Gadis Di Malam 101

Orang menjulukinya sebagai penunggu sejati. Walau sejatinya, ia hanyalah pria biasa berumur dua puluh tujuh tahun. Bedanya, ia kini terjebak dalam ruang dan waktu yang mengikatnya pada sebuah tragedi. Sebuah petaka yang memaksanya terus menunggu seorang gadis. Sekalipun setelah seratus malam berlalu, bayang gadis itu saja, bahkan tidak pernah nampak.

Menunggu bukannya tidak membuatnya lelah. Matanya yang sayu dan tubuhnya yang semakin kurus dari waktu ke waktu adalah bukti kalau dirinya terkurung gundah. Ia hampir frustrasi, ingin marah. Sayangnya, tidak ada sasaran melampiaskan masalah. Maka, walau waktu kepergian Cinderella telah lama berlalu, ia tetap tidak peduli. Pria itu berdiri di lorong yang sepi, seorang diri. Baginya, tempat ini menjadi satu-satunya harapan.

Kenzhie, adiknya, pernah berkata kalau ia bertemu dengan gadis itu di tempat ini untuk pertama dan terakhir kali.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Sebuah pertanyaan bernada halus menyapanya.

Pria itu menengok dengan cepat. Berharap itu menjadi suara orang yang sangat ia rindukan. Sayangnya, harapannya belum di dengar oleh langit. Di hadapannya, seraut wajah pucat dengan rambut ikal berwarna pirang memasang senyum cerah. Gadis asing. Bukan gadis yang ditunggunya itu.

Pria itu pilih membalas senyum—yang sedikit dipaksakan, tanpa memberikan jawaban. Gadis di hadapannya hanyalah orang asing yang tidak tahu masalahnya. Tidak penting baginya untuk sekedar menjawab pertanyaan.

“Kupikir setiap manusia memiliki alasan melakukan sesuatu, pun demikian denganmu.” Gadis itu membuka suara kembali setelah jeda semenit. Tangannya bergerak memilin rambut bergelombang pirangnya tanpa alasan. “Tapi, menunggu dalam diam adalah hal yang konyol.”

Pria itu menoleh kembali dan memberikan tatapan tidak suka pada gadis itu. Ia baru sadar, kalau gadis itu memiliki mata hazel yang terlihat magis. Manis, namun seolah menyimpan banyak misteri. Sayangnya, walau gadis itu benar-benar menarik dengan wajah uniknya yang berbentuk bulat telur, pria itu tetap tidak ingin membagi kisah apa pun dengannya. Terlebih setelah gadis itu mengatai kalau dirinya konyol.

“Aku sering melihatmu muncul di tempat ini. Di waktu yang—seharusnya janggal untuk beraktivitas.” Gadis itu kembali berkomentar, tanpa mempedulikan tatapan pria itu. Tangannya masih asyik memilin rambut. Sepertinya tanganya memiliki kebiasaan untuk terus bergerak saat berkata-kata.

“Lalu, apa yang dilakukan seorang gadis muda pada jam segini—di tempat ini?” Pria itu menyindir. Ia sungguh malas membagi kisah yang terlalu berat ini. Kisah ini menyimpan lipatan dosa yang tidak terhitung jumlahnya. Dosanya. Dan orang yang mendengarnya pasti akan langsung angkat kaki.

Gadis itu masih diam dengan senyum, seolah apa yang dikatakan pria itu dengan nada sinis tidak mengganggunya.

“Apa kau bekerja di sini?” Pria itu bertanya lagi pada akhirnya. Sejujurnya sudah beberapa kali berurusan dengan petugas dan pekerja di tempat ini. Itu hal menyebalkan yang paling ia hindari.

“Apa aku terlihat seperti pekerja di sini?” Gadis itu justru balik bertanya.

Pria itu memandang gadis bermata hazel yang kini sedang memutar-mutar hiasan pita pinggang gaun selututnya, dengan penuh pertimbangan. Gadis itu hanya mengenakan terusan sederhana berwarna putih. Kakinya yang kurus terbungkus flatshoes mungil berwarna gading. “Kau tidak bekerja di sini.” Pria itu menyatakan kesimpulannya. “Jadi, kau pasien yang di rawat di sini?”

