Misi nomer 0 : Pasar Njati dan tenggang rasa yang mulai hilang

“Hal baru apa yang sudah kau lakukan hari ini?”

Pertanyaan di atas nyaris selalu dilontarkan oleh suami saban pulang kerja. Ia bahkan masih mengenakan seragam kantor dan menenteng tas di pundaknya. Barangkali ia jengah mendapati istrinya masih asik di depan televisi, atau hanya ‘jualan semangka’ seharian. Jualan semangka adalah istilah yang berarti gelundungan atau bermalas-malasan di tempat tidur dalam jangka waktu lama. Ya, istilah yang dibuatnya untuk mengolokku.

Yogyakarta, kota yang penuh dengan seniman ini menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun lalu. Sudah dua bulan lebih sedikit, kalau dihitung. Kukira, waktu berjalan terlalu cepat. Dalam dua bulan lebih yang kuanggap singkat ini, aku ternyata belum melakukan apa pun. Aku masih betah mengurung diri di rumah, menonton drama, anime, dan musik video (MV), atau main game dimulai dari matahari terbit hingga tergelincir dan menghilang di ujung barat.

Ah ya, aku sangat produktif!!!

Setelah kupikir lagi, hari-hariku benar-benar menyedihkan! Aku bahkan tidak berbaur dengan baik, dengan tetangga. Aku terlalu asik menikmati dunia baru bernama : pengangguran ibu rumah tangga. Astaga!

Tapi tolong jangan salah paham, ini bukan berarti aku antisosial ya. Setidaknya walau satu dua orang, aku tahu siapa tetanggaku dan sesekali menyapa saat hendak keluar rumah untuk membeli makan. Oh okey, aku memang belum masak sendiri. Tetapi beberapa hari lagi aku berencana memasak sendiri layaknya ibu rumah tangga yang lain kok. Um, soal masak memasak ini out of topic deh kayaknya, bahas kapan-kapan aja ya. 🙂

Omong-omong soal tetangga, aku punya tetangga yang kukira cukuplah kalau kami disebut akrab. Orangnya periang. Ramah, dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Usianya kutaksir empat puluhan ke atas. Wanita berambut pendek ini kita sebut saja, Bu Lesita. Hobinya masak, dan beliau juga sering dapat pesanan makan dari tetangga lain di perumahan yang juga malas masak sepertiku.

Dari seringnya pesan makan kepada bu Lesita inilah yang membuat kami lebih akrab. Terlebih beliau sepertiku, 24 jam di rumah. Dari obrolan kami tentang hal hal remeh temeh, gosip tak jelas, hingga sinetron yang tak kumengerti, akhirnya sampailah pada titik di mana Bu Lesita bercerita tentang hidupnya. Kisahnya.

Untuk orang yang kadar kepo-nya hanya 20% sepertiku, aku tidak pernah tahu kalau Bu Lesita hanya tinggal dengan kedua anaknya. Kupikir keluarganya normal, dan suaminya berangkat kerja pagi pulang malam, hingga aku tak bernah bersua. Sesimple itu kehidupan Bu Lesita dalam benakku. Seorang ibu rumah tangga yang suka memasak dengan anak-anak yang sudah besar, dan mereka bahagia.

Sayangnya aku salah. Bu Lesita, di suatu sore yang basah bercerita dengan gurat sedih di wajah. Suaminya udah pergi, kawin lagi. Suami bu Lesita yang tak kutanya namanya itu, dari awal memang suka main serong. Berkali-kali, ditemani kesabaran Bu Lesita akan tingkahnya. Hingga klimaks, suami bu Lesita pilih meninggalkannya, menikahi janda beranak tiga.

Tetapi jangan salah, beliau wanita strong! Kalau kau bertemu dengannya, kau hanya akan menemukan keceriaan, tawa, dan suaranya yang lumayan keras. Ya, beliau berbeda jauh dengan remaja alay yang ditinggal pacarnya lalu gagal move on sih. (Heh?!)

Nah, pagi kemarin untuk pertama kalinya, sejak aku menginjakkan kaki di bumi jogja, aku pergi ke pasar tradisional. Bu Lesita mengajakku ke pasar Njati. Letaknya di pinggir Jalan Magelang, sebelum Jombor. Aku tidak tahu persis di mana, karena kucari di google maps, pasar Njati tak ada. Google maps ternyata kalau gaul sama Bu Lesita. Hahaha… Terlebih, aku diajakknya lewat jalan ‘dalam’ saat menuju ke sana.

