10 Kalimat yang Jangan Pernah Diucapkan kepada Penulis

Ajib^^

 writer-rant-1

Berikut adalah daftar 10 kalimat yang sebaiknya jangan diucapkan ke penulis. ^_^

“Buku kamu baru terbit, ya? Aku minta satu ya, yang gratis tis tis! Boleh kan?”

1

Ngarep!

“Wah, sekarang kamu jadi penulis ya? Tulisin kisah hidup aku, dong!”

2

Hmmm…. hidup kamu enggak semenarik yang kamu bayangkan. Sori.

“Gue udah baca ceritalu. Lumayan bagus, tapi kalau endingnya diubah jadi begini dan begitu kayaknya tambah oke.”

3

Oke deh. Makasih.

“Eh, kalau menulis buku dapat royaltinya berapa sih? Hah? Segitu doang?”

4

Iya, emang cuma segitu doang! Terus elu mau ngajakin gue berantem? Gitu?

“Naskah kamu dikirim ke penerbit mana? Oh penerbit itu. Mereka kan penerbit kecil ya?”

5

So what?

“Buku kamu sudah pernah ada yang bestseller belum?

6

Belum ada dan aku masih tetap bahagia.

“Aku kepingin banget jadi penulis, tapi aku enggak pernah punya waktu untuk menulis.”

7

Helloooow, kami juga punya banyak kegiatan kok, dan kami masih punya waktu untuk menulis.

View original post 69 more words

Advertisements

Serenade Senja [Review Novel After Rain by Anggun Prameswari]

“Menyerah memang kelihatan paling mudah. Persis pertanyaanmu kenapa aku tetap bertahan di sana. Tapi kita perlu melakukan hal sulit, agar hidup ke depannya lebih gampang.”

(Elang)

Halooo…

Reviewer is back! Lama gak bikin review lagi, jadi kangen. 🙂

Kali ini, saya mau me-review novel After Rain-nya Mbak Anggun yang bergenre dewasa. Uwooohhh… Bukan genre gue banget kayaknya. Kekeke… *Sok berjiwa muda*

BQ97FWGCQAAQVjr

Caver-nya bagus^^

Awal baca, sesungguhnya saya bosan. Pasalnya saya kesal banget sama si tokoh utamanya yang punya nama bagus, Serenade Senja, tapi kelakuan nyebelin. Nih orang udah jadi selingkuhan pria beristri, terus nggak bisa move on lagi dari si pria tersebut. Bahkan saat si pria memilih istrinya. Errrr!!! Kesel!

Tapi setelah baca lebih lanjut, terutama saat si Seren ini resign dan memutuskan menjadi seorang guru di sebuah SMA, cerita jadi menarik. Apalagi ada pak guru Elang yang entah kenapa kebayang keren banget! Mbak Anggun piawai menggambarkan sosok Elang ini menjadi guru gaul yang oke!

Dengan memakai sudut pandang orang pertama versi Seren alias Serenade Senja, cerita mengalir romantis. Pembaca diajak jungkir balik bareng perasaan Seren yang naik turun kayak roller coaster.

Saya paling suka dengan analogi cinta dengan hukum kekekalan energi. “Cinta itu energi, Seren. Lo nggak bisa menciptakan cinta dalam hati lo, sama seperti lo nggak bisa menghancurkannya. By default, hati setiap orang itu berisi cinta.” (hal 194)

Akkkhhhh analogi ini tepat banget. Whehehe…

Secara keseluruhan, buku ini lumayan bagus. Walau sampai 300an halaman, nggak terasa bacanya karena bahasanya ringan. Nggak terlalu bertele-tele juga.

Tetapi kalau bisa, yang dibawah umur jangan baca. Apa lagi anak sekolah. *halah* Masalahnya, banyak adegan dewasa, yang walau penceritaanya nggak vulgar, tapi bukan contoh yang baik. 😀

Identitas buku:

Judul : After Rain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2013
Jumlah Halaman :  323 halaman
Harga :  Rp. 46.000
ISBN :  978-979-780-659-0

RENUNGAN SEPEREMPAT ABAD: SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!

Gyaaa…. nggak nyangka ya aku masih muda… *Heeehhhh*

Huhuhu… Nggak nyangka ih, tau-tau udah tanggal 28 Oktober lagi, udah sumpah pemuda lagi, dan yah… gue ultah lagi.

Nggak ngerti deh hari ini mau nulis apaan sebenarnya. Intinya sih, saya cuma ingin meninggalkan jejak di hari yang konon bersejarah ini, sekaligus ngelap debu dan sarang laba-laba di blog yang terbengkalai.

happy-birthday-gsb

Omong-omong, emang esensi ulang tahun apaan sih? Rasa-rasanya saya ingin berada di bakon rumah sambil memandang bintang-bintang malam, serta merenungkan semangat juang para pemuda di tahun 1928. Hari bersejarah yang secara kebetulan bertepatan dengan hari lahir saya. Tapi mohon dicatat, tahunnya berbeda ya, karena saya masih sangat muda. *Klang*

Sebenarnya saya hanya ingin menatap langit penuh bintang saat memikirkan apa yang akan saya lakukan di hari ulang tahun saya ini? Seraya merenungkan apa saja yang telah saya lakukan selama hidup, yang ternyata sudah seperempat abad ini? Dan bagaimana nasib impian-impian yang saya miliki?

