Gadis Di Malam 101

Orang menjulukinya sebagai penunggu sejati. Walau sejatinya, ia hanyalah pria biasa berumur dua puluh tujuh tahun. Bedanya, ia kini terjebak dalam ruang dan waktu yang mengikatnya pada sebuah tragedi. Sebuah petaka yang memaksanya terus menunggu seorang gadis. Sekalipun setelah seratus malam berlalu, bayang gadis itu saja, bahkan tidak pernah nampak.

Menunggu bukannya tidak membuatnya lelah. Matanya yang sayu dan tubuhnya yang semakin kurus dari waktu ke waktu adalah bukti kalau dirinya terkurung gundah. Ia hampir frustrasi, ingin marah. Sayangnya, tidak ada sasaran melampiaskan masalah. Maka, walau waktu kepergian Cinderella telah lama berlalu, ia tetap tidak peduli. Pria itu berdiri di lorong yang sepi, seorang diri. Baginya, tempat ini menjadi satu-satunya harapan.

Kenzhie, adiknya, pernah berkata kalau ia bertemu dengan gadis itu di tempat ini untuk pertama dan terakhir kali.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Sebuah pertanyaan bernada halus menyapanya.

Pria itu menengok dengan cepat. Berharap itu menjadi suara orang yang sangat ia rindukan. Sayangnya, harapannya belum di dengar oleh langit. Di hadapannya, seraut wajah pucat dengan rambut ikal berwarna pirang memasang senyum cerah. Gadis asing. Bukan gadis yang ditunggunya itu.

Pria itu pilih membalas senyum—yang sedikit dipaksakan, tanpa memberikan jawaban. Gadis di hadapannya hanyalah orang asing yang tidak tahu masalahnya. Tidak penting baginya untuk sekedar menjawab pertanyaan.

“Kupikir setiap manusia memiliki alasan melakukan sesuatu, pun demikian denganmu.” Gadis itu membuka suara kembali setelah jeda semenit. Tangannya bergerak memilin rambut bergelombang pirangnya tanpa alasan. “Tapi, menunggu dalam diam adalah hal yang konyol.”

Pria itu menoleh kembali dan memberikan tatapan tidak suka pada gadis itu. Ia baru sadar, kalau gadis itu memiliki mata hazel yang terlihat magis. Manis, namun seolah menyimpan banyak misteri. Sayangnya, walau gadis itu benar-benar menarik dengan wajah uniknya yang berbentuk bulat telur, pria itu tetap tidak ingin membagi kisah apa pun dengannya. Terlebih setelah gadis itu mengatai kalau dirinya konyol.

“Aku sering melihatmu muncul di tempat ini. Di waktu yang—seharusnya janggal untuk beraktivitas.” Gadis itu kembali berkomentar, tanpa mempedulikan tatapan pria itu. Tangannya masih asyik memilin rambut. Sepertinya tanganya memiliki kebiasaan untuk terus bergerak saat berkata-kata.

“Lalu, apa yang dilakukan seorang gadis muda pada jam segini—di tempat ini?” Pria itu menyindir. Ia sungguh malas membagi kisah yang terlalu berat ini. Kisah ini menyimpan lipatan dosa yang tidak terhitung jumlahnya. Dosanya. Dan orang yang mendengarnya pasti akan langsung angkat kaki.

Gadis itu masih diam dengan senyum, seolah apa yang dikatakan pria itu dengan nada sinis tidak mengganggunya.

“Apa kau bekerja di sini?” Pria itu bertanya lagi pada akhirnya. Sejujurnya sudah beberapa kali berurusan dengan petugas dan pekerja di tempat ini. Itu hal menyebalkan yang paling ia hindari.

“Apa aku terlihat seperti pekerja di sini?” Gadis itu justru balik bertanya.