Kenapa tiba-tiba aku ke pasar? Tentu saja ada alasannya. Sore hari kemarin, akan ada pertemuan warga perumahan di tempatku. Tak mungkin kan kubiarkan mereka begitu saja? Jadilah aku minta tolong Bu Lesita utuk menyiapkan aneka hidangan yang sekiranya pantas disajikan. Kukira itu hari yang sempurna. Hari di mana aku tak hanya malas-malasan. Aku bisa mematahkan ejekan menyebalkan suamiku. Kukira.

Namun, semuanya berubah saat negara apa menyerang. Okey itu mainstream. Hari itu berubah menjadi hari yang tak sempurna, kala pertemuan warga yang ditunggu-tunggu, yang membuat sibuk sejak pagi hari, berubah menjadi pertemuan yang buruk.

Di tempat kalian tinggal pasti ada kan, orang yang berbeda? Termasuk berbeda dari segi ekonomi? Nah, aku tak mengerti dengan jalan pikiran warga di sini. Mereka seakan tak paham soal Bhineka Tunggal Ika, eh, perbedaan maksudnya.

Hal menyebalkan pertama, kenapa yang dibahas dipertemuan ternyata hanya berputar soal duit? Dari iuran sampah, iuran kas, arisan iuran aspal. Tak ada obrolan lain, semacam bikin pengajian, bikin kegiatan apa gitu, ronda atau apa pun. Blasss. Nihil.

Dan masalah soal duit emang sensitif. Lebih sensitif dari emak-emak PMS lho, serius! Bahasan ‘dana jalan aspal’ pun mengambil alih 70% isi obrolan pertemuan. Singkat cerita, di antara warga perumahan, yang belum bayar cukup banyak adalah Bu Lesita. Dan beberapa, ah bukan, cukup banyak warga yang keberatan dengan hal itu. Katanya mereka keberatan karena karena mereka yang iuran sedang ada yang nggak iuran, pas ngomong ini kelihatan banget lho nyindir Bu Lesita.

Warga khawatir kelak kalau mau bikin jalan aspal, dan Bu Lesita baru bayar sedikit, beliau akan kurang banyak dari jumlah total iuran. Dan mereka takut Bu Lesita nggak bisa bayar kekurangnnya kalau nggak dicicil RP. 50.000, perbulan seperti yang lain.

“Saya akan bayar kalau pas punya rejeki. Tapi dulu kan saya pernah bilang 50.000 buat iuran aspal saja saya keberatan, tapi saya kalah suara. Kalau pas jalan aspalnya rusak dan mau buat lagi, saya pasti bayar. Saya ya nggak akan kabur, rumah saya di situ. Saya nggak mungkin toh, nggak bayar dan ngebiarin jalan depan rumah saya bolong. Nggak diaspal sendiri. Saya ya malu. Tapi sekarang saya belum punya rejeki.” Itu jawaban Bu Lesita kala orang-orang mendesak, dan mulai menyindir dengan cukup kasar.

Hening sejenak usai Bu Lesita berkata demikian. Kupikir usai. Warga sadar, kalau mereka keterlaluan. Tetapi aku salah ternyata. Setelah membahas dana aspal, di penghujung pertemuan mereka membahas tempat untuk pertemuan berikutnya. Dan mereka mendesak Bu Lesita untuk harus mau menjadi ‘tempat penerima’. Sampai-sampai Bu Lesita harus mengulang kembali kalimat yang memilukan. “Kalau saya ada rejeki, iya di tempat saya.” Yang dengan sangat buruknya dibalas. “Harus lho bu, kalau bisa jangan ditunda lagi, biar urut.”

Oh Tuhan, biarkan aku pingsan sejenak.

Single Parent, kedua anaknya masih kuliah, mantan suami hanya bantu biaya kuliah anaknya dua juta sebulan, itu pun kalau tak lupa, Bu Lesita tak kerja pula, dapat uang dari mana? Kok kejam?

Well ya, awalnya kegiatan ke Pasar Njati bersama Bu Lesita ini mau kujadikan misi pertama dari “tantangan 21 hari melakukan hal baru”. Yap, malam sebelumnya, Anggi, bloger rajin yang punya anak ganteng bernama Zahir mengajak anak-anak di grup ikut tantangan 21 Hari melakukan hal baru atau apalah judulnya, aku lupa. Yang jelas, dalam 21 hari itu, kita melakukan hal-hal baru, terserah kita. Aku merasa, ini sangat cocok untuk makhluk pemalas yang jarang keluar rumah sepertiku, makanya i’m join!