Gadis itu tertawa pelan. “Apa aku terlihat sedang sakit sekarang?”

Pria itu mendengus sinis. “Kalaupun kau tak sakit, ini bukan waktu terbaik untuk keluyuran. Seharusnya kau sedang terlelap.”

“Aku akan menghargai saran itu, kalau orang yang mengatakannya padaku sedang tidur nyenyak.” Gadis itu membalas telak. “Kau tidak seharusnya mengkritik orang lain saat kau melakukan hal sama, bukan?”

“Aku sedang menunggu seseorang. Bukan keluyuran.”

“Di tempat ini?” Gadis itu bertanya—yang lagi-lagi sambil memilin rambut. Kepalanya berputar melihat kanan kiri yang terasa sunyi. Lorong-lorong panjang bercat putih yang disinari cahaya remang menjadi pemandangan utama. “Menunggu siapa?”

Pria itu menghembuskan napas berat. Tatapannya jatuh pada pepohonan yang kini terlihat seperti bayangan raksasa di tengah taman. Seram. Bayangan itu mengingatkannya pada bayangan gelap yang memisahkan jarak antara dirinya dan gadis yang ia tunggu. Bayang kenyataan sekelam black hole.

“Menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang lagi, malam ini,” pria itu berkata dengan nada sedih. “Ia sudah pergi terlalu jauh.”

“Tapi kau memutuskan tetap menunggunya?”

“Aku harus minta maaf. Aku yang membuatnya pergi. Aku ingin menebusnya.” Pria itu menghentikan kalimatnya saat ia menyadari sudah bercerita terlalu banyak pada orang asing. “Sudahlah. Kau tak akan mengerti.”

Gadis itu tertawa lagi. Mata hazel-nya tertutup dan membuat pipinya merekah sempurna. “Bukankah setiap orang yang datang memang harus pergi suatu hari? Kupikir itu hal biasa. Kau datang, lalu kau pergi. Ada yang lahir, lalu ada yang mati. Hidup sesederhana itu kan?”

“Tapi bagimana kalau kepergiannya adalah kesalahan? Bagaimana kalau kepergian orang itu tidak seharusnya terjadi?” Pria itu berkata sedikit emosi. “Gadis itu tidak akan mati—kalau bukan karena ulahku. Ini semua salahku.”

Tangan gadis bermata hazel yang sibuk memilin aneka benda berhenti di udara. Ia menengok ke arah pria itu, membiarkan padangan mereka bertumbukan.

“Ya, gadis yang kutunggu sudah tak ada lagi di dunia ini.” Sang pria menjawab pertanyaan yang keluar tanpa kata dari mata hazel itu dengan singkat.

Ada jeda sebentar usai pria itu memaparkan kebenarannya. Fakta bahwa ia menunggu seseorang dari alam baka. Pria itu membiarkan si gadis pemilin terjebak dalam bingung. Seperti yang sudah-sudah, jika ia mengatakan kebenaran ini pada orang asing—yang kebetulan menyapanya, hanya ada dua jawaban yang ia dapati: orang itu akan segera meninggalkannya, atau memanggil petugas keamanan.

Tebakannya salah. Gadis berambut pirang itu malah kembali mengeluarkan gerakan andalannya, lalu berujar ringan. “Kupikir seseorang yang kau tunggu itu adalah orang yang sangat berarti.”

Pria itu mengangguk pelan. “Dia adalah gadis yang sangat baik hati. Kelembutannya mejadi kekuatan yang mengurung monster dalam kepalaku.” Ia berkata dengan nada berat. “Tapi, dia memilih orang lain—bukan aku, dan itu membuatku marah. Aku lepas kontrol dan membiarkan monster itu lepas lagi. Dan itu membuatnya pergi untuk selamanya…”

“Jika dia orang baik, kupikir kau tidak perlu khawatir.” Gadis itu menyela. “Orang yang baik bisa mati. Tapi kebaikannya tidak akan pernah mati—dan ada selalu bersamamu.”

