Misi Pertama : SunMor Yogyakarta – Tentang Venus vs Mars

Sebagai perempuan, hal yang menyenangkan tentu saja belanja. Dalam hal ini, kurasa aku sangat perempuan. 😀 Jadilah setelah berkali-kali gagal ke pasar pagi UGM yang terkenal itu, pagi hari tanggal 12 Februari, aku memaksakan diri, harus dan wajib ke SunMor. Yep, ini kujadikan sebagai misi pertama dalam Tantangan 21 Hari melakukan hal baru. Sepertinya belum afdol jadi orang Jogja kalau belum ke SunMor. #alesan 😀

Aku dan sebut saja mamas Cancer, pergi ke SunMor agak siang. Sekitar pukul 10an. Kami ke sana dalam kondisi kelaparan, jadilah tujuan utama yang dicari adalah makanan untuk sarapan. Sarapan yang kesiangan. Kami memutuskan masuk ke warung bertenda merah, di antara deretan warung yang menghias SunMor saat itu. Aku memesan nasi kuning, dan mamas cancer memesan opor ayam. Kami makan lahap diselingi pengamen berbagai jenis, mulai dari banci hingga mahasiswa kuliahan.

Kami melewati penjual roti maryam yang antriannya panjang, saat aku bertanya kepada mamas cancer, “Apa yang kau pikirkan saat melihat ini semua?” Aku menunjuk SunMor dan keramaiannya.

“Biasa aja. Ribet.” Ia menjawab dengan cepat tanpa berpikir.

“Oh begitukah sunmor dalam benak lelaki?” batinku seraya tertawa. Hell yeah, mungkin wanita disebut makhluk venus, dan lelaki adalah mars, sebagai penanda perbedaan, benar adanya. Kami sangat berbeda.

Aku, pertama kali melihat SunMor, menyaksikan hamparan baju, tas, jilbab, aneka makeup, jajan, pernak-pernik, dan lainnya, langsung dibanjiri semangat. Rasa-rasanya ingin membeli semua yang ada kalau saja duit di dompet unlimited. Haha…

Namun pada akhirnya, kami tak mengelilingi setiap bagian SunMor. Hanya separuh yang kami jelajahi. Usai melihat jaket dan sepatu, aku iseng bertanya kepada mamas cancer. “Habis ini mau ke mana?” Kutanya.

“Terserah, aku nggak ada acara.” Ia membalas santai.

“Um, mau lanjut ke sana?” aku menunjuk bagian SunMor yang belum kami jelajahi. Dari belokan usai jembatan.

“Nggak.” Ia membalas dengan cepat lagi. Rupanya kata terserah yang tak berarti benar-benar terserah, tak hanya dimiliki makhluk dari venus. Kami pun segera menuju parkiran motor yang mencarinya butuh perjuangan sendiri, penuh di mana-mana.

Dalam perjalanan, kami memutuskan berbelok ke Togamas di daerah Kotabaru. Alasannya, di samping Togamas ada kedai minum, tepat di saat sedang kehausan. Walau pada akhirnya, kami justru menghabiskan lebih banyak waktu di dalam toko buku.

Aku asik di rak penuh novel, sedang mamas cancer sibuk di wilayah non fiksi. Aku sedang bingung hendak membeli seri kedua buku milik Eric Weiner atau Matahari milik Tere Liye yang sudah kubaca seri satu dan duanya, kala aku menyadari sudah memakan waktu yang cukup lama di sana.

Kuputuskan menghampiri mamas cancer yang masih di depan rak buku-buku komputer.

“Aku agak bingung nih,” kubilang. “Lama ya?”

“Nggak apa-apa kok lama kalau di sini. Aku lebih betah di sini dari pada SunMor.” ujarnya ringan, lalu kembali sibuk memilih bukunya.

Jadilah, hari itu kami berakhir dengan dua buah novel dan dua buah buku komputer. Begitulah, selera baca kami pun berbeda.

Advertisements