Random Word – Tips Nulis Di Saat Blank dan “Nggak Mood”

Sebel itu, saat mau menulis, tapi punya sejuta alasan untuk nggak nulis. Waktu otak terasa blank alias nggak ada ide. Atau terkadang, beralasan nggak mood–yang kalau kata Pak Edi CEO-nya Diva Press, itu semua nggak ada. Yang ada hanya kemalasan.

That’s it!

Itu dia yang lebih benar. Alasan kebanyakan penulis termasuk aku… T.T … Aku terjangkit malas sesekali, eh sering kali. 😀

webjong_cartoon_girl_1141837_top-kotakfatamorgana

Sumber gambar di mari…^^

Iseng-iseng, kemarin saat aku nggak tau mau nulis apa, ini yang kulakukan… Aku menulis lima buah kata random.

1. Kipas angin

2. Strowberry

3. Ramuan

4. Rumput

5. Tas

Aku nulis lima kata di atas, tanpa mikir. Pokoknya asal tulis dengan tujuan harus kumasukan dalam tulisan entah bagaimana caranya.

Setelah mengamati lima kata itu, aku lalu nulis apa saja yang ada di otakku. Kuncinya satu, lima kata di atas bisa masuk dalam tulisan yang kubuat.

Dan tidak butuh waktu lama, Taraaaaaaaa!!!!!!! *Drumroll

Jadilah sepotong paragraf acak…

Kipas angin itu berputar dengan kecepatan seratus kilo meter perjam. Baiklah, aku mungkin berlebihan, tapi aku sungguh merasa kedinginan sekarang.

Aku tidak mengerti jalan pikir penghuni apartemen, tempat di mana aku berada sekarang ini. Ac menyala, kipas angin berputar dengan cepatnya, serta tergeletak segelas jus strowberry yang tersisa setengah gelas di atas kulkas.

Oh, come on! Ini musim dingin, dan aku tidak mengerti kenapa ia melakukan banyak hal aneh semacam ini?

Aku pilih bergerak cepat menghampiri meja, dan mengambil remote ac. Setelah mematikan pendingin ruangan, aku bergerak mendekati kipas angin dan menekan tombol off. Aku yakin, orang yang tinggal di sini benar-benar sedang dalam kondisi ingin bunuh diri.

Sekarang saja, badanku sudah kedinginan hanya selang beberapa detik aku menginjakkan kaki di tempat ini.

Kenapa jika orang itu ingin bunuh diri, harus mengundangku sekarang? Kenapa ia tidak lebih baik ia meminum ramuan beracun atau apa pun itu? Kenapa ia tidak melompat saja dari balkon? Bukankah itu lebih mudah? Kenapa ia harus membuat ruangan tempatnya tinggal menjadi kulkas seperti ini? Why?

Ah, benar-benar orang aneh.

Sambil menunggu si penghuni apartemen yang tidak kunjung muncul, aku pilih mengedarkan mata. Kusapu seluruh lekuk dan sudut ruangan dengan tatapan ingin tahu. Pandanganku tertumbuk pada satu pot berwarna hitam di jendela apartemen yang menghadap ke luar.

Tanpa bisa dicegah, kakiku bergerak otomatis. Mendekat.

Pot itu berisi tanaman kecil, berwarna hijau yang mirip rumput. Bahkan, aku sempat berpikir tanaman itu memang rumput kalau tidak melihat ada garis tepi bergerigi berwarna hijau kebiruan di sekeliling daun-daun dengan lebar tiga senti meter itu.

Tanganku baru akan menyentuh daun unik itu, saat tiba-tiba suara pintu mengusik. Aku menengok dan mendapati pria berjas hitam panjang dengan tas jinjing berwarna senada di tangan kiri, memasuki apartemen.

“Siapa kamu?” tanyanya. “Kenapa kamu berada di sini?”

-Bersambung!-

Yohooo… Nggak tau deh, menurut pembaca itu paragraf jelek atau bagus.

Tapi yang penting, aku menemukan satu benang merah.

Ternyata nggak ada kata nggak ada ide atau nggak mood dalam kamus penulis! Setidaknya, seharusnya.

Sepanjang bikin tulisan di atas yang kupancing dengan lima kata itu, aku justru mendapat ide untuk dijadikan seperti apa tulisan itu nanti. Bagaimana tokoh-tokohnya. Masalah apa yang akan terjadi. De el el.

Sungguh, padahal ide itu sama sekali belum ada sebelum aku mulai menuliskan ini!

Cara ini, bukan murni ideku kok. Aku pernah membaca tips nulis semacam ini, entah di mana. Aku lupa.

Tapi… sepertinya bisa dijadikan percikan saat aku “nggak mood en nggak ada ide….”

Kekekeke…..

^^Happy Writing^^

Advertisements