Ah, sayangnya itu hanya khayalan. Saya belum punya rumah berbalkon, dan kostan saya pun hanya berlantai satu. Terlebih, ini siang hari dan hanya ada matahari bertengger di singasananya.

Jadilah saya hanya duduk di depan laptop berwarna putih andalan dengan stiker VIP BigBang yang menutupi merek yang terkadang suka diilangin huruf ‘S’ di belakangnya oleh segelintir orang usil. Tangan saya bergerak-gerak mengetikan huruf hingga menimbulkan sura gemerutuk dari tuts, yang menghasilkan tulisan penuh typo di layar berukuran sepuluh inchi.

Sekitar tiga hari lalu, saya iseng membuka-buka facebook saya pada tahun 2010 ke belakang. Saya bengong saat menyadari bahwa saya pernah alay, saudara-saudara! Astagah! Saya hanya bisa bengong membaca status demi status yang ahhh… saya bahkan lupa kenapa menuliskan hal-hal sealay dengan bahasa selebay itu! Perlahan, otak saya flashback, dan saya menyadari kalau saya sudah hidup cukup lama. Banyak hal berputar dalam kepala saya. Masa kecil saya, masa SD, SMP, hingga hampir menjadi pemuda SMA yang akhirnya insyaf dan menjadi gadis seutuhnya saat kuliah. Semua ternyata terlewati dalam dua puluh lima tahun alias seperempat abad, mameeen. Bukan waktu yang sebentar.

Lalu… kira-kira berapa sisa yang saya punya? Apakah masih ada seperempat abad lainnya? Ataukah tinggal beberapa tahun? Atau bahkan beberapa hari? Entahlah, hidup dan mati penuh misteri. Kalau mengingat hal semacam itu, rasa-rasanya jadi ingin sholat dan dzikir sepanjang hari. 😦

Dan kalau mengingat seperempat abad yang sudah saya lewati, rasa-rasanya saya semakin sedih. Saya belum melakukan banyak hal. Saya belum membahagiakan banyak orang. Dan jika saya tiba-tiba harus meninggalkan dunia ini, hal apa yang akan orang kenang dari diri saya? Uu-uh, makin merana.

Hingga detik ini, sebenarnya saya tidak tahu harus melakukan apa untuk merayakan ulang tahun saya—kecuali menuliskan curhatan ini. Selama ini, perasaan saya melewati peringatan hari lahir saya dengan biasa-biasa saja. Hmm… Hal lain yang muncul di pikiran saya, justru adalah fakta bahwa meski usia saya sudah bertambah, saya masih seperti ini adanya. Sholat saya tidak tambah rajin dan in time, bacaan saya tidak beranjak dari komik dan novel, dan sifat saya masih kebanyakan egois dan kekanak-kanakan.

Saya bahkan belum melakukan apa pun untuk orang tua saya. Saya belum jadi anak berbakti. Belum bisa membalas jasa orang tua, yang selama ini salalu melimpahi saya dengan cinta. Ah, durhakakah saya?

Saya pun pernah memutuskan untuk fokus menjadi penulis, tetapi setelah hidup seperempat abad ini, berapa karya yang sudah saya hasilkan? Efek semacam apa yang ditimbulkan dari tulisan saya? Aakkhhh… *Menangis di pojokan*

Dan hari ini, setelah beberapa hari kemarin tepar karena typoid untuk pertama kalinya (dan semoga terakhir kalinya), saya bersyukur masih bisa bernapas dengan normal. Saya bisa menikmati pagi yang cerah dengan merentangkan tangan tanpa rasa sakit ataupun penderitaan.

Saya ucapkan terima kasih, Tuhan, atas kesempatan hidup yang Engkau berikan padaku hari ini. Nikmat sehat dan nikmat hidup yang tidak jarang saya abaikan selama ini. Dalam seperempat abad hidup yang telah saya jalani, Engkau pun memberi saya kesempatan untuk bertemu banyak orang. Bahkan banyak hal dan banyak kejadian yang terjadi dalam hidup saya. Memberi kesempatan saya untuk terus belajar.