Pria itu tersenyum tulus untuk pertama kalinya pada gadis pemilin itu. “Kau pandai berkata-kata,” pujinya jujur. “Andai aku sepertimu. Aku ingin meminta maaf padanya…”

“Pada orang yang kau tunggu?”

Pria itu mengangguk.

“Kalau begitu, aku datang mewakilinya memaafkanmu.” Kali ini, gadis itu menyodorkan tangannya pada pria itu.

Pria itu tidak membalas uluran tangannya dan justru menatap gadis itu tidak mengerti.

Gadis itu menarik tangan tidak terbalas, lalu kembali memasang senyum ceria. “Aku harus pergi sekarang,” ujarnya.

“Apa?” Pria itu kaget. “Kenapa tiba-tiba?”

“Setiap ada pertemuan selalu ada perpisahan bukan?” Gadis itu berkata di sela tawa. Senyumnya terlihat semakin lebar.

“Lalu, apa kita akan bertemu lagi?”

“Mungkin—,” ujarnya ringan seraya berbalik dengan gerakan cepat. Ia terlalu sembrono dengan berlari begitu saja, hingga menjatuhkan sesuatu.

Saat tubuh mungil itu hampir mencapai ujung lorong, tiba-tiba ia berbalik dan melambaikan tangan. “Sampai jumpa, Radhit!” teriaknya pada pria yang sedang memungut barang yang gadis itu jatuhkan.

Pria itu terkejut mendapati gadis berwajah asing itu mengetahui namanya. Seingatnya, sepanjang obrolan mereka, tidak ada satupun yang sempat memperkenalkan diri. Baik dirinya maupun gadis bermata hazel itu—oh tunggu! Pria itu baru menyadari kalau gadis pemilin itu menjatuhkan sebuah kartu identitas.

Ia balik kartu di tangan, dan matanya melotot lebar mendapati nama yang tercetak di sana: RENATA. Nama gadis yang ia tunggu. Bedanya, Renata-nya tidak seperti foto itu. Renatanya tidak memiliki mata hazel ataupun rambut ikal dan pirang. Berbeda dengan foto gadis yang menemuinya di malam keseratus satu ini.

“Siapa sebenarnya gadis itu?” Ia hanya bisa bertanya pada diri sendiri.

Fajar hampir menyingsing kala pria itu berjalan pelan menyusuri ubin putih sambil menata hati dan pikirannya. Ia tidak fokus, gundah gulana mengambil alih kendali tubuhnya. Pemuda itu bahkan tidak sadar,saat ia berpapasan dengan segerombolan perawat berseragam putih yang sedang membawa brankard.

Di sana, di atas brankard, terbujur seraut wajah cantik yang tidak lagi bernapas. Gadis bermata hazel dengan rambut pirang.

***

Institusi Kesehatan Yang Tidak Sehat (Review Novel “Livor Mortis” by Deasylawati P)

Kembali, ada lagi kasus malpraktik terjadi di Indonesia. Semalam persis sebelum tidur, sayup-sayup saya melihat berita ini di televisi. Kasus orang miskin yang anaknya meninggal karena tidak mendapat pertolongan langsung dari rumah sakit. Sayangnya saya keburu tertidur di depan televisi sebelum mendengar lengkap berita ini.

Nah, karena hal inilah, tetiba saya jadi ingat dengan salah satu novel yang kayaknya pernah saya review. Novel inilah yang saya maksud. Livor Mortis.

Saya berkenalan dengan novel ini, persis saat baru lulus kuliah keperawatan, jadi berasa dekat sekali dengan kisah yang digulirkan oleh Mbak Deasylawaty di sini.