Tapi karena kejadian hari ini berubah menjadi curhatan, maka aku putuskan ini adalah misi ke 0, tak terhitung. Besok, baru kita mulai hal baru sesuangguhnya!

Eh, besok mau ngapain ya?

Advertisements

Jika lidah setajam pedang. Maka, tulisan mungkin lebih tajam dari parang.

Kau gores sekali, luka kawan. Perih. Ah, tapi mungkin kau tak sengaja.

Kau gores lagi. Ah, berdarah. Kucoba diam. Kutahan, atas nama persahabatan. Penghormatan.

Tapi saat kau gores untuk kesekian kalinya, luka itu telah bernanah. Sakit, kawan!

#LagiMalasDiam #BukanPelajaranKMB

View on Path

Random Word – Tips Nulis Di Saat Blank dan “Nggak Mood”

Sebel itu, saat mau menulis, tapi punya sejuta alasan untuk nggak nulis. Waktu otak terasa blank alias nggak ada ide. Atau terkadang, beralasan nggak mood–yang kalau kata Pak Edi CEO-nya Diva Press, itu semua nggak ada. Yang ada hanya kemalasan.

That’s it!

Itu dia yang lebih benar. Alasan kebanyakan penulis termasuk aku… T.T … Aku terjangkit malas sesekali, eh sering kali. 😀

webjong_cartoon_girl_1141837_top-kotakfatamorgana

Sumber gambar di mari…^^

Iseng-iseng, kemarin saat aku nggak tau mau nulis apa, ini yang kulakukan… Aku menulis lima buah kata random.

1. Kipas angin

2. Strowberry

3. Ramuan

4. Rumput

5. Tas

Aku nulis lima kata di atas, tanpa mikir. Pokoknya asal tulis dengan tujuan harus kumasukan dalam tulisan entah bagaimana caranya.

Setelah mengamati lima kata itu, aku lalu nulis apa saja yang ada di otakku. Kuncinya satu, lima kata di atas bisa masuk dalam tulisan yang kubuat.

Dan tidak butuh waktu lama, Taraaaaaaaa!!!!!!! *Drumroll

Jadilah sepotong paragraf acak…

Kipas angin itu berputar dengan kecepatan seratus kilo meter perjam. Baiklah, aku mungkin berlebihan, tapi aku sungguh merasa kedinginan sekarang.

Aku tidak mengerti jalan pikir penghuni apartemen, tempat di mana aku berada sekarang ini. Ac menyala, kipas angin berputar dengan cepatnya, serta tergeletak segelas jus strowberry yang tersisa setengah gelas di atas kulkas.

Oh, come on! Ini musim dingin, dan aku tidak mengerti kenapa ia melakukan banyak hal aneh semacam ini?

Aku pilih bergerak cepat menghampiri meja, dan mengambil remote ac. Setelah mematikan pendingin ruangan, aku bergerak mendekati kipas angin dan menekan tombol off. Aku yakin, orang yang tinggal di sini benar-benar sedang dalam kondisi ingin bunuh diri.

Sekarang saja, badanku sudah kedinginan hanya selang beberapa detik aku menginjakkan kaki di tempat ini.

Kenapa jika orang itu ingin bunuh diri, harus mengundangku sekarang? Kenapa ia tidak lebih baik ia meminum ramuan beracun atau apa pun itu? Kenapa ia tidak melompat saja dari balkon? Bukankah itu lebih mudah? Kenapa ia harus membuat ruangan tempatnya tinggal menjadi kulkas seperti ini? Why?

Ah, benar-benar orang aneh.

Sambil menunggu si penghuni apartemen yang tidak kunjung muncul, aku pilih mengedarkan mata. Kusapu seluruh lekuk dan sudut ruangan dengan tatapan ingin tahu. Pandanganku tertumbuk pada satu pot berwarna hitam di jendela apartemen yang menghadap ke luar.

Tanpa bisa dicegah, kakiku bergerak otomatis. Mendekat.

Pot itu berisi tanaman kecil, berwarna hijau yang mirip rumput. Bahkan, aku sempat berpikir tanaman itu memang rumput kalau tidak melihat ada garis tepi bergerigi berwarna hijau kebiruan di sekeliling daun-daun dengan lebar tiga senti meter itu.