Kini, di hari sumpah pemuda—hari di mana para pemuda Indonesia berkumpul 86 enam tahun lalu—saya berharap mewarisi sedikit saja semangat mereka. Semangat sumpah pemuda untuk menjadi pemuda Indonesia yang akan terus belajar dan terus berkarya selama Tuhan masih memberi kesempatan bernapas.

sumpah pemuda

Sebagai sebuah kado dan penyemangat untuk diri saya saya sendiri, saya ingin mengucapkan SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA dan SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-17 untuk diri saya sendiri! 😀

Terima kasih atas ucapan dan doa dari teman, rekan, saudara, dan orang-orang terkasih saya. Semoga doa yang kalian berikan, terkabul. Dan semoga kebaikan juga melimpahi kalian semua…

Institusi Kesehatan Yang Tidak Sehat (Review Novel “Livor Mortis” by Deasylawati P)

Kembali, ada lagi kasus malpraktik terjadi di Indonesia. Semalam persis sebelum tidur, sayup-sayup saya melihat berita ini di televisi. Kasus orang miskin yang anaknya meninggal karena tidak mendapat pertolongan langsung dari rumah sakit. Sayangnya saya keburu tertidur di depan televisi sebelum mendengar lengkap berita ini.

Nah, karena hal inilah, tetiba saya jadi ingat dengan salah satu novel yang kayaknya pernah saya review. Novel inilah yang saya maksud. Livor Mortis.

Saya berkenalan dengan novel ini, persis saat baru lulus kuliah keperawatan, jadi berasa dekat sekali dengan kisah yang digulirkan oleh Mbak Deasylawaty di sini.

Seingat saya juga, kayaknya review ini saya ikutkan lomba. Walau nggak menang sih… hehe…

Yah, memang masih abal-abal sih dalam pembuatan review or resensi. Dan “Institusi Kesehatan yang Tidak Sehat” ini adalah review pertama saya, jadi maklum kalau bahasanya masih agak aneh, labil, dan ya begitulah… 😀

Chekitout mariii……^^ livor mortis

Judul              : Livor Mortis
Penulis           : Deasylawati P.
Cetakan          : I, Juni 2008
Penerbit        : Indiva Media Kreasi
Tebal              : 240 halaman
Ukuran          : 13 x 20,5 cm
ISBN               : 979-1397-41-4

Bagaimana jadinya jika rumah sakit milik pemerintah berorientasi kepada bisnis? Hanya berkutat demi mendapatkan materi semata. Padahal ini menyangkut nyawa manusia! Bukankah setiap warga negara berhak mendapat pelayanan kesehatan yang layak? Bukankah pemerintah telah membebaskan dana kesehatan bagi rakyat miskin? Tapi benarkah demikian? Benarkah keadilan dibidang kesehatan telah dapat dirasakan setiap insan?

Dengan mengusung tema itulah, Deasylawati P. membawa para pembacanya menjelajah ke dalam dunia yang bersinggungan langsung dengan nyawa manusia. Novel ini menjadi tolak ukur fakta yang memang terjadi di lapangan. Di rumah sakit maupun di institusi kesehatan lain. Deasylawati menggunakan pengalamannya yang pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah jurusan keperawatan secara baik dalam novel ini. Sehingga membuat kisah yang terjadi terasa begitu nyata. Begitu dekat dengan kita.

Novel Livor mortis ini bercerita tentang Fatiya, gadis berjilbab yang baru saja lulus dari bangku kuliahnya di fakultas keperawatan. Sebagai mahasiwa yang berasal dari kalangan ”biasa” ia mengetahui secara pasti bagaimana susahnya berjuang menamatkan pendidikannya. Ternyata pendidikan itu mahal.

Setelah merasakan betul yang namanya perjuangan, mulai dari kuliah ia harus berjuang agar bisa lulus dan mendapat nilai yang bagus, setelah lulus, ia berjuang mencari pekerjaan. Maka sekarang, ketika ia mendapatkan pekerjaan, yang harus ia lakukan adalah, berjuang untuk bisa bertahan. Fatiya bekerja di RS dr Sarkadi. Rumah sakit milik pemerintah yang memiliki nama ”besar” di kotanya.

Perjuangan awal Fatiya di RS dr. Sarkadi dimulai sejak dirinya menjalani masa orientasinya yakni selama tiga bulan pertama. Dalam masa orientasi ini biasanya seorang perawat berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Hingga akhirnya tiba saatnya Fatiya orientasi di ruang IBS (Instalasi Bedah Sentral) atau ruang operasi. Di ruang tersebut, ia bertemu dengan Haris, perawat yang murah senyum, Lukman si perawat yang riang dan usil serta dr. Pras, coas yang sedang menjalani praktik di tempat itu sebelum menjadi dokter spesialis bedah.

Livor mortis menjadi novel yang mengomentari fenomena diskriminasi sosial yang sering terjadi di institusi-institusi dalam negeri. Novel ini menghadirkan kisah-kisah klasik pasien kelas tiga yang terjadi secara real di sekitar kita. Kisah tentang Robi dan istrinya yang menjadi korban human eror. Kisah Sukarto dan Ponirah yang bernasib sial hingga perlakuan-perlakuan ‘khusus’ terhadap pasien-pasien kelas tiga. Di tengah himpitan yang mendera orang-orang sakit, mereka harus menerima perlakuan berbeda dari pemberi fasilitas lantaran mereka adalah orang tidak punya. Mendapat perlakuan tidak manusiawi hanya karena tidak mampu membayar lebih untuk mendapat pelayannan yang baik.