Seingat saya juga, kayaknya review ini saya ikutkan lomba. Walau nggak menang sih… hehe…

Yah, memang masih abal-abal sih dalam pembuatan review or resensi. Dan “Institusi Kesehatan yang Tidak Sehat” ini adalah review pertama saya, jadi maklum kalau bahasanya masih agak aneh, labil, dan ya begitulah… 😀

Chekitout mariii……^^ livor mortis

Judul              : Livor Mortis
Penulis           : Deasylawati P.
Cetakan          : I, Juni 2008
Penerbit        : Indiva Media Kreasi
Tebal              : 240 halaman
Ukuran          : 13 x 20,5 cm
ISBN               : 979-1397-41-4

Bagaimana jadinya jika rumah sakit milik pemerintah berorientasi kepada bisnis? Hanya berkutat demi mendapatkan materi semata. Padahal ini menyangkut nyawa manusia! Bukankah setiap warga negara berhak mendapat pelayanan kesehatan yang layak? Bukankah pemerintah telah membebaskan dana kesehatan bagi rakyat miskin? Tapi benarkah demikian? Benarkah keadilan dibidang kesehatan telah dapat dirasakan setiap insan?

Dengan mengusung tema itulah, Deasylawati P. membawa para pembacanya menjelajah ke dalam dunia yang bersinggungan langsung dengan nyawa manusia. Novel ini menjadi tolak ukur fakta yang memang terjadi di lapangan. Di rumah sakit maupun di institusi kesehatan lain. Deasylawati menggunakan pengalamannya yang pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah jurusan keperawatan secara baik dalam novel ini. Sehingga membuat kisah yang terjadi terasa begitu nyata. Begitu dekat dengan kita.

Novel Livor mortis ini bercerita tentang Fatiya, gadis berjilbab yang baru saja lulus dari bangku kuliahnya di fakultas keperawatan. Sebagai mahasiwa yang berasal dari kalangan ”biasa” ia mengetahui secara pasti bagaimana susahnya berjuang menamatkan pendidikannya. Ternyata pendidikan itu mahal.

Setelah merasakan betul yang namanya perjuangan, mulai dari kuliah ia harus berjuang agar bisa lulus dan mendapat nilai yang bagus, setelah lulus, ia berjuang mencari pekerjaan. Maka sekarang, ketika ia mendapatkan pekerjaan, yang harus ia lakukan adalah, berjuang untuk bisa bertahan. Fatiya bekerja di RS dr Sarkadi. Rumah sakit milik pemerintah yang memiliki nama ”besar” di kotanya.

Perjuangan awal Fatiya di RS dr. Sarkadi dimulai sejak dirinya menjalani masa orientasinya yakni selama tiga bulan pertama. Dalam masa orientasi ini biasanya seorang perawat berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Hingga akhirnya tiba saatnya Fatiya orientasi di ruang IBS (Instalasi Bedah Sentral) atau ruang operasi. Di ruang tersebut, ia bertemu dengan Haris, perawat yang murah senyum, Lukman si perawat yang riang dan usil serta dr. Pras, coas yang sedang menjalani praktik di tempat itu sebelum menjadi dokter spesialis bedah.

Livor mortis menjadi novel yang mengomentari fenomena diskriminasi sosial yang sering terjadi di institusi-institusi dalam negeri. Novel ini menghadirkan kisah-kisah klasik pasien kelas tiga yang terjadi secara real di sekitar kita. Kisah tentang Robi dan istrinya yang menjadi korban human eror. Kisah Sukarto dan Ponirah yang bernasib sial hingga perlakuan-perlakuan ‘khusus’ terhadap pasien-pasien kelas tiga. Di tengah himpitan yang mendera orang-orang sakit, mereka harus menerima perlakuan berbeda dari pemberi fasilitas lantaran mereka adalah orang tidak punya. Mendapat perlakuan tidak manusiawi hanya karena tidak mampu membayar lebih untuk mendapat pelayannan yang baik.

Rupanya pembagian kasta berdasarkan kelas masih melekat erat di setiap segi kehidupan tanpa kita sadari. Fatiya, Haris, Lukman dan dr Pras menjadi saksi langsung di tempatnya bekerja. Bahwa perbedaan perlakuan terhadap mereka yang berduit dan yang tidak amatlah mencolok. Tanpa mereka sadari, mereka terlibat dan memiliki andil besar dalam tragedi kemanusian paling mengenaskan.

