naskah memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi pada akhirnya, naskah yang memenuhi kriteria lomba dengan penulisan paling matanglah yang terpilih. Saya ucapkan selamat bagi para pemenang. Bagi yang belum menang, saya harap perjuangan tidak berhenti di sini. Terus berkarya dan jangan patah semangat, tingkatkan semangat belajar agar bisa menjadi lebih baik lagi.” —Orizuka

“Sebuah lomba—dalam hal ini, lomba menulis novel—tidak semata-mata bertujuan menentukan karya yang paling baik, tetapi juga menemukan karya yang menawarkan hal baru, menginspirasi, dan memberikan warna lain ke dunia fiksi—terutama jika dunia fiksi kita sedang monoton. Saya rasa, itulah yang kami—para juri dan panitia—coba lakukan. Pemenang-pemenang yang kami pilih merupakan penulis-penulis yang–—semoga saja—akan membuat roman remaja dan roman dewasa muda kita lebih kaya. Karya-karya mereka tidak sempurna, tetapi menarik, masing-masing menyiapkan kejutan untuk pembaca dengan cara berbeda.” —Windry Ramadhina

BookNarcism – sebuah kisah kecil

  • Gambar

    ^^Aku dan buku pertamaku^^

Kalau mencoba memflasback-kan pikiran, rasanya barangkali pose foto di sebelah hanyalah mimpi belaka.

Pose bersama buku karya sendiri yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Penerbit besar dengan jaringan perdagangan Nasional. Wow!!!

Dengan terbit secara mayor, ribuan exemplar pula, buku  yang saya tulis di kota kecil Pekalongan ini, bisa di baca oleh orang Papua, Sumatera, Sulawesi, Bali, Batam, dan aneka daerah lain di Indonesia yg terpisahkan oleh luasnya lautan!

Senang? Pastilah! Bangga? Iya juga donk!

Siapa sih yang akan menyangka, gadis berasal dari pelosok Pekalongan-yang Internet aja nggak ada. Yang hingga detik ini saja signyal susah…  bisa nerbitin buku!

Selama ini saya banyak mendengar alasan untuk tidak menulis, adalah karena sarana. semacam nggak punya laptop. En soon! Yang segera ayo ramai-ramai kita bantah!

Kalau mau punya karya, punya buku, ya NULIS sekarang juga! Nggak ada yg lain lagi! Intinya kerja keras dan menulis!

Tulisan ini  saya buat bukan bermaksud untuk menyombongkan diri. Sama sekali bukan! Saya hanya berharap, jika kelak ada yang membacanya, maka semangat menulis yang kadang berlebihan ini bisa menular! Hehehe…

Saya pun pernah menyalahkan keadaan untuk berhenti menulis. Masih sangat jelas di benak saya, tatkala laptop saya hilang di akhir bulan September 2011. Tepat beberapa minggu sebelum saya diwisuda. Saya rasanya sangat tidak percaya! Masalah yang harus saya hadapi, selain kehilangan laptop dengan harga mahal, juga kehilangan karya saya yang ada di sana. Foto saya sejak SMA.

Tuhan, saat itu saya ingin protes!

Tapi pada akhirnya saya mulai move on! Saya memflashback pikiran saya kembali dan saya menyadari sesuatu!

Saat saya punya laptop, rupanya tidak benar-benar saya manfaatkan secara optimal! Kalau dibandingkan antara berapa lama saya menulis (mengejar impian saya) dan berapa lama nonton film atau main game, jawabannya membuat malu saya sendiri!

Tuhan, betapa saya….. *ah,sudahlah….

Setelah itu juga, saya mulai merintis novel pertama saya dengan tulisan tangan. Membuat sinopsis, nama-nama tokoh beserta sifatnya, membuat outline naskah bahkan hingga beberapa bab awal naskah novel itu.

Dan Subhanallah-nya… Beberapa bulan kemudian, saya mendapat kerja dan punya laptop sendiri. Tuhan memang tidak akan meninggalkan hambanya yang berusaha…

Walau sekarang saya masih tetap tergoda bersenang-senang menonton film, atau main game juga sih… Keplak kepala sendiri! Tetapi setidaknya, saya tetap menulis dan memaksakan diri untuk menulis! Harus! Wajib! Fardu A’in!

Kenapa? Karena saya ingin jadi penulis!

Gambar

Aku dan buku keduaku

Bismillah, semoga kedua buku saya ini bukanlah titik pencapaian akhir saya. Melainkan awal agar bisa berkarya lebih banyak lagi!

Bismillah!

Semangat!

Fighting!

Ganbatte!