Rupanya pembagian kasta berdasarkan kelas masih melekat erat di setiap segi kehidupan tanpa kita sadari. Fatiya, Haris, Lukman dan dr Pras menjadi saksi langsung di tempatnya bekerja. Bahwa perbedaan perlakuan terhadap mereka yang berduit dan yang tidak amatlah mencolok. Tanpa mereka sadari, mereka terlibat dan memiliki andil besar dalam tragedi kemanusian paling mengenaskan.

Selain membahas masalah kesehatan, jalan cerita juga dibumbui dengan cerita cinta yang dirangkai secara apik. Rasa “suka” Fatiya kepada Haris, pemuda yang murah senyum menjadi sebuah dilema ketika tiba-tiba dr Pras melamarnya. Bagi Fatiya, bagai keajaiban seorang perawat honorer dilamar dokter yang tinggal menunggu detik-detik menjelang gelar spesialis. Kebingungan Fatiya, antara melihat kondisi keluarga yang “kurang” dengan perasaan cintanya. Siapa sih yang ingin menolak lamaran calon dokter spesialis yang muda dan tampan? Apalagi Haris juga tidak berkata sepatah kata pun pada Fatiya. Fatiya bingung, apakah Haris juga menyukai Fatiya?

Kisah cinta lain juga diurai oleh pasangan Ponirah dan Pak Karto. Keduanya adalah pasangan yang setia dan saling mencintai. Meski harus berjuang ekstra keras, Ponirah selalu setia menunggui suaminya yang sakit Diabetes Melitus tipe satu. Sebuah penyakit degeneratif yang merupakan kesialan bagi orang kecil seperti mereka. Ponirah yang sabar bahkan tidak protes ketika suaminya ditemukan sudah meninggal hampir lebih dari delapan jam dan tidak ada perawat yang mengetahuinya. Entah bagaimana dan kapan pasien itu mati, tidak ada yang tahu. Padahal kematian terjadi di rumah sakit yang mempekerjakan banyak agen kesehatan. Pasien ditemukan dengan lebam mayat ditubuhnya atau disebut livor mortis. Bagi Ponirah, kematian suaminya sudah takdir dan tidak boleh disesali agar suaminya dapat tenang dialamnya kini.

Lalu bagaimana perasaan Fatiya yang bertugas sebagai perawat yang dinas malam pada hari itu? Bagaimana perasaannya ketika melihat Ponirah tetap sabar dan mengucapkan terimakasih padanya karena mau merawat suaminya. Padahal jelas-jelas perawat telah lalai dan tidak memeriksa Pak Karto. Salahkah Fatiya ketika beban tugas seorang perawat tidak sesuai dengan jumlah pasien yang membludak?

“Tidak ada yang pernah menyangka, kejadian naas yang menimpa salah satu pasien tersebut membuka rentetan kejadian-kejadian lain yang mencengangkan. Ini mengenai kedigdayaan, keegoisan, arogansi, bahkan dapat dikatakan sebagai penindasan.” Demikian tulis Deasylawati P. pada halaman 11 dalam bukunya.

Sementara itu, Robi berniat menuntut Rumas Sakit dr. Sarkadi atas peristiwa yang dialami istrinya. Istrinya harus menderita sakit berkepanjangan karena pelayanan yang bertele-tele. Apalagi anaknya juga meninggal karena kadar bilirubinnya diatas batas normal. Menurut adik kelas Robi semasa SMA yang kebetulan bekerja sebagai perawat RS. Dr. Sarkadi, istrinya menjalani bedah ulang karena perbaikan kondisi. Tetapi Robi merasa ada yang tidak beres. Perbaikan kondisi dari apa? Kenapa tidak pernah dijelaskan padanya? Lalu kenapa foto ronsen perut istrinya tiba-tiba menghilang? Bahkan biaya pembedahan digratiskan begitu saja.

Dalam kasus ini, batin Fatiya kembali diuji. Antara mengatakan yang sesungguhnya terjadi pada Robi atau menjaga nama baik instutusi tempatnya bernaung. Karena bagaimanapun ia telah menjadi anggota keluarga besar RS. Dr Sarkadi. Fatiya bimbang, ingin rasanya ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Robi yang tentu saja akan mencemarkan nama baik rumah sakit, atau tetap diam.

Karena merasa dizhalimi, Robi pun mengontak temannya yang bekerja di konsultan hukum untuk membantunya memecahkan masalah yang dialami olehnya. Robi tidak ingin ketidakadilan yang diterimanya di instansi terkenal itu dialami oleh orang lain. Dengan berbagai upaya, akhirnya Robi berhasil mengumpulkan masa untuk mendemo pihak rumah sakit.