Pria itu memandang gadis bermata hazel yang kini sedang memutar-mutar hiasan pita pinggang gaun selututnya, dengan penuh pertimbangan. Gadis itu hanya mengenakan terusan sederhana berwarna putih. Kakinya yang kurus terbungkus flatshoes mungil berwarna gading. “Kau tidak bekerja di sini.” Pria itu menyatakan kesimpulannya. “Jadi, kau pasien yang di rawat di sini?”

Gadis itu tertawa pelan. “Apa aku terlihat sedang sakit sekarang?”

Pria itu mendengus sinis. “Kalaupun kau tak sakit, ini bukan waktu terbaik untuk keluyuran. Seharusnya kau sedang terlelap.”

“Aku akan menghargai saran itu, kalau orang yang mengatakannya padaku sedang tidur nyenyak.” Gadis itu membalas telak. “Kau tidak seharusnya mengkritik orang lain saat kau melakukan hal sama, bukan?”

“Aku sedang menunggu seseorang. Bukan keluyuran.”

“Di tempat ini?” Gadis itu bertanya—yang lagi-lagi sambil memilin rambut. Kepalanya berputar melihat kanan kiri yang terasa sunyi. Lorong-lorong panjang bercat putih yang disinari cahaya remang menjadi pemandangan utama. “Menunggu siapa?”

Pria itu menghembuskan napas berat. Tatapannya jatuh pada pepohonan yang kini terlihat seperti bayangan raksasa di tengah taman. Seram. Bayangan itu mengingatkannya pada bayangan gelap yang memisahkan jarak antara dirinya dan gadis yang ia tunggu. Bayang kenyataan sekelam black hole.

“Menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang lagi, malam ini,” pria itu berkata dengan nada sedih. “Ia sudah pergi terlalu jauh.”

“Tapi kau memutuskan tetap menunggunya?”

“Aku harus minta maaf. Aku yang membuatnya pergi. Aku ingin menebusnya.” Pria itu menghentikan kalimatnya saat ia menyadari sudah bercerita terlalu banyak pada orang asing. “Sudahlah. Kau tak akan mengerti.”

Gadis itu tertawa lagi. Mata hazel-nya tertutup dan membuat pipinya merekah sempurna. “Bukankah setiap orang yang datang memang harus pergi suatu hari? Kupikir itu hal biasa. Kau datang, lalu kau pergi. Ada yang lahir, lalu ada yang mati. Hidup sesederhana itu kan?”

“Tapi bagimana kalau kepergiannya adalah kesalahan? Bagaimana kalau kepergian orang itu tidak seharusnya terjadi?” Pria itu berkata sedikit emosi. “Gadis itu tidak akan mati—kalau bukan karena ulahku. Ini semua salahku.”

Tangan gadis bermata hazel yang sibuk memilin aneka benda berhenti di udara. Ia menengok ke arah pria itu, membiarkan padangan mereka bertumbukan.

“Ya, gadis yang kutunggu sudah tak ada lagi di dunia ini.” Sang pria menjawab pertanyaan yang keluar tanpa kata dari mata hazel itu dengan singkat.

Ada jeda sebentar usai pria itu memaparkan kebenarannya. Fakta bahwa ia menunggu seseorang dari alam baka. Pria itu membiarkan si gadis pemilin terjebak dalam bingung. Seperti yang sudah-sudah, jika ia mengatakan kebenaran ini pada orang asing—yang kebetulan menyapanya, hanya ada dua jawaban yang ia dapati: orang itu akan segera meninggalkannya, atau memanggil petugas keamanan.

Tebakannya salah. Gadis berambut pirang itu malah kembali mengeluarkan gerakan andalannya, lalu berujar ringan. “Kupikir seseorang yang kau tunggu itu adalah orang yang sangat berarti.”