Tanganku baru akan menyentuh daun unik itu, saat tiba-tiba suara pintu mengusik. Aku menengok dan mendapati pria berjas hitam panjang dengan tas jinjing berwarna senada di tangan kiri, memasuki apartemen.

“Siapa kamu?” tanyanya. “Kenapa kamu berada di sini?”

-Bersambung!-

Yohooo… Nggak tau deh, menurut pembaca itu paragraf jelek atau bagus.

Tapi yang penting, aku menemukan satu benang merah.

Ternyata nggak ada kata nggak ada ide atau nggak mood dalam kamus penulis! Setidaknya, seharusnya.

Sepanjang bikin tulisan di atas yang kupancing dengan lima kata itu, aku justru mendapat ide untuk dijadikan seperti apa tulisan itu nanti. Bagaimana tokoh-tokohnya. Masalah apa yang akan terjadi. De el el.

Sungguh, padahal ide itu sama sekali belum ada sebelum aku mulai menuliskan ini!

Cara ini, bukan murni ideku kok. Aku pernah membaca tips nulis semacam ini, entah di mana. Aku lupa.

Tapi… sepertinya bisa dijadikan percikan saat aku “nggak mood en nggak ada ide….”

Kekekeke…..

^^Happy Writing^^

Sebuah Pertemuan – Kisah Cinta Abu-abu putih [part one]

I’m going to crazy! Yup! That’s right

Beberapa waktu belakangan, banyak banget event lomba menulis, yang bikin aku puyeng. Masalahnya, aku teramat sangat ingin ikut semuanya. hehe…

Tetapi secara rasional, aku bakal mati berdarah-darah, kalau melakukannya. Hmm… walau sebenarnya nggak selebay itu sih… xD

Salah satu lomba yang membuatku tertarik adalah lomba #MyDream dari DivaPress.  Event ini seru! Menuliskan curhatan, Yaiy, I love curhatzz! ohoho…

Tentunya karena ini lomba, curhat yang diminta pun nggak sembarang curhat. Fokusnya adalah yang MENGINSPIRASI! Pastinya….

Otakku langsung sibuk mencari kisah. Flashback ke belakang mencari bagian yang setidaknya memiliki sebuah inspirasi bagi orang lain. Terbersit di otakku dua kejadian di antara kejadian lain yang ingin segera kutulis.

Satu kisah kukirimkan lomba, satunya lagi aku post di sini. Ini kisah pertemuanku dengan someone yang menginpirasiku sejauh ini. (Karena yang boleh diikutkan lomba cuma satu, jadi kubuat polling pemilihan pada beberapa teman – info penting)

Awalnya, aku tidak menyangka aku bertemu orang seperti dia. Sosok dengan senyum menyejukan hati dan tutur selembut  sutra. Aku sungguh tidak berlebihan menilainya. Bagiku, pertemuan ini akan menjadi kenangan yang tidak akan terhapus dari memori otakku selamanya. hehe… lebay!

Baiklah, pertemuan kami memang tidak se-unyu adegan pertemuan ala dongeng, film, atau novel yang memberi kesan mendalam. Atau bahkan klise semacam tabrakan di roman picisan. Dia hanyalah salah satu teman sekelas yang awalnya bahkan tidak kuanggap kehadirannya. Yang bahkan tidak kupilih saat dicalonkan menjadi ketua kelas.

Sungguh, tidak kusangka dia akan menjadi orang paling berarti di masa ahir kulepas seragam abu-abu putih yang dengan bangga kupakai selama kurang lebih sembilan ratus hari.

Aku dikenal sebagai ‘gadis tomboy’ saat SMA. Atau bisa dibaca dengan ‘gadis yang lari dari kenyataan’. Seorang gadis yang berusaha SOK kuat dan menampilkan sisi macho berlebihan. Yang intinya adalah, dia gadis yang sama sekali tidak menerima kenyataan dalam hidupnya.

Di masa-masa krisis inilah, para adam (sahabat-sahabatku) mulai memasukan si pemuda luar biasa—yang lebih baik kupanggil Deshine di sini (Itu nama contact-nya di hapeku—dulu), dalam persahabatan kami. Sebenarnya bukan kali pertama kami bersama atau pun bertemu. Ini hanyalah kali pertama, aku mulai benar-benar melihatnya.

