RENUNGAN SEPEREMPAT ABAD: SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!

Gyaaa…. nggak nyangka ya aku masih muda… *Heeehhhh*

Huhuhu… Nggak nyangka ih, tau-tau udah tanggal 28 Oktober lagi, udah sumpah pemuda lagi, dan yah… gue ultah lagi.

Nggak ngerti deh hari ini mau nulis apaan sebenarnya. Intinya sih, saya cuma ingin meninggalkan jejak di hari yang konon bersejarah ini, sekaligus ngelap debu dan sarang laba-laba di blog yang terbengkalai.

happy-birthday-gsb

Omong-omong, emang esensi ulang tahun apaan sih? Rasa-rasanya saya ingin berada di bakon rumah sambil memandang bintang-bintang malam, serta merenungkan semangat juang para pemuda di tahun 1928. Hari bersejarah yang secara kebetulan bertepatan dengan hari lahir saya. Tapi mohon dicatat, tahunnya berbeda ya, karena saya masih sangat muda. *Klang*

Sebenarnya saya hanya ingin menatap langit penuh bintang saat memikirkan apa yang akan saya lakukan di hari ulang tahun saya ini? Seraya merenungkan apa saja yang telah saya lakukan selama hidup, yang ternyata sudah seperempat abad ini? Dan bagaimana nasib impian-impian yang saya miliki?

Ah, sayangnya itu hanya khayalan. Saya belum punya rumah berbalkon, dan kostan saya pun hanya berlantai satu. Terlebih, ini siang hari dan hanya ada matahari bertengger di singasananya.

Jadilah saya hanya duduk di depan laptop berwarna putih andalan dengan stiker VIP BigBang yang menutupi merek yang terkadang suka diilangin huruf ‘S’ di belakangnya oleh segelintir orang usil. Tangan saya bergerak-gerak mengetikan huruf hingga menimbulkan sura gemerutuk dari tuts, yang menghasilkan tulisan penuh typo di layar berukuran sepuluh inchi.

Sekitar tiga hari lalu, saya iseng membuka-buka facebook saya pada tahun 2010 ke belakang. Saya bengong saat menyadari bahwa saya pernah alay, saudara-saudara! Astagah! Saya hanya bisa bengong membaca status demi status yang ahhh… saya bahkan lupa kenapa menuliskan hal-hal sealay dengan bahasa selebay itu! Perlahan, otak saya flashback, dan saya menyadari kalau saya sudah hidup cukup lama. Banyak hal berputar dalam kepala saya. Masa kecil saya, masa SD, SMP, hingga hampir menjadi pemuda SMA yang akhirnya insyaf dan menjadi gadis seutuhnya saat kuliah. Semua ternyata terlewati dalam dua puluh lima tahun alias seperempat abad, mameeen. Bukan waktu yang sebentar.

Lalu… kira-kira berapa sisa yang saya punya? Apakah masih ada seperempat abad lainnya? Ataukah tinggal beberapa tahun? Atau bahkan beberapa hari? Entahlah, hidup dan mati penuh misteri. Kalau mengingat hal semacam itu, rasa-rasanya jadi ingin sholat dan dzikir sepanjang hari. 😦

Dan kalau mengingat seperempat abad yang sudah saya lewati, rasa-rasanya saya semakin sedih. Saya belum melakukan banyak hal. Saya belum membahagiakan banyak orang. Dan jika saya tiba-tiba harus meninggalkan dunia ini, hal apa yang akan orang kenang dari diri saya? Uu-uh, makin merana.

Hingga detik ini, sebenarnya saya tidak tahu harus melakukan apa untuk merayakan ulang tahun saya—kecuali menuliskan curhatan ini. Selama ini, perasaan saya melewati peringatan hari lahir saya dengan biasa-biasa saja. Hmm… Hal lain yang muncul di pikiran saya, justru adalah fakta bahwa meski usia saya sudah bertambah, saya masih seperti ini adanya. Sholat saya tidak tambah rajin dan in time, bacaan saya tidak beranjak dari komik dan novel, dan sifat saya masih kebanyakan egois dan kekanak-kanakan.

Saya bahkan belum melakukan apa pun untuk orang tua saya. Saya belum jadi anak berbakti. Belum bisa membalas jasa orang tua, yang selama ini salalu melimpahi saya dengan cinta. Ah, durhakakah saya?

Saya pun pernah memutuskan untuk fokus menjadi penulis, tetapi setelah hidup seperempat abad ini, berapa karya yang sudah saya hasilkan? Efek semacam apa yang ditimbulkan dari tulisan saya? Aakkhhh… *Menangis di pojokan*

Dan hari ini, setelah beberapa hari kemarin tepar karena typoid untuk pertama kalinya (dan semoga terakhir kalinya), saya bersyukur masih bisa bernapas dengan normal. Saya bisa menikmati pagi yang cerah dengan merentangkan tangan tanpa rasa sakit ataupun penderitaan.

Saya ucapkan terima kasih, Tuhan, atas kesempatan hidup yang Engkau berikan padaku hari ini. Nikmat sehat dan nikmat hidup yang tidak jarang saya abaikan selama ini. Dalam seperempat abad hidup yang telah saya jalani, Engkau pun memberi saya kesempatan untuk bertemu banyak orang. Bahkan banyak hal dan banyak kejadian yang terjadi dalam hidup saya. Memberi kesempatan saya untuk terus belajar.

Kini, di hari sumpah pemuda—hari di mana para pemuda Indonesia berkumpul 86 enam tahun lalu—saya berharap mewarisi sedikit saja semangat mereka. Semangat sumpah pemuda untuk menjadi pemuda Indonesia yang akan terus belajar dan terus berkarya selama Tuhan masih memberi kesempatan bernapas.

sumpah pemuda

Sebagai sebuah kado dan penyemangat untuk diri saya saya sendiri, saya ingin mengucapkan SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA dan SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-17 untuk diri saya sendiri! 😀

Terima kasih atas ucapan dan doa dari teman, rekan, saudara, dan orang-orang terkasih saya. Semoga doa yang kalian berikan, terkabul. Dan semoga kebaikan juga melimpahi kalian semua…

Advertisements