Pria itu mengangguk pelan. “Dia adalah gadis yang sangat baik hati. Kelembutannya mejadi kekuatan yang mengurung monster dalam kepalaku.” Ia berkata dengan nada berat. “Tapi, dia memilih orang lain—bukan aku, dan itu membuatku marah. Aku lepas kontrol dan membiarkan monster itu lepas lagi. Dan itu membuatnya pergi untuk selamanya…”

“Jika dia orang baik, kupikir kau tidak perlu khawatir.” Gadis itu menyela. “Orang yang baik bisa mati. Tapi kebaikannya tidak akan pernah mati—dan ada selalu bersamamu.”

Pria itu tersenyum tulus untuk pertama kalinya pada gadis pemilin itu. “Kau pandai berkata-kata,” pujinya jujur. “Andai aku sepertimu. Aku ingin meminta maaf padanya…”

“Pada orang yang kau tunggu?”

Pria itu mengangguk.

“Kalau begitu, aku datang mewakilinya memaafkanmu.” Kali ini, gadis itu menyodorkan tangannya pada pria itu.

Pria itu tidak membalas uluran tangannya dan justru menatap gadis itu tidak mengerti.

Gadis itu menarik tangan tidak terbalas, lalu kembali memasang senyum ceria. “Aku harus pergi sekarang,” ujarnya.

“Apa?” Pria itu kaget. “Kenapa tiba-tiba?”

“Setiap ada pertemuan selalu ada perpisahan bukan?” Gadis itu berkata di sela tawa. Senyumnya terlihat semakin lebar.

“Lalu, apa kita akan bertemu lagi?”

“Mungkin—,” ujarnya ringan seraya berbalik dengan gerakan cepat. Ia terlalu sembrono dengan berlari begitu saja, hingga menjatuhkan sesuatu.

Saat tubuh mungil itu hampir mencapai ujung lorong, tiba-tiba ia berbalik dan melambaikan tangan. “Sampai jumpa, Radhit!” teriaknya pada pria yang sedang memungut barang yang gadis itu jatuhkan.

Pria itu terkejut mendapati gadis berwajah asing itu mengetahui namanya. Seingatnya, sepanjang obrolan mereka, tidak ada satupun yang sempat memperkenalkan diri. Baik dirinya maupun gadis bermata hazel itu—oh tunggu! Pria itu baru menyadari kalau gadis pemilin itu menjatuhkan sebuah kartu identitas.

Ia balik kartu di tangan, dan matanya melotot lebar mendapati nama yang tercetak di sana: RENATA. Nama gadis yang ia tunggu. Bedanya, Renata-nya tidak seperti foto itu. Renatanya tidak memiliki mata hazel ataupun rambut ikal dan pirang. Berbeda dengan foto gadis yang menemuinya di malam keseratus satu ini.

“Siapa sebenarnya gadis itu?” Ia hanya bisa bertanya pada diri sendiri.

Fajar hampir menyingsing kala pria itu berjalan pelan menyusuri ubin putih sambil menata hati dan pikirannya. Ia tidak fokus, gundah gulana mengambil alih kendali tubuhnya. Pemuda itu bahkan tidak sadar,saat ia berpapasan dengan segerombolan perawat berseragam putih yang sedang membawa brankard.

Di sana, di atas brankard, terbujur seraut wajah cantik yang tidak lagi bernapas. Gadis bermata hazel dengan rambut pirang.

***

RENUNGAN SEPEREMPAT ABAD: SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!

Gyaaa…. nggak nyangka ya aku masih muda… *Heeehhhh*

Huhuhu… Nggak nyangka ih, tau-tau udah tanggal 28 Oktober lagi, udah sumpah pemuda lagi, dan yah… gue ultah lagi.