Tepatnya, di suatu siang usai pulang sekolah. Kami, segerombol makhluk berseragam berjalan bersama. Dari tujuh orang di sana, tentu saja aku cewek satu-satunya. Dan menjadi bahan ejekan sekaligus sasaran bullying paling empuk. Tapi no problemo. Aku sudah terbiasa!

Hingga di antara lontaran kata-kata pembullyan semacam: aku bukan cewek atau bahkan cowok jadi-jadian, satu kata dari Deshine membuat terpana. “Buatku, elisa cewek biasa. Kupikir dia cantik, karena dia cewek.”

Dan diantara makian kalau aku tampan, jadi-jadian, dan semacamnya, kata-kata itu bagaikan oase di gersangnya kisah cinta SMA-ku. Aura pink menyebar tanpa diketahui yang lainnya. Kupikir, aku pandai berakting.

Seiring berjalannya waktu, teman-teman yang lain mulai mengendus ada ‘sesuatu’. Dan seperti yang diduga, mereka menjadi heboh karenanya. Kejahilan beredar di mana-mana. Aku dan Deshine jadi korban tentu saja. Mereka seringkali mengupayakan beragam cara agar bisa membuat kami berdua saja. Teman tidak setia! Hm, walau kuakui jauh di lubuk hatiku, aku mengucapkan terima kasih.

Sampai aku dan Deshine berada di titik tertinggi hubungan kami. Dia berhasil membuatku menangis. Bukan! Bukan karena dia adalah orang pertama yang memberiku pernyataan cinta. Aku tidak seTidak laku itu, kan? Tapi cara dia mengungkapkan cintanya membuatku teramat-sangat-sangat tersentuh.

“Aku menyukaimu, Sa. Hanya saja aku merasa ini tidak benar. Aku tahu kalau pacaran adalah haram. Tapi aku tidak bisa untuk tidak mencintaimu.”

Deshine berkata padaku sambil memegangi dadanya. Aku tahu, hatinya sakit. Aku adalah cobaan bagi keimanannya. Aku adalah orang ketiga dalam cintanya pada Tuhan.

Tapi, aku bahagia. Bagiku, itu adalah ucapan tertulus yang pernah kudengar. Cowok yang selalu kulihat sholat dhuha di masjid saat istirahat jam pertama. Sosok yang tidak pernah mau bersentuhan dengan lawan jenis. Sosok yang selalu membuatku merasa nyaman saat bersama. Tapi kupikir, pacaran bukan segalanya kan?

Aku tertawa, sekaligus menangis haru. Kukatakan padanya, bahwa kita tidak perlu pacaran. Kita cukuplah sama seperti sebelumnya. Makan es krim bersama. Belajar bersama. Kurasa itu cukup. Yang penting aku tahu dia mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.

Yah, walau aku tidak membayangkan efek berikutnya sedikit melebihi ekspektasiku. Bagaimana hebohnya anak-anak rohis yang alim dari golongannya memandangku? Seolah sebuah pertanyaan merasuk ke pikiran mereka semua. “Bagaimana bisa sosok seperti Deshine menyukai gadis sepertiku?”

Yah, aku tahu aku barbar, heboh, dan bahkan tidak punya teman cewek. Tapi, apa setidak pantas itu?

Aku mulai berubah. Bukan semacam power rangers. Aku hanya mencoba sedikit lebih cewek! Klise sih, berubah karena seorang cowok. Tapi berubah menjadi lebih baik bukanlah dosa. Aku mulai menyukai diriku. Hidupku. Ya, aku bersukur Tuhan menciptakan aku yang seperti ini.

Walau kisah kami tidak berakhir bahagia, aku tidak menyesal. Kami berpisah selepas SMA. Dia sibuk dengan duniannya, pun denganku. Jarak dan waktu—Tuhan memisahkan kita… Perpisahan bukan jalan yang indah. Menyakitkan memang. Tapi, pertemuan kami bukanlah kesalahan.

Walau kemudian, inspirasi Deshine bagiku hampir saja membuatku tersesat. Kisah ini semoga bisa kulanjutkan di bagian kedua nanti… Tapi… aku tetap tidka menyesal kok!

Dia dan cintanya, mengubah pandanganku pada dunia. Aku mencintai diriku yang sekarang. Jadi meski tidak bersama, aku sungguh bersukur ‘pernah’ mencintainya…

-To Be Continue-

BookNarcism – sebuah kisah kecil

  • Gambar

    ^^Aku dan buku pertamaku^^

Kalau mencoba memflasback-kan pikiran, rasanya barangkali pose foto di sebelah hanyalah mimpi belaka.