Selain membahas masalah kesehatan, jalan cerita juga dibumbui dengan cerita cinta yang dirangkai secara apik. Rasa “suka” Fatiya kepada Haris, pemuda yang murah senyum menjadi sebuah dilema ketika tiba-tiba dr Pras melamarnya. Bagi Fatiya, bagai keajaiban seorang perawat honorer dilamar dokter yang tinggal menunggu detik-detik menjelang gelar spesialis. Kebingungan Fatiya, antara melihat kondisi keluarga yang “kurang” dengan perasaan cintanya. Siapa sih yang ingin menolak lamaran calon dokter spesialis yang muda dan tampan? Apalagi Haris juga tidak berkata sepatah kata pun pada Fatiya. Fatiya bingung, apakah Haris juga menyukai Fatiya?

Kisah cinta lain juga diurai oleh pasangan Ponirah dan Pak Karto. Keduanya adalah pasangan yang setia dan saling mencintai. Meski harus berjuang ekstra keras, Ponirah selalu setia menunggui suaminya yang sakit Diabetes Melitus tipe satu. Sebuah penyakit degeneratif yang merupakan kesialan bagi orang kecil seperti mereka. Ponirah yang sabar bahkan tidak protes ketika suaminya ditemukan sudah meninggal hampir lebih dari delapan jam dan tidak ada perawat yang mengetahuinya. Entah bagaimana dan kapan pasien itu mati, tidak ada yang tahu. Padahal kematian terjadi di rumah sakit yang mempekerjakan banyak agen kesehatan. Pasien ditemukan dengan lebam mayat ditubuhnya atau disebut livor mortis. Bagi Ponirah, kematian suaminya sudah takdir dan tidak boleh disesali agar suaminya dapat tenang dialamnya kini.

Lalu bagaimana perasaan Fatiya yang bertugas sebagai perawat yang dinas malam pada hari itu? Bagaimana perasaannya ketika melihat Ponirah tetap sabar dan mengucapkan terimakasih padanya karena mau merawat suaminya. Padahal jelas-jelas perawat telah lalai dan tidak memeriksa Pak Karto. Salahkah Fatiya ketika beban tugas seorang perawat tidak sesuai dengan jumlah pasien yang membludak?

“Tidak ada yang pernah menyangka, kejadian naas yang menimpa salah satu pasien tersebut membuka rentetan kejadian-kejadian lain yang mencengangkan. Ini mengenai kedigdayaan, keegoisan, arogansi, bahkan dapat dikatakan sebagai penindasan.” Demikian tulis Deasylawati P. pada halaman 11 dalam bukunya.

Sementara itu, Robi berniat menuntut Rumas Sakit dr. Sarkadi atas peristiwa yang dialami istrinya. Istrinya harus menderita sakit berkepanjangan karena pelayanan yang bertele-tele. Apalagi anaknya juga meninggal karena kadar bilirubinnya diatas batas normal. Menurut adik kelas Robi semasa SMA yang kebetulan bekerja sebagai perawat RS. Dr. Sarkadi, istrinya menjalani bedah ulang karena perbaikan kondisi. Tetapi Robi merasa ada yang tidak beres. Perbaikan kondisi dari apa? Kenapa tidak pernah dijelaskan padanya? Lalu kenapa foto ronsen perut istrinya tiba-tiba menghilang? Bahkan biaya pembedahan digratiskan begitu saja.

Dalam kasus ini, batin Fatiya kembali diuji. Antara mengatakan yang sesungguhnya terjadi pada Robi atau menjaga nama baik instutusi tempatnya bernaung. Karena bagaimanapun ia telah menjadi anggota keluarga besar RS. Dr Sarkadi. Fatiya bimbang, ingin rasanya ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Robi yang tentu saja akan mencemarkan nama baik rumah sakit, atau tetap diam.

Karena merasa dizhalimi, Robi pun mengontak temannya yang bekerja di konsultan hukum untuk membantunya memecahkan masalah yang dialami olehnya. Robi tidak ingin ketidakadilan yang diterimanya di instansi terkenal itu dialami oleh orang lain. Dengan berbagai upaya, akhirnya Robi berhasil mengumpulkan masa untuk mendemo pihak rumah sakit.