Nggak ngerti deh hari ini mau nulis apaan sebenarnya. Intinya sih, saya cuma ingin meninggalkan jejak di hari yang konon bersejarah ini, sekaligus ngelap debu dan sarang laba-laba di blog yang terbengkalai.

happy-birthday-gsb

Omong-omong, emang esensi ulang tahun apaan sih? Rasa-rasanya saya ingin berada di bakon rumah sambil memandang bintang-bintang malam, serta merenungkan semangat juang para pemuda di tahun 1928. Hari bersejarah yang secara kebetulan bertepatan dengan hari lahir saya. Tapi mohon dicatat, tahunnya berbeda ya, karena saya masih sangat muda. *Klang*

Sebenarnya saya hanya ingin menatap langit penuh bintang saat memikirkan apa yang akan saya lakukan di hari ulang tahun saya ini? Seraya merenungkan apa saja yang telah saya lakukan selama hidup, yang ternyata sudah seperempat abad ini? Dan bagaimana nasib impian-impian yang saya miliki?

Ah, sayangnya itu hanya khayalan. Saya belum punya rumah berbalkon, dan kostan saya pun hanya berlantai satu. Terlebih, ini siang hari dan hanya ada matahari bertengger di singasananya.

Jadilah saya hanya duduk di depan laptop berwarna putih andalan dengan stiker VIP BigBang yang menutupi merek yang terkadang suka diilangin huruf ‘S’ di belakangnya oleh segelintir orang usil. Tangan saya bergerak-gerak mengetikan huruf hingga menimbulkan sura gemerutuk dari tuts, yang menghasilkan tulisan penuh typo di layar berukuran sepuluh inchi.

Sekitar tiga hari lalu, saya iseng membuka-buka facebook saya pada tahun 2010 ke belakang. Saya bengong saat menyadari bahwa saya pernah alay, saudara-saudara! Astagah! Saya hanya bisa bengong membaca status demi status yang ahhh… saya bahkan lupa kenapa menuliskan hal-hal sealay dengan bahasa selebay itu! Perlahan, otak saya flashback, dan saya menyadari kalau saya sudah hidup cukup lama. Banyak hal berputar dalam kepala saya. Masa kecil saya, masa SD, SMP, hingga hampir menjadi pemuda SMA yang akhirnya insyaf dan menjadi gadis seutuhnya saat kuliah. Semua ternyata terlewati dalam dua puluh lima tahun alias seperempat abad, mameeen. Bukan waktu yang sebentar.

Lalu… kira-kira berapa sisa yang saya punya? Apakah masih ada seperempat abad lainnya? Ataukah tinggal beberapa tahun? Atau bahkan beberapa hari? Entahlah, hidup dan mati penuh misteri. Kalau mengingat hal semacam itu, rasa-rasanya jadi ingin sholat dan dzikir sepanjang hari. 😦

Dan kalau mengingat seperempat abad yang sudah saya lewati, rasa-rasanya saya semakin sedih. Saya belum melakukan banyak hal. Saya belum membahagiakan banyak orang. Dan jika saya tiba-tiba harus meninggalkan dunia ini, hal apa yang akan orang kenang dari diri saya? Uu-uh, makin merana.

Hingga detik ini, sebenarnya saya tidak tahu harus melakukan apa untuk merayakan ulang tahun saya—kecuali menuliskan curhatan ini. Selama ini, perasaan saya melewati peringatan hari lahir saya dengan biasa-biasa saja. Hmm… Hal lain yang muncul di pikiran saya, justru adalah fakta bahwa meski usia saya sudah bertambah, saya masih seperti ini adanya. Sholat saya tidak tambah rajin dan in time, bacaan saya tidak beranjak dari komik dan novel, dan sifat saya masih kebanyakan egois dan kekanak-kanakan.

Saya bahkan belum melakukan apa pun untuk orang tua saya. Saya belum jadi anak berbakti. Belum bisa membalas jasa orang tua, yang selama ini salalu melimpahi saya dengan cinta. Ah, durhakakah saya?

Saya pun pernah memutuskan untuk fokus menjadi penulis, tetapi setelah hidup seperempat abad ini, berapa karya yang sudah saya hasilkan? Efek semacam apa yang ditimbulkan dari tulisan saya? Aakkhhh… *Menangis di pojokan*

Dan hari ini, setelah beberapa hari kemarin tepar karena typoid untuk pertama kalinya (dan semoga terakhir kalinya), saya bersyukur masih bisa bernapas dengan normal. Saya bisa menikmati pagi yang cerah dengan merentangkan tangan tanpa rasa sakit ataupun penderitaan.