Dalam novel ini diceritakan bagaimana pengalaman batin seorang perawat dan dokter yang merasakan betul apa yang sebenarnya terjadi di institusi kesehatan. Antara hati nurani dan kewajiban kerja yang seringkali harus mengabaikan kata hati. Kelaliman, keegoisan, kebengisan dan penindasan seolah bercampur dengan tindakan-tindakan kepada pasien yang berada di ambang nyawa. Sampai akhirnya salah satu dari mereka memilih keluar dari tempat kerjanya karena tidak kuat mengabaikan sisi kemanuasiannya.

Fatiya memilih jalan dengan kembali berjuang mencari arti hidupnya. Meski bekerja di rumah sakit negeri itu menjanjikan masa depan yang lebih cerah, namun ia enggan mengabaikan nurani. Ia memilih mencari jalan yang membuat batinnya tenang, damai dan bahagia. Meski ia harus kehilangan pendapatan, uang, jabatan, impian dan cintanya.

Seperti apa yang ditulis Deasylawati di halaman 90 “Hidup memang sebuah perjuangan. Entah hidup sudah enak, sudah mapan, sudah tercukupi, tetap saja semua proses dalam hidup adalah sebuah perjuangan. Tinggal bagaimana memaknai perjuangan itu sebagai sesuatu yang berarti atau hanya sekedar suatu proses yang memang harus dilalui. Sebuah perjuangan hanya akan bisa berarti bila manusia melakukannya dengan niatan ibadah kepada Rabb-nya semata.”

Deasylawati juga menghadirkan persoalan yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Di Indonesia yang mayoritas warganya beragama Islam, kita justru seringkali berbenturan dengan peraturan pemerintah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Terkadang keteguhan hampa pada Rabnya perlu diperjuangkan secara khusus meski harus mendapat cemoohan dari manusia. Seperti Fatiya yang memilih mempertahankan memakai rok meskipun harus melanggar aturan rumah sakit. Baginya lebih baik ditegur manusia dari pada ditegur Allah. Namun sayangnya, hidup tidaklah semudah itu. Begitu banyak perjuangan yang harus dihadapi Fatiya dalam menjalankan keyakinannya.

Akhir yang disajikan Deasylawati dalam buku ini juga tidak memaksakan. Semuanya seolah berjalan mengalir bagai sungai. Penulis tidak membuat jalan novelnya harus berending bahagia atau luka. Penulis menyajikan ending yang jauh lebih manusiawi. Jauh lebih nyata. Hal ini memberikan makna tersendiri bagi pembaca. Kesan akhir yang ditulisnya pada halaman 236 seolah memberi gambaran relita kehidupan di era sekarang. Inilah faktanya. Inilah realitanya.

“Hukum rimba berlaku leluasa di negeri ini. Siapa yang kuat dialah sang raja. Siapa berkuasa dialah pemenangnya. Tak perduli di mana pun arenanya. Tak perduli apakah itu menyangkut nyawa manusia. Yang masih punya hati tersingkiri. Yang mempertahankan nurani menjadi orang-orang yang ditertawai. Dunia ini adalah sebuah panggung, dimana arogansi menjadi mutlak demi mendapatkan materi.”

Sayangnya pada awal novel gambaran cerita diceritakan secara langsung bahwa Perawat Fatiya hendak keluar dari rumah sakit. Hal menjadikan cerita tidak lagi membuat pembaca penasaran karena sudah menebak akhir ceritanya. Selain itu, kenyamanan pembaca sedikit terganggu dengan adanya beberapa kesalahan penulisan. Ini menjadi catatan tidak hanya bagi Deasylawati, editor serta penerbit buku ini. Tetapi juga buku-buku lain yang beredar di Indonesia. Masih banyak buku yang banyak salah cetak atau salah ketik. Hal ini tentu saja sangat mengurangi kualitas buku itu sendiri.

Rahasia Gua Honeycomb—The Hardy Boys #7 by Franklin W. Dixon [Review novel]

The Hardy boys! Serial novel detective yang kayaknya bakal saya suka deeehhh…. 😀

Hardy1

Well, sebenarnya saat hendak membeli novel ini, saya sempat disusupi ragu. Karena saat itu, saya pikir The Hardy Boys yah semacam tiruan Lima Sekawan—model-model detective semacam itu. Bahkan sebelum membaca nama pengarangnya, saya berpikir ini adalah novel Indonesia mengingat namanya Hardy… hihi…

Tapi setelah membeli plus membacanya tentu saja, keraguan saya berangsur mencair. Yeah, novel ini memang tetap se-tipe dengan Lima Sekawan—novel paling saya sukai sepanjang hidup, tapi dengan sasaran pembaca lebih tua. Ohohoho…