Dalam novel ini diceritakan bagaimana pengalaman batin seorang perawat dan dokter yang merasakan betul apa yang sebenarnya terjadi di institusi kesehatan. Antara hati nurani dan kewajiban kerja yang seringkali harus mengabaikan kata hati. Kelaliman, keegoisan, kebengisan dan penindasan seolah bercampur dengan tindakan-tindakan kepada pasien yang berada di ambang nyawa. Sampai akhirnya salah satu dari mereka memilih keluar dari tempat kerjanya karena tidak kuat mengabaikan sisi kemanuasiannya.

Fatiya memilih jalan dengan kembali berjuang mencari arti hidupnya. Meski bekerja di rumah sakit negeri itu menjanjikan masa depan yang lebih cerah, namun ia enggan mengabaikan nurani. Ia memilih mencari jalan yang membuat batinnya tenang, damai dan bahagia. Meski ia harus kehilangan pendapatan, uang, jabatan, impian dan cintanya.

Seperti apa yang ditulis Deasylawati di halaman 90 “Hidup memang sebuah perjuangan. Entah hidup sudah enak, sudah mapan, sudah tercukupi, tetap saja semua proses dalam hidup adalah sebuah perjuangan. Tinggal bagaimana memaknai perjuangan itu sebagai sesuatu yang berarti atau hanya sekedar suatu proses yang memang harus dilalui. Sebuah perjuangan hanya akan bisa berarti bila manusia melakukannya dengan niatan ibadah kepada Rabb-nya semata.”

Deasylawati juga menghadirkan persoalan yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Di Indonesia yang mayoritas warganya beragama Islam, kita justru seringkali berbenturan dengan peraturan pemerintah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Terkadang keteguhan hampa pada Rabnya perlu diperjuangkan secara khusus meski harus mendapat cemoohan dari manusia. Seperti Fatiya yang memilih mempertahankan memakai rok meskipun harus melanggar aturan rumah sakit. Baginya lebih baik ditegur manusia dari pada ditegur Allah. Namun sayangnya, hidup tidaklah semudah itu. Begitu banyak perjuangan yang harus dihadapi Fatiya dalam menjalankan keyakinannya.

Akhir yang disajikan Deasylawati dalam buku ini juga tidak memaksakan. Semuanya seolah berjalan mengalir bagai sungai. Penulis tidak membuat jalan novelnya harus berending bahagia atau luka. Penulis menyajikan ending yang jauh lebih manusiawi. Jauh lebih nyata. Hal ini memberikan makna tersendiri bagi pembaca. Kesan akhir yang ditulisnya pada halaman 236 seolah memberi gambaran relita kehidupan di era sekarang. Inilah faktanya. Inilah realitanya.

“Hukum rimba berlaku leluasa di negeri ini. Siapa yang kuat dialah sang raja. Siapa berkuasa dialah pemenangnya. Tak perduli di mana pun arenanya. Tak perduli apakah itu menyangkut nyawa manusia. Yang masih punya hati tersingkiri. Yang mempertahankan nurani menjadi orang-orang yang ditertawai. Dunia ini adalah sebuah panggung, dimana arogansi menjadi mutlak demi mendapatkan materi.”

Sayangnya pada awal novel gambaran cerita diceritakan secara langsung bahwa Perawat Fatiya hendak keluar dari rumah sakit. Hal menjadikan cerita tidak lagi membuat pembaca penasaran karena sudah menebak akhir ceritanya. Selain itu, kenyamanan pembaca sedikit terganggu dengan adanya beberapa kesalahan penulisan. Ini menjadi catatan tidak hanya bagi Deasylawati, editor serta penerbit buku ini. Tetapi juga buku-buku lain yang beredar di Indonesia. Masih banyak buku yang banyak salah cetak atau salah ketik. Hal ini tentu saja sangat mengurangi kualitas buku itu sendiri.