Saya ucapkan terima kasih, Tuhan, atas kesempatan hidup yang Engkau berikan padaku hari ini. Nikmat sehat dan nikmat hidup yang tidak jarang saya abaikan selama ini. Dalam seperempat abad hidup yang telah saya jalani, Engkau pun memberi saya kesempatan untuk bertemu banyak orang. Bahkan banyak hal dan banyak kejadian yang terjadi dalam hidup saya. Memberi kesempatan saya untuk terus belajar.

Kini, di hari sumpah pemuda—hari di mana para pemuda Indonesia berkumpul 86 enam tahun lalu—saya berharap mewarisi sedikit saja semangat mereka. Semangat sumpah pemuda untuk menjadi pemuda Indonesia yang akan terus belajar dan terus berkarya selama Tuhan masih memberi kesempatan bernapas.

sumpah pemuda

Sebagai sebuah kado dan penyemangat untuk diri saya saya sendiri, saya ingin mengucapkan SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA dan SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-17 untuk diri saya sendiri! 😀

Terima kasih atas ucapan dan doa dari teman, rekan, saudara, dan orang-orang terkasih saya. Semoga doa yang kalian berikan, terkabul. Dan semoga kebaikan juga melimpahi kalian semua…

Lomba Novel Bukune-Gagas Media [Winner]

Hari Selasa, tanggal 22 Oktober 2013… Aku Syokk!

Pas buka email, ada pesan dari Mbak Widyawati Oktavia-editor fiksi di Bukune, yang memberikan kabar kalau Angel’s Wings-ku masuk sebagai naskah terpilih dalam lomba novel Teen dan Young Adult Romance Bukune 2013.

Wah, so happy pake banget nggak sih?!!!

Secara, Maz Aveus Har-senior nulis Pekalongan yang pernah mengkritik cerpenku gila-gilaan, plus orang yang aku kagumi juga belum nerbitin buku di sana. Yang menurut Maz Ave, Gagas Media ini adalah target utama selain GPU sebagai tanda kemantapan karya di bidang fiksi.

cerita bermula dari aku yang ingin ikut lomba satu ini….  pamflet lombanya unyuu sihhh…hehe… XD

Gambar

Dan beberapa waktu berikutnya, saat penentuan 20 besar! Aku kembali kaget!

Gambar

Masuk 20 besar dari 1000 naskah itu sebuah prestasi besar bagi penulis pemula sepertiku!!!

Itu Ruaaaarrrrr biasa…. hehe…

Dan yah,,, next!

Email dari Mbak Widya benar-benar seperti cahaya di pagi hari… *lebay

Pokoknya bikin happy! Membayangkan bukuku yang berikutnya terbit di Bukune dengan caver mereka yang biasanya unyu plus keren itu!

Aih, aku udah loncat-loncat duluan pas bayangin…^^

Terlebih lagi, proses penjurian akhir itu dilakukan oleh tiga juri yang merupakan novelis, yaitu Kireina Enno, Orizuka,dan Windry Ramadhina! 

Dan You know what? Aku suka banget sama Orizuka gara-gara baca buku Miss J-nya dan Mbak Windry dengan Metropolisnya. Aku baru kenal Mbak Kireina Eno sih, belum baca bukunya juga, tapi Mbak Enno orangnya ramah banget pas aku sapa di twitter^^

Dan, penentu naskahku masuk sebagai naskah terpilih itu mereka! Itu sangat membanggakan…Setidaknya buatku. hehe…

Dan ini dia, daftar para pemenang :

JUARA I
Hadiah: Rp5.000.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
What Makes Your Heart Sing
IFNUR HIKMAH, DEPOK