Yup! Lima sekawan itu pertama saya baca saat masih di bangku SD, dan saya merasa sangat cocok! Novel itu mengajak pembaca berpetualang, murni bersama teman tanpa embel-embel cinta. Dan itu sangat cocok bagi jiwa muda yang masih lugu seperti saya saat itu…. XD

Nah, seandainya saya menemukan The Hardy Boys saat di bangku SMP atau SMA, saya pikir saya juga akan sangat suka! Novel ini masih tentang petualangan, detective, dan penjahat. Nah, di sini mulai ada cinta-cintanya, secara tokohnya kan remaja… walau itu sebagian kecil. Sangat kecil malah^^. Cocok untuk bacaan remaja, dari pada novel penuh cinta menye’-menye’… *LOL…

Perbedaan lainnya dengan lima sekawan, The Hardy Boys memiliki tokoh yang memang sudah berkecimpung di dunia detective. Berbeda dengan George dan kawan-kawannya yang hanya seringkali terlibat kasus tanpa sengaja.

Nah, seri The Hardy Boys yang saya baca pertama kali, sekaligus yang baru saya miliki ini nomor 7, Franklin W. Dixon kali ini mengajak pembaca menelusuri “Rahasia Gua Honeycomb”

Kisah ini berawal dari munculnya seorang gadis bernama Mary di rumah Hardy bersaudara, Frank dan Joe. Rupanya gadis itu ingin menemui ayah mereka, detective terkenal Fenton Hardy. Mary menjelaskan bahwa dirinya adalah mahasiswa baru di Kenworthy College yang baru saja menyelesaikan semester musim semi. Dia berecana menghabiskan waktu selama musim panas dengan saudaranya di West Coast. Namun, sejak kakaknya menghilang beberapa hari sebelumnya, Mary membatalkan perjalannya dan datang ke Bayport.

Mulai sejak kejadian itu, Joe dan Frank pun membantu meyelidiki kasus hilangnya sang profesor muda briliant itu. Sayangnya, Frank dan Joe justru malah sempat mengalami beberapa kali teror Delta Sigma—yang awalnya saya pikir tidak ada hubungannya dengan kasus.

Setelah lolos dari perploncoan ala Delta Sigma, Frank dan Joe menemukan petunjuk dari kertas ujian yang ditinggalkan Profeser Tood, sebelum menghilang. Peunjuk itu adalah R-O-C-K-A-W-A-Y , nama sebuah kota.

Saat Frank dan Joe hendak mulai sibuk menyelediki gua Honeycomb diantar dua sobat mereka Chet Morton (dengan alat pendeteksi logam terbarunya) dan Biff Hooper, tiba-tiba ada kejadian sabotase di stasiun radar baru dekat kota kediaman keluarga Hardy di Bayport. Kasus sabotase yang sedang diselidiki ayah mereka. Misteri pun menjadi semakin rumit. Terlebih, Delta Sigma—Gua Honeycomb, hingga hilangnya profesor Todd ternyata memiliki satu benang merah yang terjulur kusut. Misteri ini beberapa kali membuat empat remaja itu dalam bahaya. Bahkan hampir celaka.

Menarik! Itu kesimpulan saya usai membaca petualangan Hardy bersaudara dan sobatnya. Penjelasan bagaimana misteri terpecarkan dan lain-lainnya, silahkan baca sendiri aja^^…

Yang jelas, lain kali kalau melihat novel ini, saya berminat mengoleksi seri The Hardy Boys lainnya… Kabar-kabar ya kalau ada melihat novel ini^^

 

Judul Buku: The Hardy Boys

Tagline : Rahasia Gua Honeycomb
Penulis: Franklin W. Dixon

Alih Bahasa : Januarsyah Sutan
Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 168
ISBN: 978-979-27-8000-0
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Detective, Adventure

Montase—by Windry Ramadhina [Review Novel]

Gambar

Namanya Rayyi, biasa dipanggil Bao alias Bao Bao. Cowok ini kuliah di Institut Kesenian Jakarta fakultas film dan televisi dengan peminatan produksi. Yup, dengan ayah seorang produser kelas kakap, Irianto Karnaya, Rayyi seakan sudah ditakdirkan sebagai produser pula dalam hidupnya. Meski Rayyi sangat menyukai dunia film dokumenter, sepertinya itu akan menjadi mimpi belaka.

Dan mimpi yang Rayyi pendam kembali muncul tatkala di kelas Dokumenter IV yang diajari oleh Samuel Hardi, ia kembali bertemu dengan gadis jepang bernama Haru Enomoto. Seorang mahasiswa Tokyo Zokei University yang sedang studi banding di IKJ selama dua semester, sekaligus si pemenang Festifal Film Dokumenter yang digelar Greenpeace mengalahkan Rayyi.

