Antara JIL, Edi Akhiles, dan Era Cepat Saji

Bocah Kampung

Kemarin, pengunjung blog saya naik cukup tinggi, padahal saya tidak memajang tulisan baru. Usut punya usut, dari kata kunci pencarian yang masuk, akhirnya saya tahu bahwa sebagian besar pengunjung itu sedang mencari tahu tentang Edi Akhiles dan hubungannya dengan JIL (Jaringan Islam Liberal). Saya yakin mereka tidak terlalu mendapatkan jawabannya di blog saya. Tulisan saya tentang Edi Akhiles lebih banyak tentang keluarga saya di komunitas #KampusFiksi.

Jujur saja, saya iri pada orang yang bisa mengecek kebenaran sesuatu dengan hanya bermodal Google. Sungguh mudah, cepat, dan murah. Dan sepertinya, mereka tidak terlalu peduli bahwa ada banyak informasi di dunia maya yang nilainya tidak lebih dari sampah (sampah tulen, tidak bisa didaur ulang!). Orang semacam Jonru tidak hanya satu. Peminat informasi cepat saji juga bukan cuma satu. Mereka, biasanya, seperti anak burung yang hanya bisa mangap dan menunggu disuapi. Apa yang dimasukkan ke mulutnya, itulah yang ditelan.

Orang-orang yang berkunjung ke blog…

View original post 507 more words

10 Kalimat yang Jangan Pernah Diucapkan kepada Penulis

Ajib^^

 writer-rant-1

Berikut adalah daftar 10 kalimat yang sebaiknya jangan diucapkan ke penulis. ^_^

“Buku kamu baru terbit, ya? Aku minta satu ya, yang gratis tis tis! Boleh kan?”

1

Ngarep!

“Wah, sekarang kamu jadi penulis ya? Tulisin kisah hidup aku, dong!”

2

Hmmm…. hidup kamu enggak semenarik yang kamu bayangkan. Sori.

“Gue udah baca ceritalu. Lumayan bagus, tapi kalau endingnya diubah jadi begini dan begitu kayaknya tambah oke.”

3

Oke deh. Makasih.

“Eh, kalau menulis buku dapat royaltinya berapa sih? Hah? Segitu doang?”

4

Iya, emang cuma segitu doang! Terus elu mau ngajakin gue berantem? Gitu?

“Naskah kamu dikirim ke penerbit mana? Oh penerbit itu. Mereka kan penerbit kecil ya?”

5

So what?

“Buku kamu sudah pernah ada yang bestseller belum?

6

Belum ada dan aku masih tetap bahagia.

“Aku kepingin banget jadi penulis, tapi aku enggak pernah punya waktu untuk menulis.”

7

Helloooow, kami juga punya banyak kegiatan kok, dan kami masih punya waktu untuk menulis.

View original post 69 more words