JUARA II
Hadiah: Rp3.000.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
[Forget-Me-Not]
ALVITA RACHMA DEVI, SEMARANG

JUARA III
Hadiah: Rp1.500.000 + Galaxy Tab 2, kontrak penerbitan, paket buku & goodie bag
Rakata dan Ranjani
VILDA SINTADELA SUDISMAN, BANDUNG

10 Naskah Terpilih
Hadiah: kontrak penerbitan dan paket buku.

  1. One Time In Austria oleh Alberta Natasia Adji
  2. W.H.I.T.E.Y, Mencintaimu Sebanyak Cahaya oleh Tria Ayu Kusumawardhani
  3. Rhapsody in Britain oleh Alberta Natasia Adji
  4. Just You oleh Yunita Candra Sari
  5. Flying Fix, Ketika Cinta Butuh Keputusan oleh Andhika Citra H
  6. Janji Biru Laut oleh Mita Miranti Windayani
  7. Non Fiksi oleh Adelya Mahgda HMP
  8. Mencintaimu oleh Monica Octavia Anggen
  9. October oleh Resti Siti Nurlaila
  10. Angel’s Wings oleh Elisa Susiyanti

Emang sih, nggak masuk 3 besar! But still, ini adalah langkah awal dari perjalananku di dunia literasi. Yo! Semoga aku menjadi lebih semangat! ^^

Eh eh, ada catatan kecil dari para juri juga. Catatan mereka makin bikin Happy para peserta lomba pokoknya…

CATATAN KECIL JURI TAHAP AKHIR
“Senang sekali, lho, menjadi salah satu juri dalam Lomba Teen & Young Adult Romance yang diselenggarakan Bukune. Terlebih dua juri lainnya, Windry Ramadhina dan Orizuka, adalah penulis-penulis kesukaan saya. Wah!

Apalagi, seluruh naskah yang masuk nominasi dua puluh besar, harus saya akui, adalah naskah-naskah yang bagus dan berpotensi. Beberapa karya finalis bahkan membuat saya iri dan merasa harus belajar lagi.

Setelah satu bulan membaca semua naskah itu, mempertimbangkan berbagai faktor penilaian dengan saksama, akhirnya kami bertiga mendapatkan para pemenang. Masing-masing dari pilihan kami memang ada yang harus terpental dari tiga besar. Namun, setelah berdiskusi, dengan senang hati, kami sepakat untuk menetapkan tiga orang pemenang, dan 10 naskah terpilih.

Secara pribadi, saya merasa sangat puas dengan hasil keputusan kami bertiga. Saya juga bangga menjadi bagian dari lomba ini. Sungguh tidak mengira, bahwa di luar sana, banyak sekali bakat-bakat menulis yang mengagumkan.

Buat para pemenang, saya ucapkan selamat! Dan bagi para peserta yang belum terpilih, jangan berhenti berkarya dan putus asa, ya. Menulis adalah sebuah proses belajar serta mengasah keberanian berbagi ide, pengetahuan dan pemikiran. Menulis adalah bagian dari membangun peradaban. Semangat!” —Kireina Enno

“Selama menjadi juri di Lomba Menulis Novel Teen & Young Adult Romance Bukune ini, saya menemukan banyak naskah dengan tema menarik, berkesan dan potensial. Masing-masing naskah memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi pada akhirnya, naskah yang memenuhi kriteria lomba dengan penulisan paling matanglah yang terpilih. Saya ucapkan selamat bagi para pemenang. Bagi yang belum menang, saya harap perjuangan tidak berhenti di sini. Terus berkarya dan jangan patah semangat, tingkatkan semangat belajar agar bisa menjadi lebih baik lagi.” —Orizuka