Kedekatan mereka tercipta saat Samuel Hardi memberikan tugas pertama mereka, dan atas saran sahabatnya, Rayyi iseng memakai Haru sebagai obyek film dokumenternya.

“Dia bangkit berdiri secara tiba-tiba, lalu mendekati lili raksasa itu. Buku sketsa dan alat gambar kepunyaanya itu, sebatang konte, digeletakan begitu saja di lantai. Aku memperhatikan buku sketsa Haru Enomoto. Rupanya, Haru Enomoto melukis lili raksasa tersebut dan dia melakukannya dengan terampil.

Kini, gadis itu berada di antara kelopak-kelopak lili, meraba-raba permukaan sculpture licin. Dia kelihatan semain mungil dan—

Demi Tuhan, moment ini—“ (Hal 73)

Itu bagian yang saya suka di Montase ini. Saat di mana Rayyi melihat sisi lain dari Haru. Dan cara Mbak Windry menggambarkan moment yang terjadi di sana, sungguh berhasil membuat saya jatuh cinta…

Dan sejak kejadian di patung lili itu, Rayyi seakan terus kecanduan untuk merekam Haru, merekam, dan merekamnya lagi. Dari sanalah kisah cinta mulai muncul satu per satu. Mulai dari Rayyi dan Haru, bahkan hingga Bev dan dosen mereka, Samuel Hardi.

Selain itu, masalah terbesar pun kembali melanda Rayyi. Terutama sejak ia mendapatkan nilai D di ujian perencanaan produksi-nya. Ia pun tidak diperbolehkan lagi nge-kost, tidak boleh lagi berhenti magang dari perusahaan ayahnya, tidak bisa ikut International Documentary Film Festifal Amsterdam (IDFA), dan yang paling buruk, tidak bisa lagi mengikuti kelas Samuel Hardi.

Ya, Rayyi menyerah. Ia merasa tidak mungkin menggapai impiannya menjadi pembuat film dokumenter. Dirinya sudah ditakdirkan menjadi produser, tanpa ia bisa menolak.

Hingga akhirnya, kepergian Haru menyadarkannya. Membuat Rayyi memilki keberanian untuk menjemput mimpinya, setelah tahu sebuah kenyataan pahit dibalik kepergian Haru. Dan kembalilah terjadi perang dunia keempat antara Rayyi dan ayahnya yang membuat Rayyi terpaksa kabur, dan memulai segalanya dari nol.

Apakah Rayyi berhasil menggapai cita-citanya? Membaca sendiri novel ini rasanya lebih nikmat yak! ^^

Ceritanya bagus kok. Tidak mengecewakan menurut saya. Saya suka bagaimana cara Mbak Windry mengisahkan kehidupan Rayyi yang lagi-lagi memakai POV satu. Saya suka Rayyi! Hoho…

Cuma, mungkin karena saya baru saja membaca Memory, jadinya kisah di montase cenderung terasa monoton. Lagi-lagi masalah dengan sang ayah, walau ceritanya jauh berbeda sih… hehehe…

Yup, empat bintang rasanya pantas kok buat Montase^^..

Keyyyeeen!

Identitas Buku

Judul Buku: Montase

Tagline : Kau di antara beribu sakura
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media

Terbit: 2013, Cetakan ketiga
Jumlah Halaman: 357
ISBN: 978-979-780-605-7
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance Inspiratif

Review Last Minute In Mahattan by Yoana Dianika

Matahari tenggelam sempurna di Manhattan, menghujani gedung-gedung dengan warna senja cakrawala. 

Gambar

Di kota ini, kau akan bertemu Callysta.
Ia menemukan langit yang menaungi senja—membuatnya merasa nyaman, seperti mendapat perlindungan. Membuatnya jatuh cinta.
Namun, jatuh cinta memang tidak semudah yang dibayangkan. Saat cinta mulai menyergap, yang bisa dilakukan hanyalah mempertahankannya, agar tak memburam dan menghilang ketika ragu dan masa silam ikut mengendap.
Di kota ini, gadis itu jatuh cinta, tetapi segera ia surukkan di lorong-lorong gedung-gedung meninggi, dan ia benamkan bersama senja yang tenggelam sempurna.
“Hatiku masih terlalu rapuh,” begitu katanya.
Maukah kau menemaninya di Manhattan?

Manis ya kalimat-kalimat di atas…^^ Yup, itu adalah blurp dari novel Last Minute in Manhattan ini. Keren sekali bukan? Secara kasat mata, cover dan blurp dari novel ini memang sangat menarik! Sangat sangat sangat, setidaknya menurut saya.

Oleh sebab itu, saya menaruh ekspektasi yang lumayan tinggi saat mulai membacanya. Sayang, awalan menarik ini tidak mememiliki ending yang sempurna. Sungguh, saya merasa sangat kecewa usai menamatkan novel setebal 399 halaman ini.