Pose bersama buku karya sendiri yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Penerbit besar dengan jaringan perdagangan Nasional. Wow!!!

Dengan terbit secara mayor, ribuan exemplar pula, buku  yang saya tulis di kota kecil Pekalongan ini, bisa di baca oleh orang Papua, Sumatera, Sulawesi, Bali, Batam, dan aneka daerah lain di Indonesia yg terpisahkan oleh luasnya lautan!

Senang? Pastilah! Bangga? Iya juga donk!

Siapa sih yang akan menyangka, gadis berasal dari pelosok Pekalongan-yang Internet aja nggak ada. Yang hingga detik ini saja signyal susah…  bisa nerbitin buku!

Selama ini saya banyak mendengar alasan untuk tidak menulis, adalah karena sarana. semacam nggak punya laptop. En soon! Yang segera ayo ramai-ramai kita bantah!

Kalau mau punya karya, punya buku, ya NULIS sekarang juga! Nggak ada yg lain lagi! Intinya kerja keras dan menulis!

Tulisan ini  saya buat bukan bermaksud untuk menyombongkan diri. Sama sekali bukan! Saya hanya berharap, jika kelak ada yang membacanya, maka semangat menulis yang kadang berlebihan ini bisa menular! Hehehe…

Saya pun pernah menyalahkan keadaan untuk berhenti menulis. Masih sangat jelas di benak saya, tatkala laptop saya hilang di akhir bulan September 2011. Tepat beberapa minggu sebelum saya diwisuda. Saya rasanya sangat tidak percaya! Masalah yang harus saya hadapi, selain kehilangan laptop dengan harga mahal, juga kehilangan karya saya yang ada di sana. Foto saya sejak SMA.

Tuhan, saat itu saya ingin protes!

Tapi pada akhirnya saya mulai move on! Saya memflashback pikiran saya kembali dan saya menyadari sesuatu!

Saat saya punya laptop, rupanya tidak benar-benar saya manfaatkan secara optimal! Kalau dibandingkan antara berapa lama saya menulis (mengejar impian saya) dan berapa lama nonton film atau main game, jawabannya membuat malu saya sendiri!

Tuhan, betapa saya….. *ah,sudahlah….

Setelah itu juga, saya mulai merintis novel pertama saya dengan tulisan tangan. Membuat sinopsis, nama-nama tokoh beserta sifatnya, membuat outline naskah bahkan hingga beberapa bab awal naskah novel itu.

Dan Subhanallah-nya… Beberapa bulan kemudian, saya mendapat kerja dan punya laptop sendiri. Tuhan memang tidak akan meninggalkan hambanya yang berusaha…

Walau sekarang saya masih tetap tergoda bersenang-senang menonton film, atau main game juga sih… Keplak kepala sendiri! Tetapi setidaknya, saya tetap menulis dan memaksakan diri untuk menulis! Harus! Wajib! Fardu A’in!

Kenapa? Karena saya ingin jadi penulis!

Gambar

Aku dan buku keduaku

Bismillah, semoga kedua buku saya ini bukanlah titik pencapaian akhir saya. Melainkan awal agar bisa berkarya lebih banyak lagi!

Bismillah!

Semangat!

Fighting!

Ganbatte!

First Post — Kotak Baru!

Yiha… Welcome to the new world…^^

Akhirnya terbentuk juga sebuah kotak baru! Wadah untuk berbagi kepada semua orang yang ingin membaca… mencari ilmu, hiburan… *Bahasanya…

Kotak Fatamorgana, menjadi tempat berlabuhku yang berikutnya… walau bukan awal semoga menjadi sebuah akhir… *halah!

Intinya sih, selama ini aku memang masih dalam masa pencarian… Blog-ku yang sebelumnya… “”Menjemput Mimpi” bukannya tidak berarti… hanya ingin mencari suasana baru… tempat baru…

Dan semoga di sinilah… sebuah kisah akan dimulai…

Well, kenapa aku beri nama kotak fatamorgana ya???

Apa ya? Something-lah pokokya. Kalau kata Teteh Syahrini mah sesuatu… hehe^^ (next time semoga bisa dijelaskan *Huu…)

Pastinya akan banyak hal baru di blog satu ini… Yeah!!! Happy reading……