“Sebuah lomba—dalam hal ini, lomba menulis novel—tidak semata-mata bertujuan menentukan karya yang paling baik, tetapi juga menemukan karya yang menawarkan hal baru, menginspirasi, dan memberikan warna lain ke dunia fiksi—terutama jika dunia fiksi kita sedang monoton. Saya rasa, itulah yang kami—para juri dan panitia—coba lakukan. Pemenang-pemenang yang kami pilih merupakan penulis-penulis yang–—semoga saja—akan membuat roman remaja dan roman dewasa muda kita lebih kaya. Karya-karya mereka tidak sempurna, tetapi menarik, masing-masing menyiapkan kejutan untuk pembaca dengan cara berbeda.” —Windry Ramadhina

BookNarcism – sebuah kisah kecil

  • Gambar

    ^^Aku dan buku pertamaku^^

Kalau mencoba memflasback-kan pikiran, rasanya barangkali pose foto di sebelah hanyalah mimpi belaka.

Pose bersama buku karya sendiri yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Penerbit besar dengan jaringan perdagangan Nasional. Wow!!!

Dengan terbit secara mayor, ribuan exemplar pula, buku  yang saya tulis di kota kecil Pekalongan ini, bisa di baca oleh orang Papua, Sumatera, Sulawesi, Bali, Batam, dan aneka daerah lain di Indonesia yg terpisahkan oleh luasnya lautan!

Senang? Pastilah! Bangga? Iya juga donk!

Siapa sih yang akan menyangka, gadis berasal dari pelosok Pekalongan-yang Internet aja nggak ada. Yang hingga detik ini saja signyal susah…  bisa nerbitin buku!

Selama ini saya banyak mendengar alasan untuk tidak menulis, adalah karena sarana. semacam nggak punya laptop. En soon! Yang segera ayo ramai-ramai kita bantah!

Kalau mau punya karya, punya buku, ya NULIS sekarang juga! Nggak ada yg lain lagi! Intinya kerja keras dan menulis!

Tulisan ini  saya buat bukan bermaksud untuk menyombongkan diri. Sama sekali bukan! Saya hanya berharap, jika kelak ada yang membacanya, maka semangat menulis yang kadang berlebihan ini bisa menular! Hehehe…

Saya pun pernah menyalahkan keadaan untuk berhenti menulis. Masih sangat jelas di benak saya, tatkala laptop saya hilang di akhir bulan September 2011. Tepat beberapa minggu sebelum saya diwisuda. Saya rasanya sangat tidak percaya! Masalah yang harus saya hadapi, selain kehilangan laptop dengan harga mahal, juga kehilangan karya saya yang ada di sana. Foto saya sejak SMA.

Tuhan, saat itu saya ingin protes!

Tapi pada akhirnya saya mulai move on! Saya memflashback pikiran saya kembali dan saya menyadari sesuatu!

Saat saya punya laptop, rupanya tidak benar-benar saya manfaatkan secara optimal! Kalau dibandingkan antara berapa lama saya menulis (mengejar impian saya) dan berapa lama nonton film atau main game, jawabannya membuat malu saya sendiri!

Tuhan, betapa saya….. *ah,sudahlah….

Setelah itu juga, saya mulai merintis novel pertama saya dengan tulisan tangan. Membuat sinopsis, nama-nama tokoh beserta sifatnya, membuat outline naskah bahkan hingga beberapa bab awal naskah novel itu.

Dan Subhanallah-nya… Beberapa bulan kemudian, saya mendapat kerja dan punya laptop sendiri. Tuhan memang tidak akan meninggalkan hambanya yang berusaha…

Walau sekarang saya masih tetap tergoda bersenang-senang menonton film, atau main game juga sih… Keplak kepala sendiri! Tetapi setidaknya, saya tetap menulis dan memaksakan diri untuk menulis! Harus! Wajib! Fardu A’in!

Kenapa? Karena saya ingin jadi penulis!

Gambar

Aku dan buku keduaku

Bismillah, semoga kedua buku saya ini bukanlah titik pencapaian akhir saya. Melainkan awal agar bisa berkarya lebih banyak lagi!

Bismillah!

Semangat!

Fighting!

Ganbatte!