Kenapa? Yang pertama, saya merasa novel ini memiliki jalan cerita yang aneh dan maksa! Cara Yoana membawa Callysta ke Manhattan cenderung terkesan dipaksakan agar tercipta setting di sana. Belum lagi, ia bertemu makhluk-makhluk sempurna luar biasa dengan karakter maksa yang ‘enggak’ banget.

Saya harus berjuang sangat keras untuk membaca hingga akhir novel ini hingga kelar. Benar-benar terasa penuh perjuangan dan tersiksa. Bahkan saat saya bertanya pada beberapa teman yang punya novel ini, mereka berkata tidak bisa menyelesaikannya. Hm, tampaknya saya cukup sabar… hihihi…

Saya membaca novel ini, sekitar lima bulan lalu sebenarnya. Kemarin saat saya buka-buka folder catatan di handphone, saya menemukan keluhan soal novel ini kepada teman saya tertanggal lima bulan lalu. Jadi saya berpikir untuk menuliskannya hari ini… *Ini yang saya katakan pada teman saya juga lima bulan lalu—membuat review-nya^^*

Keanehan lain yang saya temukan di Last Minute In Manhattan ini adalah pergantian POV. Sejak awal, Yoana memakai POV satu. Aku dari versi Callysta. Dan sebenarnya Yoana cukup piawai dengan POV satu ini, terlepas dari keanehan jalan ceritanya. Namun secara mendadak, dipertengahan Yoana mengubahnya dengan POV 3. Dan saya tidak mengerti kenapa ia melakukannya.

Menurut saya, tanpa perlu berganti POV pun tidak ada pengaruhnya ke dalam cerita. Toh, meski ganti POV, yang dieksplor tetaplah hanya cerita dari versi si Callysta. Bahkan hingga saya kelar baca novel ini, saya tetap tidak menemukan alasan bagi Yoana untuk berganti POV. Jadi sungguh, hingga detik ini saya tidak memiliki pencerahan untuk mengerti.

Dan sejujurnya pergantian POV ini terasa sangat mengganggu kenikmatan saya dalam membaca novel ini. Belum lagi, di satu bab terakhir Yoana kembali memakai POV 1. Oh, God! Sungguh saya tidak mengerti kenapa harus begitu.

Pergantian POV kalau memang diperlukan sih mungkin tidak masalah. Tapi ini? Ah, entahlah…

Dan yang bikin geregetan lagi—ini yang bikin saya tambah kecewa—adalah, Yoana membawa tokoh Vesper Skyler yang too perfect!!!

Awas, yang belum baca bukunya mending berhenti di sini karena ke bawah akan ada sedikit spoiler!!!

Oke, mungkin tidak semua orang berpikiran cowok sempurna itu berlebihan. Tapi apa ada yang bisa membayangkan, seorang cowok kaya raya—anggaplah dia anaknya pemilik google atau setidaknya pemegang saham terbesar, lalu jatuh cinta pada gadis Indonesia yang sedang galau tidak jelas usai diselingkuhi pacar bernama Callysta?

Masih rasional?

Oke lanjut… Di sisinya selalu ada gadis jahat—versi Callysta, berparas cantik yang menyukai Vesper, namun Vesper terlalu setia sehingga mengabaikannya. Masih rasional juga kan?

Okeee…

Sekarang bagaimana kalau si cowok kaya raya, keren minta ampun, ganteng, hidup dengan budaya CA, dan SETIA ini merasa bersalah karena merusak topi rajut Callysta, dan ia pun menghabiskan hidupnya dengan belajar merajut dari gadis lain?! Wooow amazing banget kan? Terlalu amazing mendekati khayal bagi saya.

Bahkan Vesper bela-belain belajar merajut, dari gadis yang mencintainya itu—yang tidak ia cintai, hingga menimbulkan salah paham antara dirinya dan Callysta. Bahkan hingga memunculkan dugaan kalau dirinya Junkie, dan hal-hal semacam itu… Dan dari segala keanehan Vesper, ia berakhir berhasil membuat RAJUTAN untuk Callysta! Astaga!

Ini kejadian yang sangat tidak diperlukan sebenarnya. Lagi-lagi, kejadian yang terlalu dipaksakan. Sungguh, rahasia lebay yang disimpan tokoh cowok selama berbab-bab dan membuatku melongo lebar saat mengetahui rahasia konyolnya. Ini cowok cita-cita jadi pejahit apa gimana yak…? *LOL*

At least, yah i’m so disappointed…T.T… Penulis sekaliber Yoana Dianika sebenarnya cukup piawai menggambarkan setting dan menuliskan cerita. Hanya saja sayang, ide ceritanya agak… yah…. begitulah… hihi…

Berikut, identitas bukunya :

Judul Buku: Last Minute In Manhattan

Tagline : Beri cinta waktu
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: Bukune
Terbit: 2013, Cetakan ketiga
Jumlah Halaman: 399
ISBN: 602-220-083-0
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance